Proyek Buku Besar

Foggy FF
Chapter #12

Pilar Pendidikan Tak Sekokoh Akar Menjalar

Ruang dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Cakrawala Bangsa baunya begitu tiap pagi, bau karbol murah yang dioplos demi memenuhi standar efisiensi, aroma kertas skripsi berdebu, dan pendingin udara yang saringannya jarang dicuci. 

Pagi ini, udara ruang dosen tercium lebih sesak buat Rarajati Purbaningtyas. Mejanya yang dipenuhi tumpukan jurnal, buku-buku dan lembar kerja mahasiswa, tak lebih ruwet dari apa yang ada di kepalanya.

Persis di ujung ruangan, pintu terbuka sedikit.  Rarajati bisa mengintip ruangan itu, meja kayu jati yang baru saja dipelitur, membatasinya dengan seorang laki-laki muda berkemeja batik potongan pas badan, sedang duduk sambil menelepon. Usianya paling banter dua puluh tujuh tahun, sepuluh tahun lebih muda dari Rarajati. Namanya Arya. Dan pagi ini persis di mejanya, tersampir sebuah karangan bunga anggrek dengan jemawanya, menandai hari pertamanya menjabat sebagai Kepala Program Studi.

Rarajati meremas ujung kertas hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sudah mengabdi di kampus ini selama sekian lamanya. Ia yang menyusun silabus saat prodi bangkar nyaris ditutup, ia yang pontang-panting mendampingi mahasiswa lomba debat hingga tingkat nasional, dan ia pula yang menelan pil pahit menerima gaji honorer yang sering dirapel selama tiga bulan sekali.

Namun, di dunia akademik ini yang sepatutnya menjunjung tinggi nilai meritokrasi, dedikasi rupanya tidak bisa mengalahkan kuatnya jejaring kekerabatan. Semua orang tahu, Arya adalah ponakan kesayangan Rektor. Sebuah akar menjalar, yang dengan mudahnya mencekik pohon-pohon yang sudah susah payah tumbuh di sekitarnya.

Dengan satu tarikan napas panjang, Rarajati akhirnya memutuskan bangkit dari duduknya. Sebagai dosen paling senior berstatus paling rentan, ia tahu ia harus melakukan ritual basa-basi itu pagi ini. Langkahnya membelah ruangan kontras tak berimbang itu menuju meja Arya, ia menyunggingkan senyum yang sudah dilatihnya sepanjang malam tadi di depan cermin.

"Selamat, Pak Arya, atas amanah barunya sebagai Kaprodi," ucap Rarajati pelan, menjulurkan tangannya.

Arya yang sedang sibuk memutar-mutar kunci mobil di telunjuknya, mendongak. Ia membalas jabatan tangan Rarajati, sambil tetap duduk di kursinya. Terselip senyum yang mencoba terlihat rendah hati.

"Ah, terima kasih, Mbak Rara. Duduk dulu, Mbak," Arya menunjuk kursi kosong di depannya dengan dagu. "Ya begitulah, amanah dari rektorat buat yang muda-muda ini memang berat. Harus siap lari cepat nih Mbak, buat akreditasi."

Rarajati tetap berdiri. "Insyaallah, saya dan teman-teman dosen akan bantu support dari bawah, Pak."

Arya tertawa kecil. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Rarajati dengan sorot mata menilai yang membuat perut Rarajati mual.

"Pasti, Mbak. Saya sangat mengandalkan Mbak Rara yang sudah jadi sesepuh di prodi ini," ucap Arya bersimpati. "Mbak Rara ini kan sudah lama mengabdi. Tapi ya itu, Mbak... kadang memang ini soal kapasitas dan garis takdir. Walaupun Mbak Rara sudah mengajar lama, kan status pendidikan Mbak belum ada progres lagi, status dosen tetap juga belum turun. Institusi ini butuh wajah peremajaan, yang mungkin lebih lincah lobinya ke rektorat."

Rarajati menahan napas. Kalimat Arya meluncur mulus menghajar prinsip di kepalanya. Apa yang Arya bilang  barusan, sukses menelanjangi rasa tidak adil yang ia rasakan secara struktural—yang sejak lama membungkam ruang geraknya sebagai perempuan di kampus.

Arya belum selesai. Ia menyandarkan punggungnya ke kursinya, melipat tangan di depan dada. "Lagi pula, saya dengar-dengar Mbak Rara ini kan masih melajang, ya? Saran saya sebagai kolega, Mbak Rara jangan terlalu ngoyo urusan karier di kampus. Perempuan itu kodrat akhirnya kembali ke urusan domestik. Fokus saja cari pendamping hidup, perbaiki penampilan biar vibes-nya nggak terlalu kaku. Soal urusan prodi yang bikin pusing, biar saya yang muda dan laki-laki ini yang ambil alih. Mbak Rara cukup mengajar yang tenang saja, terima honor tiap bulan. Gitu kan lebih enak, ya?"

Lihat selengkapnya