Konon katanya, cara membunuh mental paling ampuh itu dengan cara menjalani rutinitas berulang, tanpa uang, banyak utang dan tak tahu jalan pulang. Bianglala menjalani itu semingguan ini, di usia yang masih sebegitu muda.
Lagi-lagi, ia berdiri mengutuk matahari Jakarta yang teramat terik siang ini. Tak cuma kepalanya yang dibikin puyeng, batinnya juga nyaris menyerah menghadapi lembar-lembar laporan yang harus diisi. Padahal waktu ngutang, ia cuma foto-foto sekilas, mengerjap-erjap tak sampai 5 menitan.
Kali ini yang menemani adalah Deanara, perempuan itu menemaninya melangkah keluar dari pekarangan gedung Lembaga Bantuan Hukum. Deru kendaraan jalan raya menyambut mereka, sambil mengumpat kemarau dalam batin masing-masing. Tak biasa memang, mendapati Deanara ambil cuti—sebuah keputusan impulsif, yang nyaris tak pernah dilakukannya selama bertahun-tahun sejak jadi staf Tata Usaha.
Dua pasang langkah kaki itu, akhirnya menemui bayangan angsana yang rindang di pertigaan jalan, Deanara tiba-tiba menarik lengan Bianglala, menunjuk sebuah gerobak mi ayam berpalang terpal biru.
“Makan dulu, yuk!” Ia mengedik dengan dagu.
Wangi kuah kaldu, sepoi angin di bawah pohon, dan canda sopir ojek online yang sedang mengaso, melatari warung tenda mi ayam yang tak terlalu ramai. Ragu-ragu, Bianglala mengekor.
"Bang, mi ayam komplit dua ya. Pakai bakso sama pangsit, teh botolnya dua," pesan Deanara sedikit impulsif, menarik kursi plastik dan duduk menghempaskan napas lelah.
Bianglala yang ikutan duduk di seberangnya sedikit melongo. Tangannya merogoh saku jaket, memastikan sisa uang di kantongnya. "Mbak Dea... aku bayar sendiri aja, ya? Uangku masih ada kok sisa kemarin dikasih Pak Haris."
Deanara berdecak, ia menggeleng. Sambil mengambil sepasang sumpit, mengusapnya dengan tisu, lantas menyodorkannya pada Bianglala. "Aku yang traktir. Kamu duduk, makan yang banyak. Kamu butuh tenaga buat ngadepin somasi ke pinjol-pinjol itu."
"Tapi, Mbak Dea kan lagi berhemat—"
"Kemarin ibuku nelepon lagi dari kampung," potong Deanara. Tatapannya melompong, mengamati kendaraan lewat berlalu-lalang. "Minta tambahan uang bulanan yang udah aku jatah. Katanya buat beliin baju baru sama mainannya Amel."
Bianglala beringsut canggung, tapi ia diam mendengarkan.
"Dan untuk pertama kalinya, La... aku bilang nggak ada," suara Deanara mengalun, ada senyum getir di dalamnya. Ia terdengar seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Semua tahu, kalau Deanara paling gampang merasa salah. Ia menatap lekat mata Bianglala. "Aku cuma transfer jatah bulanannya. Biar cukup pakai itu saja. Aku sadar, La. Aku kerja banting tulang pontang panting, pagi sampai malam, diomelin yayasan, kena asam lambung... aku juga butuh nikmatin rezekiku sendiri. Meskipun, ya rezekinya cuma semangkuk mi ayam komplit begini, dan cuti sehari dari Excel."
Deanara tersenyum. Ini pertama kali buat Biangalala, melihat seniornya itu terlihat lepas.
Tak lama, dua mangkuk mi ayam dengan asap wangi mengepul dan aroma kaldu gurih diletakkan di meja. Deanara langsung membubuhi mangkuknya dengan sambal, sementara Bianglala masih menatapnya.
"Mbak Dea..." panggil Bianglala hati-hati, sambil mengaduk minya pelan. "Amel itu... keponakan Mbak Dea yang waktu itu Mbak ceritain, ya?"
Gerakan tangan Deanara yang sedang mengaduk mi memelan. Ia mengangguk, ada bilur kelelahan bertahun-tahun di pudar matanya.
"Iya. Amel itu anak Mas-ku, kakak laki-lakiku satu-satunya," jawab Deanara. Ia menyuap minya perlahan, mengunyahnya sejenak sebelum kembali bercerita. "Dulu, ibunya Amel—Mbak iparku—pamit ke Jakarta, tapi ternyata nggak pernah pulang. Tahu-tahu ada kabar dia udah berangkat kerja ke Dubai, lewat penyalur TKI ilegal, tanpa ninggalin pesan apa-apa. Mas-ku stres berat, ujung-ujungnya dia ikut kabur juga, katanya nyusul kerja ke Bintan. Praktis, mereka berdua hilang ditelan bumi."
Bianglala terkesiap. Ia meletakkan sumpitnya, mendadak kehilangan selera membayangkan betapa beratnya beban yang jatuh ke pundak Deanara.
"Terus... Amel ditinggal sama Mbak Dea dan Ibu di kampung?"