Di atas karpet tipis tak seberapa empuk itu, raungan Bianglala pelan-pelan menyusut jadi isakan panjang melelahkan. Udara gerah di ruang tengah terasa memuai cepat, oleh rasa marah kolektif yang berbinar menyala di dada penghuni Rumah Kos Ibu Haji.
Ale masih menggenggam ponsel Bianglala yang layarnya sudah muram. Jemari berhias nail art itu menggeser-geser tangkas, ia tak punya lagi rasa panik dalam menghadapi ini, murni hanya geram. Ia masuk ke menu pengaturan, mencari daftar aplikasi, dan menemukan logo aplikasi pinjol laknat itu.
"La, lihat gue," ucap Ale sedikit keras. Bianglala mendongak perlahan dari bahu Deanara, matanya merah dan melompong. "Pinjol ini nyebar foto editan lo karena mereka punya akses ke galeri dan kontak. Sekarang, gue cabut semua izin aksesnya. Kontak, lokasi, galeri, sampai mikrofon, gue disable. Ini langkah pertama biar mereka nggak bisa narik data baru."
Bianglala cuma mengangguk lemah, nyaris tak bertenaga.
Pintu depan tiba-tiba terbuka. Rarajati melangkah masuk dengan raut wajah kelelahan pulang mengajar, tapi matanya langsung menangkap keganjilan di ruang tengah. Tanpa perlu banyak bertanya setelah melihat ponsel di tangan Ale dan wajah berantakan Bianglala, instingnya langsung mengambil alih. Ia meletakkan tasnya, lalu ikut duduk melingkar di atas karpet.
"Mereka mulai main kotor, Mbak," lapor Ale dengan tangkas, nada suaranya bergelombang oleh rasa geram. "Ngirim foto editan, tagging di Instagram, neror kontak-kontaknya si Lala."
Rarajati menarik napas panjang. Rahangnya berkedutan mengeras, ia berusaha tetap bersuara tenang. "Ndak apa-apa. Kalau mereka main kotor, kita main legal dan sistematis. Tadi di LBH, pengacaranya bilang apa, La?"
"K-katanya... perjanjiannya cacat hukum perdata..." cicit Bianglala.
"Betul. Tapi teror ini murni pidana," tukas Rarajati sambil memutar otak. Ia menatap ketiga perempuan di sekelilingnya. "Kita gerak paralel aja, yuk. Sementara LBH nyiapin somasi dan draf ke polisi, kita ndak boleh diam. Besok, aku temani kamu bikin aduan online ke Satgas OJK biar aplikasinya diblokir. Kita juga kirim aduan konten ilegal ke Kominfo."
"Terus soal teman-teman kampus dan dosen yang udah keburu lihat fotonya gimana, Mbak?" suara Deanara menyela, menyuarakan ketakutan terbesar Bianglala. "Nama baik Lala di kampus udah kadung rusak."
"Biar aku yang susun pesan broadcast-nya," sahut Deanara lagi, ia meralat pernyataan takutnya sebelumnya. Sambil mengambil ponselnya sendiri. "Kita bikin klarifikasi. Bahasanya harus formal, menyatakan kalau data Lala diretas oleh pinjol ilegal dan foto itu cuma rekayasa untuk pemerasan. Kita kirim ke dosen pembimbing dan teman-teman terdekat. Nggak perlu malu, La. Kamu korban di sini, bukan pelaku kejahatan."
Bianglala menatap wajah Ale, Deanara, dan Rarajati bergantian. Di ruang tengah gerah dan super sempit itu, ia melihat perubahan sekumpulan orang asing yang sempat saling menghakimi. Tapi ia juga melihat solidaritas rimpang, kalau kata Pak Haris dan Bang Oskar—akar-akar kecil yang merambat di bawah tanah, saling kait-mengait, menciptakan jaring penyangga yang bertahan ketika dicabut paksa oleh badai.
Bianglala menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengusapnya dan berusaha berpikir jernih. "Makasih... makasih banyak, Mbak Ale, Mbak Dea, Mbak Rara..."
"Satu hal lagi, La," potong Ale, menatap lurus ke mata mahasiswi itu. "Jangan pernah sekalipun lo mikir buat gali lubang tutup lubang ke aplikasi lain cuma buat nutup utang ini. Stop bayar. Biarin aja menggonggong kayak anjing. Paham?"
Bianglala mengangguk pelan.
***
Keesokan paginya di depan Jalan Pencucian, Bianglala berdiri di teras dengan ransel di punggung. Ia harus ke kampus untuk bimbingan skripsi, kewajiban yang nyaris ia lupa selama seminggu terakhir ini. Gundah gulana menggelayut di kepalanya kini, membayangkan tatapan orang-orang di kampus setelah teror cyber semalam.