Tanggal tiga puluh akhirnya datang juga bulan ini. Hari yang sudah diantisipasi oleh semua penghuni rumah kos Ibu Haji. Pagi itu, Jalan Pencucian sudah mulai sepi karena warga mulai beraktivitas seperti biasanya. Anak-anak sekolah, karyawan bekerja, dan ibu-ibu sibuk mencuci baju di kamar mandi masing-masing. Buat empat perempuan penghuni kos, tanggal tiga puluh kali ini memang agak menegangkan. Bahkan tinggal di rumah yang selama ini menaungi hidup mereka pun rasanya tak tenang.
Ada empat buah amplop tergeletak di meja kayu. Besarnya berbeda-beda, tapi ketebalannya nyaris sama.
Bianglala menggigit kuku jarinya, sambil menatap amplop-amplop itu.
“La, kenapa kita nggak transfer aja, ya?” gumam Ale, menatap ke arah yang sama. “Apa karena kita masih trauma ya, sama transfer-transfer?”
Bianglala menoleh, menatap wajah mantan karyawan bank itu dengan ekspresi bingung. Tak biasanya Ale meracau begitu.
“Kamu sendiri, kok tumben nggak transfer aja?” Kali ini, Rarajati yang alih bertanya pada Ale. Ia mengedikkan dagunya ke arah amplop.
Ale menggeleng, lalu kembali menatap amplop-amplop di meja.
Semua lamunan buyar ketika Deanara menepuk ujung meja dengan keras. Ia menatap satu-satu wajah para penghuni rumah kos, sambil memastikan kalau mereka berpikir sama kali ini.
“Kita ngumpulin uang tanggal tiga puluh ini, dalam bentuk tunai sebagai pernyataan sikap,” ungkapnya sedikit lantang, ia sedang meyakinkan dirinya sendiri. “Ini pernyataan kita sama Bu Haji, kalau uang di amplop ini nyata, ada wujudnya dan dicari dengan darah dan air mata.”
Ale menyeringai. “Puitis bener, Dea.”
Kembali, keempat pasang mata itu menatap amplop-amplop di meja, sambil menarik napas bersamaan.
Rarajati sudah menyisihkan sisa honor mengajarnya yang cairnya agak terlambat. Ale mencoba untuk ikhlas, merobek sisa tabungannya tanpa mengeluh demi menutup kekurangan Bianglala. Deanara menyisihkan jatah gajinya setelah memangkas anggaran yang biasa ia kirim berlebihan ke kampung. Dan Bianglala, dengan keringat dari shift malam di kedai kopi serta bantuan kecil yang dikumpulkan bersama, berhasil menggenapi bagian sewanya. Tak ada satu rupiah pun yang kurang.
Sekitar pukul sembilan pagi, suara gemerincing gelang keroncong terdengar dari pekarangan. Ibu Haji Atun melangkah masuk dengan gamis putih rendanya. Wajahnya selalu tenang, keibuan dan terawat. Aura kemapanan—khas ibu-ibu haji pemilik tanah Benhil. Dengan seikat kunci di tangan, Bu Haji Atun melenggang dan mengetuk pintu.
"Pagi, Neng Rara," sapa Bu Haji Atun, ia berdiri di ambang pintu sambil memindai muka para penghuni satu-satu. "Gimana? Hari ini udah tanggal tiga puluh. Sesuai omongan Ibu kemarin..."
Sebelum Bu Haji menyelesaikan kalimatnya, Rarajati melangkah mendekat dan menyodorkan empat amplop yang sudah mereka siapkan.
"Uang sewa kami berempat untuk bulan depan, Bu Haji," ucap Rarajati pelan, tenang, sambil senyum. "Lunas. Ndak kurang sepeser pun."
Bu Haji Atun tertegun sejenak. Alisnya yang diarsir rapi terangkat tinggi. Tangannya lekas bergerak refleks—mengambil amplop-amplop itu, ia menghitung tumpukan lembaran uang di dalamnya dengan jemari berhias cincin emas. Semua pas. Namun, rasa gengsi dan amarah sisa insiden gedoran pagar kemarin membuat rahang wanita paruh baya itu kembali mengeras.
"Uang sewa memang lunas, Neng," kilah Bu Haji Atun sambil memasukkan amplop ke dalam tasnya, matanya memicing menatap Rarajati, Ale, Deanara, dan Bianglala yang berdiri berjejer. "Tapi ketenangan rumah Ibu ini kan udah terlanjur kecoreng. Warga sekampung udah pada tahu ada ribut-ribut preman, ada anak kosan dilabrak di depan gang. Ibu ini orang beragama, Neng. Ibu nggak mau lingkungan kontrakan Ibu ketularan hawa perselingkuhan, utang, sama dosa-dosa lainnya. Ibu tetap berat kalau kalian—"
"Maaf motong, Ibu Haji," sebuah suara memotong dari arah pintu pagar.