Deru kereta komuter yang melintas di rel layang Stasiun Gondangdia menjadi latar malam itu. Tenda Kopi Bang Oskar tak pernah sepi. Di salah satu meja lipat yang agak menjorok ke sudut, Rarajati duduk berhadapan dengan Pak Haris. Bianglala adalah perantara pertemuan malam ini, ia malah asyik membantu Bang Oskar mengelap gelas di gerobak—memberi ruang mengobrol untuk dua pendidik beda generasi tersebut.
Rarajati merapatkan kardigan rajut dan gamisnya. Baru kali ini ia menginjakkan kaki di tempat nongkrong pinggir jalan semacam ini. Namun, aroma kopi tubruk dan teh melati yang menguar dari meja membuat perasaannya berangsur tenang.
Pak Haris meletakkan sebuah map plastik bening di atas meja, menggesernya pelan ke hadapan Rarajati. Di balik kacamatanya yang tebal, sorot mata dosen sosiologi itu memancarkan rasa hormat yang sudah lama tak Rarajati temui di lingkungan akademiknya sendiri.
"Saya ini dosen sosiologi perkotaan, Mbak Rara," buka Pak Haris dengan nada suaranya yang berat. Ia menyelipkan senyum di sana. "Tapi waktu Bianglala cerita soal Mbak Rara yang pasang badan buat anak-anak kos, saya jadi penasaran. Saya iseng cari nama Mbak di portal jurnal akademik."
Rarajati menahan napas. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Selama ini, jurnal-jurnalnya hanya menjadi syarat administrasi untuk kampusnya saja, tak pernah benar-benar diapresiasi, apalagi dibaca oleh kolega dan atasannya.
"Tulisan Mbak soal 'Sosiolinguistik Masyarakat Urban dan Marginalisasi Bahasa Kelas Bawah' itu brilian," puji Pak Haris sungguh-sungguh. "Pisau analisis Mbak sangat tajam. Sayang sekali kalau pemikiran secerdas itu cuma mandek di ruang prodi."
Rarajati tertegun. Ia menunduk menatap map bening itu. Di dalamnya terdapat draf proposal penelitian dengan kop universitas tempat Pak Haris mengajar.
"Saya baru saja dapat dana hibah penelitian dari sebuah lembaga riset independen, tentang ketimpangan sosial dan akses literasi masyarakat di Jakarta," lanjut Pak Haris. "Saya butuh mitra peneliti dan co-writer yang paham betul struktur bahasa dan etika masyarakat kelas menengah. Saya mau menawarkan proyek jurnal ilmiah dan penelitian ini ke Mbak Rara. Honornya mungkin nggak sebesar proyek pemerintah, tapi nama kita berdua akan ada di jurnal internasional."
Napas Rarajati tercekat. Mendengar tawaran itu, pertahanannya seketika oleng. Selama delapan tahun ia mengabdi di Universitas Cakrawala Bangsa, ia hanya dipandang sebagai "sesepuh yang masih honorer" atau sekadar "dosen jomblo akut". Baru beberapa hari lalu, Arya, sang Kaprodi muda titipan rektor, merendahkan posisinya sebagai dosen perempuan berusia matang. Dan justru malam ini, di bawah terpal tenda pinggir jalan, kapasitas intelektualnya malah diangkat dan diakui oleh seorang dosen yang hanya bermodal gitar lecet.
Mata Rarajati berkaca-kaca. Tangannya gemetar saat menyentuh map plastik itu. Ia buru-buru menunduk, meremas ujung khimarnya untuk menyembunyikan haru yang lolos dari tenggorokannya.
"Pak Haris..." suara Rarajati parau. "Saya... saya ndak tahu harus bilang apa. Selama ini saya merasa ilmu saya ndak apdet, saya cuma dosen konvensional."
"Ilmu itu nggak ada yang usang, Mbak, hanya kadang berkembang di gedung yang salah," Pak Haris tersenyum sambil mengangguk penuh empati. Ia menyesap kopi hitamnya sebelum menjatuhkan tawaran kedua yang jauh lebih mengejutkan.