Proyek Buku Besar

Foggy FF
Chapter #17

Ibu Haji Atun yang Santun

Suara berkeletuk, terdengar dari ruang tengah sedari subuh tadi. Jemari Bianglala sedang mengetik, terdengar sampai teras. Gadis itu duduk bersila di atas karpet, kacamatanya yang tak seberapa tebal melorot di hidung. Mata itu tak lepas dari layar laptop—yang pinggirnya banyak ditempeli selotip.

Minggu ini, Bianglala meminta libur shift malam di kedai kopi tempatnya bekerja demi mengebut bab empat skripsi. Itu kenapa, sejak siang tadi perutnya bernyanyi kelaparan.

Tepat ketika Bianglala nyaris menyerah dan berniat merebus mi instan terakhirnya, terdengar suara ketukan di pintu depan.

"Biar aku yang buka, La! Tanggung itu ketikannya," seru Deanara yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit rambut basahnya.

Deanara membuka pintu dan mendapati Ibu Haji Atun berdiri di teras. Penampilan sang induk semang sore ini, sama sekali tak arogan. Ia mengenakan daster batik rumahan yang rapi, dengan senyum tulus tersungging di bibirnya. Di tangannya, bertumpuk empat buah kardus katering beraroma wangi daun pisang dan bumbu rempah.

"Eh, Ibu Haji. Ada apa, Bu?" sapa Deanara, kaget.

"Ini, Neng Dea. Ibu mau antar berkat," ucap Ibu Haji Atun, menyodorkan tumpukan kardus itu dengan hati-hati. "Si bungsu, adiknya Randi, alhamdulillah baru aja kelar disunat tadi pagi. Syukuran kecil-kecilan aja sama keluarga. Ini Ibu lebihin khusus buat Neng Dea, Neng Rara, Neng Ale, sama Neng Lala. Dimakan ya, lauknya komplit itu ada ayam bekakak sama sambal goreng ati."

Deanara menerima kardus-kardus itu dengan mata berbinar. "Masyaallah, alhamdulillah. Makasih banyak lho, Bu Haji. Semoga adiknya Randi lekas sembuh dan jadi anak saleh ya, Bu."

"Amin, amin. Yaudah, Ibu pamit dulu ya, masih banyak cucian piring di belakang," Ibu Haji Atun tersenyum hangat, mengangguk santun sebelum berbalik pergi. Tidak ada bibirnya melempar sindir nyinyir, tidak ada juga permintaan yang merendahkan penghuni di sana. Hanya ada Ibu Haji Atun yang santun, seorang tetangga yang berkirim berkat karena ia sedang merayakan hari bahagianya.

Begitu pintu ditutup, dari arah luar terdengar deru motor matik yang sudah akrab di telinga warga. Ale masuk dengan langkah gontai, jaketnya disampirkan sembarangan di bahu, wajahnya tertekuk lelah. Namun, hidungnya yang tajam langsung menangkap aroma kardus yang sedang dibawa Deanara ke meja makan.

Lihat selengkapnya