Proyek Superkuasa Part 2

Bima Kagumi
Chapter #5

Guild Happy Fun

Jiro melihat sebuah gapura dengan hati tidak puas. Gapura tersebut dibentuk dari batangan-batangan sejenis logam yang transparan kehijauan di sisi kiri dan kananyan yang diperkuat tali-tali putih. Di bagian atas yang menyatukan dua logam itu terdapat selembar cahaya bertuliskan “Tensoryu Luman In Fisah-is Darvan” dengan tulisan yang besar lalu di bawahnya terdapat pula tulisan lebih kecil “Selamat Datang di Desa Darvan”.

“Baiklah aku menyerah. Sepertinya di sini memang serba instan.”

Ingatan Fikar tidak memberinya informasi dari luar kerajaan. Fikar tidak pernah melihat isi hutan yang sesungguhnya. Meskipun dia cukup sering bepergian ke Taranhein, dia tidak diberi kesempatan untuk melihat apa yang ada dalam hutan karena alat transportasi yang dinaikinya terlalu cepat. Semua hal tentang dunia di luar kerajaan hanyalah dokrin-dokrin dari orang tua dan gurunya.

Jiro berpikir kehidupan selain di dalam kerajaan akan lebih sulit. Dokrin-dokrin dalam pikiran Fikar mengatakan bahwa hutan adalah tempatnya makhluk-makhluk magis yang membahayakan. Sebuah desa akan sangat kesulitan untuk bertahan ditambah mereka tidak sama sekali diterima di kerajaan manapun. Tiga Pencuri misalnya, mereka harus melakukan hal kotor untuk bertahan hidup. Jadi, Jiro tidak berpikir alat transportasi yang sama dengan yang ada di kerajaan akan dibangun di desa ini. Biaya perawatannya terlalu mahal untuk sebuah desa.

Sekarang Jiro berpikir, “Apa mereka ini dipaksa mencari uang? Ah …, aku tidak berpikir ke sana. Biaya hidup di sini pasti sangat mahal.” Jiro menyesali keputusannya berlibur ke tempat ini.

“Berapa biaya penginapan di sini?” tanya Jiro pada Bos di sampingnya.

Meski Kadar tahu Jiro hanya membersihkan masalah yang dibuatnya sendiri, dia tetap memiliki rasa terima kasih atas kejadian sebelumnya. Jiro telah memberikan sebuah jaminan yang sangat berharga. “Maaf, ini semua salahku. Kalau kalian, terutama untuk kalian yang tidak mau kemari, kalian bisa panggil namaku Jiro Kawanaga kalau orang-orang dari kerajaan itu balik lagi. Satu kali, ingat hanya satu kali.”

Aktivitas Garhan Ourgan bagaimanapun tidak diakui legal oleh pemerintahan mana pun sehingga aktivitasnya lama kelamaan pasti terunggap juga. Mereka tentu saja memiliki rencana untuk mengatasi hal ini tanpa mengambil jaminan dari Jiro. “Jika orang ini mengungguli kita berarti dia bisa saja setara atau bahkan melebihi para Alpha milik kerajaan.” Bos menjadi lebih tenang karena Jiro memberikan kesempatan kedua di masa depan.

“Ya, mungkin untuk beberapa hari,” jawab Jiro.

“Biaya penginapan di sini yang murah sekitar 9.800 duit untuk tiga hari.”

Mendengar harga yang harus dibayarkan, Jiro hampir kehilangan kata-katanya. “Di sana 700-800 kau bisa tidur di hotel dengan pelayanan yang baik. Kukira di sini hanya dua atau tiga kali lipat lebih mahal.” Sambil memegangi kening, dia menghela napas menenangkan dirinya. “Aku salah kemari. Tapi, ini sudah terlanjur juga.”

“Ya, pelan-pelan dulu. Biaya hidup di sini memang mahal. Jika kau ingin tinggal di sini sebaiknya cepat-cepat adaptasi atau bolak-balik saja antara kerajaan dan desa ini atau yang lainnya. Dengan begitu, kau tidak perlu tidur di sini dan hanya mencari uang di sini untuk makan di kerajaan.”

Sambil berjalan melewati gapura memasuki desa, Bos memberikan sarannya ragu-ragu. Lalu bawahannya, Cikal, yang sebelumnya terbunuh memberikan pendapatnya juga. Wajahnya ditutupi gambar sama seperti bosnya. “Ada cabang perserikatan Happy Fun beberapa blok dari sini. Mereka membayar untuk setiap permintaan yang diselesaikan. Aku tidak menyarankan penginapan di dekat sini kerena sewa alat transportasi lebih mahal. Kalau ingin cari uang di sana.”

Satu bawahan Kadar yang lain setuju dengan kalimat Cikal. “Ya, cari uang di sana sangat mudah. Bagi kami mungkin sulit tapi, untuk kau pasti sangat mudah.”

Saat itu Jiro tidak memerhatikan. Farrel meliriknya karena dia tahu dia tidak mendapat perhatian dari lawan bicaranya. “Untuk uang itu Bos?” pandanganya lalu beralih ke Bos di samping Jiro mengangkat topik yang lain. Dia ingin uang yang dirampas Jiro kembali tetapi, Kadar berniat lain. Karena rasa terimakasihnya Kadar menghapus alasan untuk mengambil kembali uang tersebut.

“Uang itu kau simpan saja, Jiro.”

“Dengan senang hati,” kata Jiro. Sejak uang itu di tangannya, dia enggan untuk melepasnya. Dari awal, Jiro memang berniat mencari uang.

Jiro melihat ke arah samping sedikit mengagumi pemandangan. Matanya tidak bisa abai dari pemandangan yang mengapit jalan tersebut. Gapura itu sangat jelas difungsikan sebagai titik persimpangan alat transportasi. Desa terlihat cukup berniat untuk menyambut siapa saja yang akan datang berkunjung. Gapura berada dalam satu garis jalan dan lapang luas di sisi kiri dan kanannya cukup untuk menampung banyak orang. Di seberang gapura, rumah-rumah penduduk termasuk juga penginapan atau bangunan lainnya berderet padat. Bangunan itu seolah sudah diatur sehingga tidak mengambil lahan luas di depannya. Sebuah lahan luas yang memang sengaja ditanami tanaman pendek penghasilan utama desa tersebut. Lahan luas yang menyajikan pemandangan bagus langsung berbatasan dengan hutan, lembah, dan pegunungan. Satu garis jalan tersebut juga membelah bangunan-bangunan di desa cukup jauh. Semua orang yang datang sangat meresa disambut. Jalanan ditutupi bata-bata yang sama dengan ada di kerajaan seolah mengantarkan mengunjung.

Cikal dengan taring di jarinya berkata, “Lurus dari sini kau bisa melihat Arena. Kau bisa dapat uang dari sana cukup besar tapi jarang, lupakan saja itu bukan tujuan kita. Beberapa blok bangunan dari pertigaan di sana. Kanan, kiri, dan kanan lagi, kau bisa melihat cabang Perserikatan Happy Fun.”

“Arena? Desa ini cukup besar juga.” Saat Jiro melihat lebih banyak kepalanya mulai terisi dengan pertanyaan.

“Ya, sebenarnya desa ini cukup besar untuk disebut kota atau mungkin tepatnya disebut kota kecil. Dan, Desa Darvan ini juga tidak di pimpin kepala desa tetapi, ketua guild.” jawaban Bos untuk Jiro yang bertanya-tanya.

“Jadi, dia penguasa desa ini ya.”

“Ya, Ketua sponsor Garhan Ourgan.”

Ketua guild sangat berantusias untuk menyambut para pengunjung dari luar desa. Dia menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Para penduduk di sana pun sangat mendukung keinginan ketua guild tersebut. Sepanjang jalan orang-orang di sana menunjukan keramahannya.

Jika dipandang sekilas ini tidak berbeda dengan pemandangan perumahan yang ada di kerajaan. Kebersihan lingkungan sangat terjaga, tidak ada bangunan yang melebihi 6 lantai. Keadaan desa jauh dari kata “sulit” yang dipikir Jiro. Namun, Tiga Pemandu yang menemani Jiro dan Elvriesh di sana berpandangan lain. “Tidak, percepat jalanmu, balas seadanya saja. Mereka hanya mempromosikan barang jasa. Cara dagang mereka memang begitu. Basa-basi awalnya nanti lama-lama dia promosi entah nyambung atau tidak.”

“Begitu kah? Jadi, jangan banyak basa-basi?”

Melanjutkan langkahnya, tiga pemandu tersebut menarik Jiro agar jalannya lebih cepat bukan karena mereka ingin segera menyelesaikan permintaan Jiro sebelumnya, tetapi karena mereka ingin memberikan pengalaman yang lebih baik padanya. Para pencuri itu tidak melupakan apa yang membuat mereka kembali ke desanya. Meskipun begitu, mata Jiro cukup teliti dan dia tidak kehilangan apa-apa. Orang-orang yang ramah padanya juga tidak mengejarnya.

Setelah Jiro dipaksa jalan buru-buru dan sering dialihkan, matanya pada akhirnya tertarik juga ke satu arah. “Sebentar, barang dan jasa apa yang mereka tawarkan? Sepanjang jalan tadi …, kebanyakan perumahan. Tapi kalau yang ini jelas ada tulisannya. Bapak ini penempa.”

Bos seolah ingin mengesampingkan semuanya dan menunjukan sesuatu yang lebih baik daripada yang terpampang sekarang. Jiro berhenti saat melihat pedang dengan bentuk yang unik dipajang seperti perhiasan. Ini jelas berbeda dengan pemandangan yang ada di kerajaan. Para penempa yang ada di kerajaan tidak sama sekali memajang pedang atau bahkan pisau dapur. Mereka menempa perhiasan seperti cincin, gelang, dan kalung.

Bos dan dua bawahannya kesulitan menjelaskan. Mereka berpikir keras. Mulutnya termangap-mangap tidak ada kata yang jelas keluar. “Oh, apa yang dipikirkan ketua. Dia masih 15 tahun.” Namun, satu ide akhirnya muncul. “Mereka-mereka yang tadi itu pemijat,” kata Farrel.

“Ya, ada yang pemijat, ada yang jasanya memperbaiki laptra.

“Ada penginapan juga, kan.”

Satu dari kalimat tersebut keluar dari wajah yang ragu.

“Ada banyak penginapan sepertinya. Aku tidak tahu kenapa kalian tidak mau merekomendasikan penginapan di sekitar sini? Aku kan cari penginapan?” Jiro malah bingung. Kebanyak yang dia lihat sebelumnya adalah rumah-rumah penduduk bukan toko, rumah khusus atau yang tertulis “rumah sehat” seperti yang ada di kerajaan.

“Kita menyarankan penginapan di dekat cabang Guild,” kata Farrel.

Bos menambahkan, “Meski terlihat damai-damai saja, sebenernya desa ini punya banyak permasalahan. Jika itu kau mungkin permasalah itu mudah untuk diatasi.”

 “Tak apa. Aku tahu niat kalian sejak awal.” Jiro mangangguk lalu dia kembali pada Bapak Penempa. “Tapi, aku tak sehebat yang kalian kira. Sudahlah jangan terlalu berharap.” Jiro mengalihkan topik. “Aku tidak melihat senjata seperti ini di kerajaan. Apa gunanya pedang-pedang ini? Kita semua bisa membuat tebasan tanpa perlu repot buat pedangnya dulu.”

Bapak Penempa yang sedari tadi menunggu akhirnya mendapat dialognya juga. “Anda dari kerajaan kah dan sepertinya baru pertama kali berkunjung ke sini. Itu artinya Anda diundang? Tamu istimewa? Sebuah kehormatan bisa melayani Anda.”

“Semua pedagang menganggap istimewa pelanggannya.”

“Sudah berapa lama Anda berlatih menjadi ahli sihir?” Si penempa bertanya sambil mengeluarkan salah satu pedang dari sarungnya. Ada banyak pedang yang memang dipajang memperlihatkan bilahnya tetapi, penempa itu menarik pedang di tempat yang benar-benar berbeda.

“Tidak, aku bukan ahli sihir. Aku buru saja lulus dari sekolah.” Tidak, itu hanya pengalaman yang didapatnya dari ingatan Fikar.

Si penempa cukup terkejut tetapi, tiga pencuri lebih terkejut. Mereka mengira Jiro bukan dari kerajaan dan berlatih sangat keras di luar kerajaan. Inilah alasan mereka sangat menghargai kekuatan. Harga untuk memperoleh kekuatan sangat tinggi. Mereka akan menyerahkan apa saja kepada orang yang mengalahkan mereka karena orang kuat pantas mendapat apa yang diinginkannya. Namun, sumber daya di kerajaan tidak akan mencukupi kebutuhan latihan sampai sekuat Jiro. Itu yang mereka pahami.

“Kau belajar di sekolah?”

“Bagaimana bisa?”

Kadar dan Cikal menganggapnya tidak serius. Farrel pun demikian dan hanya tertawa. Faktanya memang begitu Jiro belajar di sekolah melalui ingatan Fikar. Namun, potongan fakta lain berkata lain. Kemampuan Jiro yang sebenarnya sama sekali tidak diajarkan di sekolah.

Ketiga pencuri itu pun tahu walaupun sekolah mengajarkan dasarnya tetapi, sekolah hanyalah kotak kecil di wilayah kerajaan. Sedangkan luas hutan 100 kali lebih luas dari gabungan semua wilayah kerajaan di Benua Artah ini. Makhluk-makhluk yang mengancam kehidupan atau kelangsungan hidup banyak orang berkumpul di hutan. Ada banyak tempat-tempat yang bahkan masih belum tersentuh orang-orang penghuni kerajaan. Maka sangat wajar, ada banyak orang yang terobsesi menjadi lebih kuat apa lagi orang dari luar kerajaan.

Jiro tidak menanggapi Tiga Pencuri itu. Fokusnya sekarang lebih pada pedang yang diperlihatkan oleh si Penempa. Jiro juga memiliki kecenderungan untuk menjadi lebih kuat sama seperti dirinya yang dulu.

Mata si penempa sebenarnya hanya pura-pura terkejut untuk kepentingan bisnisnya. Dia cukup tahu pedang mana yang nyaman untuk pemula. Dia tahu dari percakapan awal. Dia juga tahu Jiro memang kuat tetapi, dalam pandangannya Jiro tetap termasuk pemula.

Pedang yang ditawarkan si penempa tidak terlalu bagus tetapi, memang sangat cocok untuk Jiro. Si penempa juga sengaja memilih pedang itu agar Jiro melihat pedang yang lain yang terlihat jauh lebih bagus. Pedang yang ditawarkannya hanya bermata keperakan dan di bagian tengahnya terdapat lapisan hijau transparan. Sedang yang terpajang di dinding dan etalase lebih banyak pola entah itu pola hewan atau abstrak pada mata pedang atau bagian tumpulnya.

“Tergantung ketelitian pemakainya pedang ini dapat membantu menguragi pemakaian mana tetapi, bisa menghasilkan lebih atau sama banyak tebasan seperti sebelum memakai pedang ini.” Si penempa mengangkat pedangnya lalu membawa mata Jiro dari bawah ke atas lewat gerakan matanya. “Katlium di tengahnya dapat membuat Anda merasa terbiasa dengan akas. Karena memang akas sebagian besarnya terbuat dari katlium.” Setelah mengangkatnya ke posisi berdiri dia menyampingkan pedang itu dengan hati-hati. “Pemilihan katlium juga bertujuan untuk membuat pedang ini bertahan cukup lama. Ketika bilahnya retak katlium bisa memperbaiki bagian yang retak seiring lamanya Anda memakai pedang ini. Silahkan dilihat lebih dekat.”

“Boleh?” nadanya tidak seperti pertanyaan. 

Jiro menerima tawaran Penempa. Namun, tujuan Jiro menghampiri toko perhiasan ini bukan untuk membeli, hanya melihat-lihat.

“Untukmu Jiro, pedang sekelas apapun pasti cocok. Pedang hanya alat untuk menyingkat fonem titah dalam lingkaran sihir.” Farrel memandang Jiro sebagai orang yang lebih kuat darinya. Melihatnya berpura-pura lemah sangat mengganggunya tetapi, dia tidak bisa berbuat banyak.

Bos dan Cikal setuju. “Ya, tapi senjata memang bukan pilihan buruk di medan tempur. Bagaimana kalau tombak yang itu? Di tingkatanmu mungkin tidak perlu lagi memungsingkan lingkaran sihir.” Cikal menunjuk sebuah tombak hitam berpola ungu sambaran petir dengan ujungnya yang tembus pandang keperakan. Bentuknya dibentuk banyak lekukan dan sudut tajam yang tampaknya tidak begitu nyaman untuk dipegang.

“Berapa harganya?” Jiro lagi-lagi mengabaikan para pencuri itu.

“Hanya 50 ribu,” balasnya.

Jiro sudah tahu kebutuhan hidup di sini sangat tinggi. Dia tidak terlalu kaget mendengarnya. Dan, dia juga sudah tahu harga senjata jelas mahal. Dia tetap bertanya bukan untuk membeli tetapi hanya basa-basi.

“Uangku tidak cukup untuk harga setinggi ini. Tapi, apa aku bisa menukarnya dengan barang yang lain?” Jiro ingin menawar harga tersebut tetapi, dia tidak punya uang jadi ia menawar dengan harga barang yang lain yang mana Elvriesh bisa membuatkannya.

“Maaf, saya sangat kurang untuk menilai barang. Saya tidak bisa menerima pertukaran barang takutnya malah Anda yang akan merugi.”

“Sayang sekali, aku ingin pedang ini. Mungkin aku bisa kembali lagi lain kali.” Sambil bicara seperti itu dia mengembalikan pedang yang dipegangya. Jiro tidak menyesal dan itu juga tidak terlalu terlihat pada wajahnya.

Penempa itu menerima kembali pedang tempaannya lalu, “Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk mampir.”

Jiro pergi bahkan sebelum kalimat penempa itu selesai. Setelah agak jauh dan selama waktu itu, Jiro berjalan benar-benar mengabaikan semuanya, semua orang yang menyapanya termasuk tiga pencuri yang merasa ada yang salah dengan dirinya. Jiro belajar memahami Elvriesh. Dia tidak ingin penempa lain menyapanya sehingga mengubah perspektif Elvriesh. Di samping itu, dia juga tidak ingin daftar keinginannya bertambah atau hanya malas menulis sesuatu yang tidak diketahui. “El, analisa semua barang jualannya penempa barusan dan buat tiruannya.”

Oui, Master. Elvriesh telah menganalisa semua dan keseluruhan senjata yang disimpan individu Bahari Abdi alias Tira. Terhitung jumlah total senjata adalah 651 terdiri dari 3 jenis senjata yang masing-masingnya diberikan sebuah nama berjumlah 15 nama pedang, 3 nama tombak, dan 2 nama busur,” kata Elvriesh tetap bersikap kaku datar seperti biasanya. Lalu, ratusan senjata terbentuk dan dikumpulkan rapat-rapat di sekitarnya memanjang sampai ke belakang.

Elvriesh meneruskan, “Ini adalah sebuah mahakarya dari tangan-tangan terampil berbakat yang telah dikumpulkan individu Bahari Abdi. Setiap bahan yang digunakan mewakili setiap keindahan yang ada di dunia ini. Setiap nuansa warna, setiap detail yang terlihat begitu halus, menyatu menjadi satu kesatuan yang sempurna. Ini adalah bukti nyata betapa indahnya potensi yang tak terbatas dari kreativitas manusia. Suatu kehormatan memiliki karya-karya yang begitu mengagumkan ini. Dan, sesungguhnya Elvriesh telah mengabdikan segala sesuatu yang menjadi kepemilikan Elvriesh termasuk keseluruhan segala sesuatu yang akan menjadi milik Elvriesh dari masa lalu, kini, dan masa mendatang atas izin Anda, Master.”

Jiro merasa terganggu dipertengahan saat Elvriesh bicara dengan nadanya yang monoton. Tiga pencuri juga mulai merasa aneh dan bertanya-tanya pada Jiro, “Mengapa dia bicara seperti itu?” Namun, Jiro tidak menghentikan Elvriesh seperti yang dilakukannya saat meminta divemeter. Sebaliknya, dia sudah mencabut perintahnya mengenai cara Elvriesh bicara. Sang Malaikat akan memuji siapa saja yang berbuat baik atau buruk, benar atau salah.

Jiro terus berjalan mengikuti Kadar ke depan. Posisinya ada di paling depan. Kadar dan dua bawahannya di belakan Jiro. Sedangkan Elvriesh dibiarkan mengoceh dengan segudang senjata yang mengikutinya di paling belakang. Semua orang yang melihat ini bertanya-tanya tetapi tidak ada yang berani bicara. Atmosfer terbentuk seperti mengancam, tetapi tidak ada permusuhan. Hal ini membuat risih setiap orang yang berlalu-lalang di sana.

Elvriesh setelah myelesaikan satu dua paragrafnya itu langsung mengambil beberapa senjata dan mulai memperkenalkan senjata-senjata tersebut yang tentu atas kehendak Jiro. “Senjata ini adalah pedang yang diberikan nama Hu Paas, yang berarti hasrat, oleh penempanya dengan nama alias Iiest. Elvriesh telah membuat tiruan Hu Paas sesuai jumlah tepat yang dimiliki penempa Tira alias Bahari Abdi dalam koleksinya, yaitu berjumlah 7 bilah. Pada gagang pedang ini terdapat kumpulan perintah yang mengatur tanah. Selama tanah dipijak individu yang menggunakan pedang ini tidak akan kehabisan energi sihir. Ini adalah buah pemikiran dari penempa Iiest. Terpuji penempa Iiest alias Iiest Jingwiji Bairi putri Gie Jingwiji Bairi terhormat yang telah memberikan usaha yang tak ternilai bagi Anda, Master.”

Pedang itu membulat diujungnya tidak dibuat untuk menusuk tetapi, masih sangat tajam. Bilah pedangnya berwarna hitam kemerahan atau merah gelap sedang sisi tajamnya merah terang. Seperti yang dijelaskan Elvriesh, pedang itu memiliki fungsi kendali atas tanah dan mengatur tanah agar dapat diubah menjadi energi sihir untuk penggunanya.

Jiro memberikan isyarat, “Lanjut.”

Elvriesh menyampingkan pedang yang diberi nama Hu Paas itu ke tempat yang berbeda lalu mengambil senjata lain dan melanjutkan. “Senjata ini adalah pedang yang diberikan nama Bu Lled, yang berarti jarum, oleh penempanya dengan nama alias Aria. Elvriesh telah membuat tiruan Bu Lled sesuai jumlah tepat yang dimiliki penempa Tira alias Bahari Abdi dalam koleksinya, yaitu berjumlah 15 bilah. Pada gagang pedang ini terdapat kumpulan perintah yang mengatur gas. Setiap lawan yang berhadapan dengan pengguna pedang ini, napasnya akan terpotong. Ini adalah buah pemikiran dari penempa Aria. Terpuji penempa Aria alias Aljel Hu Garad Putra Hu Garad terhormat yang telah memberikan usaha yang tak ternilai bagi Anda, Master.”

Kalimat Elvriesh terdengar oleh semua orang selama ketiganya berjalan. Cikal menimpa suara Elvriesh. “Kalau aku ketemu pengguna pedang ini akan susah lawannya lebih baik kabur. Pedang itu benar-benar menyingkat lingkaran sihirnya sehingga kamu tidak akan sadar udara sudah tidak ada disekelilingmu. Tapi, berbeda jika kamu punya pedang itu juga.”

Cikal merasa terganggu dari cara Elvriesh membawa senjata begitu juga dengan orang-orang di sekitar. Cikal khawatir para penjaga akan mendatanginya dan mereka pasti membawa senjata yang sejenis Bu Lled. Namun, dia malah bicara seperti itu karena dia tidak berani menegur Jiro.

“Iya, harganya murah semua orang memilikinya, tapi karena murah dan semua orang memilikinya. Seseorang mungkin berpikir untuk tidak membawa pedang itu dan lebih memilih untuk mempelajari lingkaran sihirnya,” kata Farrel.

“Itu tidak terlalu berguna?” Jiro mengeluarkan kalimat tanya tetapi sepertinya tiga orang itu tidak mendengarnya demikian.

“Ya, tidak berguna untukmu,” balas Cikal. “Namun, untuk orang yang ingin menghemat ruang, pedang itu sering kali tidak di bawa. Jadi, aku sedikit kewalahan untuk menghadapinya karena aku harus bernapas dengan sihir.”

Saat percakapan tersebut Jiro tidak berhenti memberi isyarat. Dia menyampingkan pedang yang bentuknya seperti jarum itu, lalu mengambil senjata lain dan melanjutkan. “Senjata ini adalah pedang yang diberikan nama Kembang Bara, yang berarti bara api yang menyebar, oleh penempanya dengan nama alias Tira. Elvriesh telah membuat tiruan Kembang Bara sesuai jumlah tepat yang dimiliki penempa Tira alias Bahari Abdi dalam koleksinya, yaitu berjumlah 12 bilah. Pada gagang pedang ini terdapat kumpulan perintah yang mengatur logam. Pedang ini sepenuhnya terbuat dari logam yang berasal dari bintang yang mati. Ini adalah buah pemikiran dari penempa Tira. Terpuji penempa Tira alias Bahari Abdi putra Tira Amara terhormat yang telah memberikan usaha yang tak ternilai bagi Anda, Master.”

Jiro menghentikan langkahnya tepat di pertigaan sebelum mereka berbelok. Hanya empat dari mereka yang berhenti. Farrel merasa sangat terganggu saat Jiro berhenti lalu melanjutkan langkahnya dan berbelok dari sana.

“Berikan itu satu,” kata Jiro. Dia mengambilnya secara langsung dari deretan senjata yang Elvriesh pajang di udara.

Oui, Master. Permintaan Anda akan selalu menjadi prioritas utama,” balas Elvriesh.

Kenapa Elvriesh membalasnya seperti itu? Itu karena Jiro menginterupsi perintahnya sendiri sehingga Elvriesh memprioritaskan keinginan Jiro pada saat itu dan menghentikan perintah sebelumnya.

Setelah pedang Kembang Bara ada di tangannya, Jiro melanjutkan langkahnya. “Lanjutkan!” titah Jiro pada Elvriesh. “Apa yang bisa dilakukan pedang ini?” tanyanya pada Cikal.

Oui, Master. Senjata ini adalah pedang yang diberikan nama Sel, yang berarti bilik kecil dan sempit, oleh penempanya dengan nama alias Sel. Elvriesh telah membuat tiruan Sel sesuai jumlah tepat yang dimiliki penempa Tira alias Bahari Abdi dalam koleksinya, yaitu berjumlah 18 bilah. Pada mata pedang ini terdapat kumpulan perintah yang dapat membuat batasan gerak. Setiap lekuk pedang ini sepenuhnya dibuat untuk mengarahkan udara agar mendukung kumpulan perintah pada mata pedang. Ini adalah buah pemikiran dari penempa Sel. Terpuji penempa Sel alias Jerem Amin putra Ciara Amri terhormat yang telah memberikan usaha yang tak ternilai bagi Anda, Master.”

Elvriesh melanjutkan tetapi, kata-katanya sama sekali tidak diperhatikan. Cikal membalas saat Elvriesh mulai bicara. “Pedang itu bisa berubah bentuk sesuai keinginan dan tidak akan pernah rusak. Pedang itu sangat fleksibel cocok dibanyak situasi.”

“Ini besi?” Jiro memandangi pedang itu lebih dekat lagi dan pertanyaan itu keluar begitu saja. Cikal dan lainnya mendengarnya tetapi mereka tidak tahu maksud Jiro. “Aku tidak tahu maksudmu, tapi pedang itu dari perak.”

“Tidak,” sangkal Jiro lalu pedang itu meringsek masuk ke telapak tangannya dan hilang sepenuhnya. “Ini besi.”

Setelah meyakinkan dirinya, dia lanjut mempertanyakan logam besi yang disebut perak ini. “Aku membaca beberapa buku dan itu membuatku bingung apa kalian keluar dari planet ini lalu mengambil matahari?”

“Itu permintaan yang gila tapi itu benar. Kau bisa melihat fotonya di museum,” kata Bos membenarkan. Namun, yang dimaksud di sana bukan mereka bertiga tetapi kaum mereka.

“Ya, kalau tidak salah bintang itu sedikit diproses dipadatkan dan diledakan, kembang kempis entah bagaimana tetapi sisa-sisanya dijual salah satu contohnya jadi logam cair seperti perak, garam dapur, dan beberapa tabung padatan energi. Apa kau tertarik bergabung?”

“Tergantung, apa aku tetap bisa menerima permintaan tanpa bergabung dan apa aturannya kalau aku tidak lagi menerima permintaan?”

Jiro tahu bahwa transportasi di sana sangatlah cepat sehingga orang-orang bahkan tidak tahu jalan mana yang mereka lewati. Orang-orang dapat secara instan sampai ke tempat tujuan. Apa yang dilakukan dua orang ini tentu saja beralasan.

“Kau bisa mengambil beberapa permintaan yang tidak dilebeli profesional. Sebaiknya lupakan itu karena upahnya kecil. Lalu, setalah bergabung sebenarnya kau harus benar-benar patuh ketika kamu ditunjuk melakukan sesuatu secara spesifik oleh Ketua Guild tapi sepertinya dia tidak akan berani. Jadi setelah bergabung, kau bebas sepenuhnya.”

Jiro berpikir itu penawaran yang bagus dan tentu saja dia setuju untuk bergabung. Namun, dia merasa perlu membaca peraturannya secara lebih teliti nanti. Tidak ada permasalahan untuk itu, lalu Elvriesh mulai merapikan senjatanya.

“Senjata ini adalah pedang yang diberikan nama Dodo oleh penempanya dengan nama alias Sel. Elvriesh telah membuat tiruan Dodo sesuai jumlah tepat yang dimiliki penempa Tira alias Bahari Abdi dalam koleksinya, yaitu berjumlah 51 bilah. Pada mata pedang ini terdapat kumpulan perintah yang dapat membuat tanda. Setiap lekuk pedang ini sepenuhnya dibuat untuk mengarahkan udara agar mendukung kumpulan perintah pada mata pedang. Ini adalah buah pemikiran dari penempa Sel. Terpuji penempa Sel alias Jerem Amin putra Ciara Amri terhormat yang telah memberikan usaha yang tak ternilai bagi Anda, Master.”

Pedang itu tampaknya tidak laku terjual dan pada namanya pun tidak memiliki arti. Sel mungkin dipandang sebagai penempa yang malas. Beruntungnya, itu tidak disadari oleh mereka berempat. Jiro pada saat itu melihat kerumunan tidak jauh setelah dia berbelok, hanya beberapa orang yang membeli jajanan di pinggir jalan.

Jiro tidak tahu jajanan enak di sini. Niatnya ingin bertanya tetapi hanya dengan melihatnya Jiro tahu itu jajanan yang enak. Sebenarnya Jiro melewati banyak toko sepanjang jalan karena lidahnya tidak bisa merasakan makanan. Namun, toko itu tidak seperti yang lainnya. Ini membuatnya lupa.

“Mereka menjual apa?”

“Donat,” balas Bos.

Lihat selengkapnya