Sena mengamati berkas tebal di hadapannya. Dia masih tidak percaya. Sudah sepuluh menit lamanya dia membaca berulang kali kalimat-kalimat yang tertera di atas kertas tersebut. Sesekali matanya beralih menatap pria di seberang meja.
Pengacara itu bernama Tono Sumartono. Usianya sudah paruh baya, tetapi penampilannya sangat necis dan elegan dalam balutan setelan jas mahal. Sang pengacara melirik arloji emas di pergelangan tangannya.
"Bagaimana, Pak Sena? Sudah dibaca semua?" tanya Tono ramah.
"Saya tidak salah baca, kan? Ada ratusan aset bergerak dan tak bergerak. Swalayan, jaringan perusahaan, deposito, tabungan, hingga batangan emas..." Sena menelan ludah, suaranya agak bergetar. "Ini serius? Totalnya 88 Triliun Rupiah? Sebentar, Pak... jantung saya mendadak berdegup kencang sekali," ucap Sena sambil memijat dada kirinya.
"Baiklah, saya beri waktu untuk bernapas," ujar Tono tersenyum maklum.
Sena pantas berdebar-debar. Jangankan 88 Triliun, membayangkan punya uang seratus juta saja dia tidak pernah berani. Seumur hidupnya habis untuk berjuang mati-matian. Dia sadar bukan anak jenius, makanya dia belajar ekstra keras demi mendapatkan beasiswa. Almarhum bapaknya dulu bekerja serabutan demi menyambung hidup, dan saat masuk kuliah pun Sena bergantung pada program KIP agar bebannya berkurang.
Berbekal kegigihan dan otaknya, Sena menembus sebuah perusahaan teknologi yang lumayan besar. Gajinya cukup untuk menghidupi diri dan ibunya. Selama lima tahun, Sena merangkak dari posisi Junior Programmer, naik menjadi Senior Programmer, Senior Developer, Team Leader, hingga akhirnya menjabat sebagai Project Manager. Tidak ada jalan pintas. Semuanya dia tapaki selangkah demi selangkah. Datang paling pagi, pulang paling malam, bahkan tak jarang lembur tanpa bayaran. Sena paham betul setiap seluk-beluk kebaikan—sekaligus kebobrokan—orang-orang di kantornya.
Padahal, jauh di dalam hatinya, Sena punya impian sederhana: keluar dari dunia kantoran dan membuka bisnis FnB—sebuah kafe atau restoran kecil milik sendiri. Namun, impian itu selalu terbentur modal dan tanggung jawab. Sebagai anak tunggal, dia tidak bisa bersikap nekat, apalagi sejak ayahnya wafat beberapa tahun lalu dan meninggalkan ibunya yang kini bergantung padanya.
Hingga tiba-tiba, telepon dari nomor tak dikenal mengubah segalanya. Seseorang memintanya bertemu dan mengabarkan bahwa dia adalah cucu tunggal dari seorang konglomerat kawakan bernama Esteban Douglas. Namanya memang terdengar kebarat-baratan, tetapi sosoknya adalah orang Jawa tulen. Tono Sumartono menjelaskan bahwa Wibawa Sena adalah satu-satunya ahli waris biologis yang tersisa.