"Kita perlu rapat sepertinya," ucap Dani serius seraya menggeser kursi kerjanya ke depan.
Tanpa membuang waktu, Dani langsung membuka laptopnya dan mengirimkan undangan rapat darurat melalui kalendar digital kantor. Targetnya adalah para leader divisi IT, tim produk, dan secara khusus—Pak Bowo.
Hanya dalam waktu lima belas menit, ruangan rapat kecil berdinding kaca di lantai atas sudah terisi. Suasana di dalam terasa cukup tegang. Sena dan Dani duduk bersisian di satu sisi meja, sementara Pak Bowo duduk di seberang mereka dengan gaya santai, menyilangkan kaki dan sesekali membolak-balik berkas di tangannya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan pagi ini," Dani membuka rapat dengan nada suara yang tenang dan profesional. "Saya sengaja mengumpulkan para leader di sini untuk membahas kendala teknis yang baru saja terjadi pada aplikasi e-commerce kita."
Pak Bowo terkekeh kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi kulit. "Ah, soal bug pembayaran tadi pagi, ya? Bukannya masalah kecil begitu biasa terjadi di divisi IT? Yang penting sekarang kan sudah normal lagi."
Dani menatap Pak Bowo datar, lalu melanjutkan, "Memang sudah kembali normal, Pak Bowo. Tapi penyebab di balik bug itulah yang perlu kita luruskan. Ada perubahan baris kode di server production yang dilakukan tanpa melalui persetujuan Tim Satu maupun proses test UAT."
Dani mengarahkan pandangannya lurus ke mata Pak Bowo. "Pak Bowo, bisa jelaskan kenapa Anda menyuruh anak-anak magang memasukkan payment gateway PayPal ke dalam server production tanpa koordinasi dengan Sena sebagai Project Manager?"
Suasana ruangan mendadak hening seketika. Para leader lain yang hadir hanya berani saling pandang.
Pak Bowo tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Ia justru menegakkan tubuhnya, memasang raut wajah sok kuasa yang biasa ia tunjukkan saat berhadapan dengan juniornya.
"Dani, Dani... kamu ini fokusnya terlalu sempit," ujar Pak Bowo dengan nada menggurui. "Sebagai pimpinan pemasaran, saya punya visi besar untuk perusahaan ini. Kita tidak bisa terus-menerus merayap di pasar lokal yang untungnya begitu-begitu saja. Saya ingin produk e-commerce kita ini punya jangkauan global! Bisa dipakai oleh klien dari luar negeri! Kenapa harus membatasi diri cuma gara-gara masalah birokrasi kecil?"