Langkah kaki Sena terasa amat berat saat menyusuri koridor kembali ke area divisi IT. Dari kejauhan, ia bisa melihat Ajeng dan Dimas yang duduk tegang di kubikel masing-masing. Mata mereka berdua langsung tertuju pada Sena begitu pria itu muncul di pintu kaca.
"Mas Sena? Gimana?" tanya Ajeng cemas.
Sena mengembuskan napas panjang. Dia tidak langsung bicara, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di antara kubikel Ajeng dan Dimas.
Sena menatap wajah kedua rekannya. "Kita bakalan lembur malam ini. Pak Bowo pakai alasan sudah dapat izin langsung dari Pak Direktur. Jadi, mau tidak mau kita harus menambahkan fitur PayPal agar customer-nya juga tersedia untuk pasar luar negeri, tidak hanya domestik."
"Mampus. Itu artinya kita lemburan lagi?" gerutu Dimas kesal. "Ayolah... kalau cuma nambahin payment gateway-nya sih tidak masalah, tapi bagaimana kita ngatur traffic, load balancing-nya, kapasitas server... Mereka enggak mikir apa?"
"Sudahlah, Dim. Sudah," ucap Sena lirih. "Kita terpaksa follow up permintaan itu. Resmi dimasukkan sebagai change request dari tim pemasaran."
"Sialan!" seru Dimas pelan sambil menepuk dahi dengan telapak tangannya. "Bener-bener gila ya itu orang! Dia yang asal suruh, dia yang dapat muka di depan Direktur, nah kita yang ketiban pulung benerin kodingan ambrul-adul itu!"
Ajeng menyandarkan punggungnya ke kursi dengan wajah lesu. "Terus tenggat waktunya kapan, Mas?"
"Minggu ini," ujar Sena. "Artinya, mulai malam ini kita harus lembur."
Ajeng memejamkan mata sejenak, mengelus dada. Sementara Dimas hanya bisa tertawa hambar, meratapi nasibnya.
"Tapi bukan cuma kodingan PayPal yang bikin pusing," lanjut Sena dengan nada serius. "Saya harus memikirkan infrastruktur server-nya dari nol. Kalau traffic luar negeri beneran masuk, server kita saat ini bakal downtime parah. Hari ini saya harus bikin simulasi beban, menghitung estimasi resource baru, sama menyusun arsitektur CDN supaya enggak jebol."
Tim Dua yang berada tidak jauh dari situ rupanya mendengar percakapan mereka. Hendro, leader dari Tim Dua, melongok dari balik kubikel Dimas.
"Mas Sena, butuh bantuan?" tanya Hendro tulus. "Kebetulan pekerjaan gue lagi agak longgar hari ini. Memang rese itu Pak Bowo. Kalau mau, gue bisa bantu setting server CDN-nya."