PSITHURISM

SANE.
Chapter #1

Di Bawah Terik Arusmaju

Terik pagi ini tidak main-main. Desa Arusmaju yang berada di tepian pantai jelas menjadi lokasi paling menyiksa. Seluruh mahasiswa KKN 74 berkumpul di ladang, berusaha membangun area yang bisa ditanami di tengah hamparan pasir yang kering dan tak ramah. Tanahnya ringan, mudah terangkat, dan sulit ditahan. Air cepat hilang, tenaga cepat habis.

Muara menepi. Ia berteduh sejenak di bawah pohon kelapa. Wajahnya memerah, basah oleh keringat. Topi yang ia kenakan tak banyak membantu menahan panas yang terus menekan.

“Panas banget, sumpah. Gue bisa gosong lama-lama di sini. Matahari di Arusmaju kayaknya ada tujuh,” gerutu Gladiola, berjalan mendekat dengan rambut yang setengah basah oleh keringat.

Muara terkekeh pelan, masih mencoba mengatur napasnya. “Harusnya kemarin lo apply KKN ke Puncak aja, Glad.”

“Gak ada, ya. Lo jangan ngada-ngada,” balas Gladiola cepat, meski tetap berdiri di samping Muara, mencari sedikit bayangan yang tersisa.

Angin laut berembus pelan, membawa aroma asin yang samar. Namun, alih-alih menyejukkan, ia hanya terasa seperti napas hangat yang lewat begitu saja. Di kejauhan, teman-teman mereka masih bergelut dengan cangkul dan tanah, mencoba menaklukkan sesuatu yang sejak awal tampak mustahil.

Muara menatap ladang itu sejenak, lalu langit yang tak berawan. Hari masih panjang.

“Ra, air minum lo masih ada?” tanya Gladiola, duduk setengah menjatuhkan diri di sampingnya.

Muara mengangguk, lalu menyodorkan botolnya. “Dikit lagi. Nanti isi lagi di posko.”

“Kalau gue pingsan duluan, lo tanggung jawab ya.”

Muara tersenyum tipis. “Gak akan. Lo terlalu cerewet buat pingsan.”

Gladiola mendengus, lalu tertawa kecil. Tawa itu menular. Muara ikut tertawa, ringan, tanpa beban. Suaranya lepas, jernih, dan tanpa ia sadari, mengalir sedikit lebih nyaring dari biasanya di tengah sepi ladang yang diselimuti panas.

Secara tiba-tiba, dua botol minuman isotonik yang masih super dingin ditempelkan ke pipi mereka. Dingin yang menusuk langsung menjalar ke ujung-ujung saraf, membuat Muara dan Gladiola refleks tersentak kecil.

“Anjir, dingin banget!” seru Gladiola, spontan menjauhkan wajahnya sambil memegang pipinya sendiri. Muara ikut terkesiap, tapi hanya tertawa pelan, mengusap pipinya yang masih terasa kebas.

“Orang mah kerja, ini malah gosip,” ucap Raksa santai. Ia berdiri di hadapan mereka, menenteng kotak pendingin yang tampak masih penuh dengan botol-botol minuman.

Gladiola menatapnya seolah baru saja melihat penampakan ilahi. Tanpa ragu, ia langsung berlutut di pasir, menyatukan kedua tangannya dengan dramatis. “My savior…” ujarnya pelan, penuh penghayatan. Ia mendongak sedikit, matanya berbinar berlebihan. “Kata gue mah lo turunan dewa, sih. Fix banget lo dari Yunani, nyasar ke sini cuma buat KKN bareng gue.”

Raksa mendengus pelan, hampir tertawa. “Kebanyakan kena panas bisa sawan ternyata.”

“Terserah,” balas Gladiola cepat, sudah bangkit lagi dan langsung menyambar satu botol dari tangan Raksa. “Yang penting gue diselamatkan.”

Muara masih tersenyum, kini menerima satu botol yang disodorkan Raksa. Kali ini ia tidak kaget, hanya merasa dinginnya merambat pelan di telapak tangannya. “Dapet dari mana harta karun beginian, Sa?” tanyanya dengan nada yang ringan.

“Pak Kades nitip buat dibagiin,” jawab Raksa singkat. “Katanya biar gak pada tumbang duluan.”

“Wah, penyelamat kedua berarti,” sela Gladiola sambil membuka tutup botolnya. “Yang pertama lo, yang kedua Pak RT.”

Raksa menggeleng kecil. “Kebalik harusnya.”

Gladiola sudah keburu meneguk minumannya dengan puas. “Gak, gak. Lo tetap nomor satu.”

Raksa mengernyitkan dahi, tapi pada akhirnya terkekeh juga. “Iya deh, gimana lo aja. Gue ke sana dulu deh, ya, bagi-bagi ke anak lain,” katanya sambil menunjuk ke arah ladang, tempat beberapa mahasiswa masih mencabuti rumput liar di bawah terik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Keringat di pelipisnya belum kering sejak tadi, tapi ia tetap berdiri santai, seolah panas hanya gangguan kecil.

“Jangan dulu, di sini dulu,” potong Gladiola cepat tanpa ragu. Ia menoleh ke arah ladang, matanya menyipit seperti sedang menghitung satu per satu orang yang masih bertahan di sana. “Tadi gue lihat Riang udah pucet banget kayak mau pingsan. Nadel juga udah ngos-ngosan. Bentar, gue cari dulu anaknya.” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung beranjak, langkahnya cepat dan tegas, hampir setengah berlari, meninggalkan mereka berdua di bawah bayangan pohon yang makin bergeser.

Lihat selengkapnya