PUAN : #1
.
.
.
Larasati mengayun tubuh anaknya pelan di kursi depan, tepat di teras rumah yang catnya mulai mengelupas. Siang itu panasnya terasa menggantung, cukup membuat udara terasa berat di kulit. Peluh tipis menempel di tengkuk Laras, bercampur dengan napasnya yang mulai tak beraturan.
"Udah, ya, nak..." suaranya hampir berbisik, seolah takut menambah kebisingan yang sudah memenuhi rumah itu.
Namun tangis Arka semakin nyaring. Panjang dan seperti meluapkan sesuatu dari dalam dadanya.
Di dalam rumah, suara piring beradu terdengar lebih keras dari biasanya. Disusul suara langkah kaki yang tidak berusaha disamarkan.
"Laras!" Suaranya tajam. Memanggil tapi tidak mengundang.
Laras menoleh sedikit ke arah pintu. Endang, ibu mertuanya, berdiri di ambang, wajahnya jelas terganggu dan sedikit tidak suka.
"Itu anak dari tadi nangis terus. Gak capek, apa?"
Laras menelan ludah. "Mungkin kepanasan, bu. Ini lagi aku bawa keluar biar adem."
"Adem gimana? Panas begini." Endang mendengus pelan. "Dari kecil Bagas gak pernah kayak gitu. Anteng, gak pernah nyusahin orang."
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Laras mengangguk kecil, meski tidak ada yang perlu disetujui. "Iya, bu."
"Ya jelas beda, anak itu biasanya nurun ibunya."
Laras tidak menjawab.
Tangannya tetap mengusap punggung Arka. Pelan dan berulang.
Di dalam, suara televisi dibesarkan. Disusul suara Bagas, suaminya. Kadang tertawa, kadang terdengar melempar guyon dengan keluarga besarnya di sana.
Seperti orang yang tidak terganggu oleh apa pun.
Tangis Arka belum juga reda.
Laras berdiri, menggendong tubuh kecil itu lebih erat. Ia melangkah pelan menyusuri teras sempit, dari ujung ke ujung, mencoba mencari angin yang mungkin bisa sedikit menenangkan.
"Arka, kita lihat pohon, ya..." Laras membawa anaknya ke halaman depan yang tidak seberapa luas. Daun-daun bergerak malas, tertiup angin yang terlalu pelan untuk disebut sejuk.
Arka terisak, napasnya patah-patah. Wajahnya memerah, matanya sembab.
Laras berjongkok perlahan, mencoba mengalihkan perhatian Arka dengan batu kecil di lantai. Tapi tangisan itu tetap ada; melekat, seperti sesuatu yang tidak bisa ditenangkan hanya dengan pelukan.
Laras menarik napas panjang. Pikirnya, mungkin benar kata mertuanya. Mungkin Arka rewel karena dirinya.
Mungkin ia memang tidak cukup—
Tiba-tiba saja tubuh kecil Arka terlepas dari genggamannya, jatuh ke depan. Laras membeku sepersekian detik.
"Arka!"
Ia meraih anaknya, jantungnya seperti dijatuhkan ke tanah. Tangis Arka berubah lebih keras, terdengar menyayat. Ada jeda singkat sebelum tangisan itu pecah, jeda itu justru membuat dada Laras sesak.
Benjolan mulai muncul di kening kecil itu.