PUAN
.
.
.
Langit perlahan berubah warna menjadi gelap.
Tidak ada percakapan di dalam mobil sejak mobil itu melaju hingga menempuh setengah perjalanan. Tidak ada musik sebagai latar suasana. Bahkan suara mesin terasa terlalu jauh. Semuanya seperti ditelan oleh sesuatu yang lebih besar—sesuatu yang tidak terlihat, tapi terasa menekan dada.
Laras tidak ingat sejak kapan pikirannya mulai kosong. Ia hanya duduk menatap ke jalan dengan sorot mata yang tidak menatap apa-apa.
Lampu-lampu jalan melintas satu per satu, memantul samar di kaca jendela. Setiap cahaya datang dan pergi, seperti sesuatu yang mencoba masuk namun gagal.
Di sampingnya, Arka masih tertidur. Napasnya kecil, teratur. Sesekali bibirnya bergerak, seperti ingin menangis lagi, tapi tubuhnya terlalu lelah untuk melanjutkan.
Laras mengusap pelan rambut anaknya. Ia menelan salivanya yang terasa pahit di tenggorokan.
"Jangan dimanja." Suara Bagas tiba-tiba memecah keheningan.
"Apa?" Laras menoleh sedikit.
"Arka," jawabnya singkat. "Dikit-dikit nangis."
Laras membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali.
Ia ingin bilang: dia masih kecil.
Ia ingin bilang: dia jatuh tadi.
Ia ingin bilang: dia cuma butuh ditenangkan.
Tapi tidak ada satu pun yang keluar dari bibir ranumnya.
"Iya," jawabnya akhirnya, setelah jeda 3 detik.
Satu kata.
Selalu satu kata.
Mobil kembali tenggelam dalam diam. Bergabung dengan kemacetan jalan karena ada mobil truk pecah ban di depan sana.
***
Mereka sampai di rumah saat malam benar-benar larut.
Bagas langsung turun, membuka pintu tanpa menoleh ke belakang. Ia mengambil tas besar dari bagasi, lalu masuk ke dalam begitu saja.
Laras membuka pintu pelan. Ia menggendong Arka dengan hati-hati, memastikan kepala kecil itu tidak terbentur. Benjolan di keningnya masih terlihat jelas di bawah lampu teras yang redup.
"Maaf, ya, nak..." bisiknya pelan.
Pintu rumah terbuka setengah.