PUAN
.
.
.
Alarm di ponselnya berbunyi pelan. Larasati membuka mata perlahan, sebelum nada itu sempat berbunyi untuk kedua kali. Tangannya meraba sisi kasur, mencari ponsel di dekat bantal. Jemarinya terasa berat, seperti baru saja memikul sesuatu semalaman.
04.15
Ia mematikan alarm, lalu duduk perlahan di tepi kasur. Punggungnya sedikit membungkuk, matanya langsung tertuju pada Arka yang masih terlelap di kasur kecil di sebelah.
Laras berdiri, merapikan selimut Arka, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
Di ruang tamu, Laras menyalakan lampu. Televisi mati, remote tergeletak di atas meja kecil. Asbak di sudut meja penuh dengan puntung rokok yang belum sempat dibuang.
Bau rokok masih menggantung di udara.
Pekat.
Laras membuka jendela sedikit. Udara dini hari masuk perlahan, membawa hawa dingin yang tipis. Ia menahan napas sebentar, mencoba mengusir bau yang menempel di hidung.
Lalu ia berjalan ke dapur.
Dapur kecil itu masih sama seperti semalam.
Laras mengambil dua butir telur dari kulkas. Memecahkan sebutir di atas wajan, minyak panas memercik sedikit, mengenai ujung tangannya. Ia mengaduh pelan.
Bau telur goreng mulai memenuhi dapur kecil itu.
Ia menyiapkan dua piring. Membuka rice cooker, syukurnya dia sudah memasak semalam sebelum benar-benar ke kamar.
Telur pertama matang, Laras kembali memecahkan telur kedua. Minyak panas kembali berdesis.
Suara langkah kaki berat terdengar dari kamar. Laras menoleh sedikit ketika ujung matanya menangkap penampakan Bagas dengan wajah kusut khas bangun tidur. Mengambil air dari dispenser dan meneguk segelas dengan cepat.
Kedua tangan Bagas langsung sibuk dengan rokoknya. Suara korek api terdengar, tak lama kemudian bau asap rokok dan aroma telur goreng saling bertolak di udara.
Bagas menyesap ujung nikotin dengan khidmat. Mengembuskan asap dan membuatnya menggelung-gelung ke atas.
Laras dengan cepat membuka jendela, berharap udara dari luar menetralisir asap rokok di dapur.
"Aku makan dulu sebelum mandi." Kata Bagas seraya duduk di meja makan dan menjentikkan abu rokok ke asbak.
"Iya, mas." Lirih Laras, tangannya dengan cepat menciduk nasi ke piring Bagas.
"Telur lagi," protes Bagas. Ia menuang kecap ke atas telur gorengnya.
"Aku gak sempat ke pasar, mas. Kupikir kita bakal berhari-hari di rumah ibu." Laras berjalan ke arah dispenser, mengisi segelas air penuh untuk Bagas.
"Lagian anakmu rewel terus. Pusing aku." Bagas mengunyah makanannya.