PUAN
.
.
.
Siang itu matahari terasa lebih tajam dari biasanya. Laras sampai harus menempelkan koyo di keningnya yang terasa berat sejak pagi.
Setelah memandikan Arka dan membereskan rumah, ia duduk di kursi dekat pintu. Menghela napas panjang yang entah kenapa terasa tidak pernah cukup.
Arka duduk di lantai, memainkan mobil-mobilan kecilnya. Di usianya yang hampir 2 tahun, Arka mulai bisa mengucapkan beberapa kata yang belum terlalu jelas.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Laras. Segera beringsut dan membuka pintu. Mendapati Dita, sahabatnya sejak SMP berdiri di sana. Wajahnya terlihat serius, alisnya bertaut. Tangannya memegang dua kantong plastik berisi makanan dan minuman. Tas selempang tersampir di bahu kanannya.
"Masuk dulu," kata Laras pelan.
Dita tidak langsung masuk. Ia menatap Laras dari ujung kepala sampai kaki. Lama dan tajam. Seperti sedang memeriksa sesuatu yang tidak kasatmata.
"Kamu sakit?" Tanyanya kemudian.
"Sedikit pusing aja." Jawab Laras.
"Suamimu gimana, sih? Gak becus jadi suami. Perasaan kamu sakit terus." Omel Dita.
"Pelan-pelan, Dit." Peringat Laras. "Masuk dulu, gak enak didengar tetangga."
Dita menarik napas panjang, mengusap wajahnya sebentar lalu masuk mengekor di belakang Laras.
Pintu ditutup.
"Kali ini kenapa lagi?" Dita bertanya pada Laras namun tak dijawab karena Laras masuk ke dapur. Ia lalu duduk di karpet, di samping Arka yang tersenyum lebar melihatnya.
"Halo anak ganteng..." Dita mengusap pipi Arka yang gembul.
Laras datang dari dapur membawa nampan berisi air mineral kemasan sedang dan setoples kue kacang.
"Nasi padang sama es teh." Ucap Dita seraya menyodorkan kantong plastik yang dibawanya.
"Belum makan?" Tanya Laras.
"Belum. Sekalian aja sama kamu." Jawab Dita seraya membuka box berisi mainan Ultramen untuk Arka.
Sebagian besar mainan Arka diberikan oleh Dita. Sampai-sampai Arka terkadang bingung mau memainkan yang mana.
Laras dan Dita melahap nasi padang di piring masing-masing. Sejak dulu, mereka berdua sangat menyukai makanan khas Sumatera Barat itu. Dilengkapi dengan es teh, membuat lidah lokal mereka tidak bisa menolak.