Wilayah Sine Qua Non musim penghujan pertengahan November.
Derap kaki para pekerja sawit menghentak tanah di atas jalan hauling yang berair keruh kecokelatan. Puluhan orang yang seharusnya pulang kala senja tampak mengerumun pada satu lokasi. Dalam kedipan mata saat rinai hujan berdesingan jatuh, terlihat garis kuning kepolisian membentang segi empat. Lima petugas bagian investigasi berbasah-basah dan tampak bergumam tak jelas disapu deru angin sore dan gempuran hujan.
Sambil mendekap kedua bahu, banyak pekerja di perkebunan itu mulai mengedarkan pandang ke halimun pembusukan tankos sawit. Tankos itu tampak mengasap lalu menciptakan awan putih yang mengarsir senja bagai roh yang pupuh terangkat ke langit. Para pekerja sawit bergeming diam seolah beku dengan apa yang sore ini mereka lihat. Sementara di hadapan mereka para petugas itu tampak cemas dan gelisah.
"Ambulans masih di jalan?" tanya Gusti. Ia berperawakan tegap dengan roman wajah tenang namun tajam. Rambutnya panjang sebahu pertanda ia memang petugas lapangan. Enam tahun di pusat dan lama di bagian investigasi mulai mengubah gaya serta kontrol jiwanya. Bayangkan saja, saat diminta atasan untuk membantu penyelidikan, kadang Gusti harus menjelma sebagai intel lalu membaur dengan target. Dari sana ia belajar watak yang berubah-ubah. Ini adalah tahun ke tiga dari kepindahan tugasnya di Wilayah Sine Qua Non. Mendekati dan menangkap penjahat apalagi mereka yang sering berkepribadian ganda memaksanya harus ikut tercebur ke dalamnya.
Terkadang jiwa Gusti mengalami guncangan sendiri. Bukan tanpa alasan, menjadi seorang pengintai artinya dirinya akan terisolasi dari statusnya. Akhirnya Gusti menjelma sebagai buronan dua sisi. Penyamaran yang baik dan menu kebohongan setiap hari adalah kunci bertahannya ia sampai sekarang ini.
"Apasih yang disiapkan mereka! Jika begini terus kondisi mayat bisa ubah!" seru Lheman bawahan Gusti. Lheman merupakan pribadi yang tangkas. Dengan bentuk wajah oval serta diberkahi alis tebal, sungguh dirinya bukanlah pribadi yang senang bercanda. Sebagai bawahan Gusti, pada kebanyakan kasus Lheman tentu taat terhadapnya. Tapi tak jarang pula keduanya mengalami gesekan pendapat. Hal seperti itu lumrah. Lheman cenderung menaati aturan dalam kepolisian tapi untuk kepatuhan pimpinan, kadang memang sedikit bengal.
Gusti menatap langit urakan dengan jingga yang segera lepas kepada petang. Matanya yang penuh air lalu berpindah ke jasad di depannya.
Gusti menekuk kedua bibirnya.
Sesosok tubuh perempuan tanpa busana berumur kisaran 40 tahun menatapnya dingin kaku dan pucat. Kedua tangannya terikat ke belakang. Sekujur jasad itu dipenuhi luka lubang. Gusti berjongkok dan persetan dengan bagian forensik. Rasa penasarannya sungguh menjilat -jilat. Ia pandang dalam-dalam bagian luka tersebut. Lubang -lubang luka terdapat pada mata kaki, dengkul, siku tangan, bahu ,bagian ginjal kanan, ulu hati, jantung, pelipis kiri kanan, tengkorak atas, dan sedikit ke belakang.
Lubang-lubang itu ditutup dengan semacam isolasi tembus pandang. Dari dalam isolasi itu terlihat warna kehitam-hitaman. Gusti yakin itu bukan darah beku. Dia juga percaya bahwa lubang itu bukan dari proyektil atau tikaman. Dia sudah meraih simpulannya sejak tadi. Tak ada kehancuran dari luka itu yang tentu bukan dari putaran peluru atau ledakan mesiu. Sementara jika akibat tusukan benda tajam, hampir semua luka berdiameter sama.
Gusti makin gelisatan bagai menjangan ereksi. Tangannya seolah punya naluri sendiri untuk bergerak dan memastikan warna hitam yang mengisi lubang itu.
"Hei!!! Tunggu bagian forensik!" seru Lheman menegur Gusti. Tangan Gusti mendadak diam sebelum menjamah target luka di bagian ginjal kanan perempuan itu.
Gusti mengedarkan pandangannya ke para pekerja. Dari ekspresi mereka tampak roman ngeri dan bergidik. Memangnya apa yang lebih menggusarkan dada selain menyaksikan kematian yang ganjil. Sehebat dan seberani apapun para pekerja itu di belantara sawit begini, kematian akan tetap bergelayut sebagai hal yang semestinya di puncak ketakutan. Apa yang harus disangsikan? Semua pekerja pasti menyelempangkan parang di pinggangnya. Bukti bahwa hidup memang perlu penghargaan sementara mati merupakan jalan perhitungan. Gusti manggut-manggut dalam pikirannya. Matanya kemudian beralih menatap Lheman yang berdiri di sampingnya.
"Mungkin ambulan itu terperosok ke dasar galian tambang," ujar Gusti sebal.
"Tapi ini bukan wewenang kita."
Gusti berdiri. Ia tekuk pinggangnya. Selalu demikian. Kebanyakan hal ia temui berakhir dengan simpulan basi bahkan remang. Menunggu bukan sesuatu yang ia sukai. Apalagi tentang hasil? Bagi Gusti pengalaman langsung merupakan tingkatan tinggi dari teori.