PUKAT

Heri Haliling
Chapter #2

Value

"Aduh..,serasa peot pantatku. Kurasa cukup malam ini," seru pemuda kharismatik belasteran Cina yang mengenakan kaos hitam. Dengan gaya rambut mullet wajahnya yang berbinar sebab perawatan itu sungguh merupakan style tersendiri. Pemuda itu bernama Altar, seorang youtuber misteri.

Malam ini Altar dan Danar tengah berada di sebuah perkebunan kelapa sawit. Lokasi dari pembunuhan berjarak satu kilo. Informasi tentang adanya penemuan jasad wanita yang diduga dibunuh secara sadis begitu cepat menyebar bagai polusi asap blasthing batu bara.

Sebagai vlogger misteri yang cukup banyak mempunyai subscriber, kejadian ini adalah aji mumpung. Keduanya memanfaatkan momen untuk meningkatkan pundi-pundi dolar pribadi. Peran Altar sudah ia latih sempurna. Sebagai vlogger yang dipercayai mempunyai kekuatan supranatural, Altar mampu memanipulasi kata dan keadaan sehingga meyakinkan penontonnya bahwa situasi itu rill. Sementara kemampuan Danar tentang editing dan konsep yang jenius membalut channel misteri mereka dengan optimal dan penuh ketegangan.

Pada tengah malam itu, Altar dan Danar selesai dengan proyek gadungannya. Terduduk di sebuah gelondongan pohon sawit, Altar meletakkan gimbal stabilizernya.

"Lumayan banyak tangkapan kita malam ini."

Danar yang sedang menggulung beberapa kabel pun menyahut:

"Kau benar. Bingkisan saat live juga berlimpah. Mantap pokoknya."

"Orang orang di luar sana perlu sebuah kebohongan. Agaknya dengan sajian drama ini dapat mengurangi stres mereka. Terlalu lama hidup di bukit jadi seperti itu."

Altar tertawa sambil menggeser pinggulnya. Diraih sebotol air mineral dan segera ia reguk dalam-dalam.

"Yes!! Satu juta tontonan. Dengan ini kita bisa ke luar negeri" decak Altar dengan ekspresi kegirangan.

Danar ikut melabuhkan pantatnya karena penat. Ia juga mereguk air. Sesaat kemudian jemari Danar menelusup ke saku. Ia meraih tisu lalu mengusap wajahnya yang celemotan pupur putih. Sejak tadi peluh sungguh membanjiri badannya.

"Baju pocong sialan!" umpat Danar.

Terkekeh, Altar pun menyahut:

"Tak boleh begitu. Harusnya kau berterima kasih dengannya."

"Jika konsep awal kita memainkan effect 3D sih gak apa-apa. Tapi belakangan ini penonton minta bukti agar aku dikerjai. Memang sialan, kau," gerutu Danar setengah sebal.

Mau bagaimana lagi. Riuh sorai dan permintaan penonton dengan menawarkan bingkisan dan emoticon itu laksana titah raja yang harus segera dilaksanakan. Mulanya memang vlog penampakan hantu digital. Tapi penonton makin kesetanan agar hantu itu dipukul galon, mercon, atau apapun yang bersifat menciderainya. Jika sudah begini, Danar pasti akan menyumpah serapah.

Mereka berdua masih berkisah dan seloroh manakala bunyi katak dan burung baburak saling sahut-sahutan mencari pertemuan. Selain itu angin juga bergemuruh menggulingkan ranting dan pelepah kelapa sawit. Derunya begitu menyeruak dan membaur dengan derap langkah sepatu bot dari balik kegelapan jalan.

"Siapa di sana!" seru Altar sadar akan sosok yang mendekati mereka. Keduanya lantas berdiri.

Altar segera meraih kayu apa saja yang cukup berat di sekitarnya. Danar sendiri hanya mengandalkan gimbal stabilizer. Mungkin benda itu cukup berat apabila dilempar, pikirnya.

Lihat selengkapnya