Perasaan bergelantungan dengan dugaan. Berlakukah malam panjang tadi untuk tuai mimpi indah? Gusti mengecap mulutnya yang kering. Usai buruannya lepas, ia kembali mendesak dua pemuda pubertas itu. Nihil, tak ada informasi berarti. Keduanya juga akui tak pernah ada musuh. Altar bahkan berseloroh mungkin bayangan yang dikejar Gusti merupakan pemberondol sawit lintas malam atau tepatnya maling. Hal demikian sering terjadi di lingkungan perkebunan sawit. Bagaimanapun masyrakat yang tak memperoleh keberuntungan untuk bergabung dalam perusahaan biasanya akan bekerja sebagai pemberondol. Menjual eceran demi eceran yang belakangan malah dilarang oleh pihak perusahaan. Tentunya karena itu sebagian masyrakat akhirnya tertanam rasa jengkel serta dendam. Penyatronan biji sawit kerap terjadi. Kadang hal itu berujung pada laporan yang merepotkan bagi Gusti dan timnya. Apa mungkin itu mereka? Sebagai petugas yang sensitif terhadap gesture dan mimik wajah, Gusti sadar ada hal aneh dalam sosok bayangan itu. Kendati samar, Gusti mampu merasakan bahwa itu sebuah tanda. Sosok itu jelas-jelas menyembunyikan sesuatu.
Akh! Pikirannya makin sengkarut saat menarik hubungan. Gusti pun melihat ponselnya. Sudah beberapa kali jarinya hendak menyentuh ikon panggilan, namun belum juga dia menekan tombol untuk menghubungi. Di luar jendela, langit mulai biaskan sinar fajar. Waktu terasa meninggi dan akhirnya, Gusti memutuskan untuk menekan ikon panggilan itu. Ponselnya bergetar di tangan, suara dering telepon mengisi kesunyian ruang. Terdengar seorang mengangkat panggilan.
"Hallo, Sandra. Bisakah aku ketemu ibumu pagi ini?"
"Coba ku tanyakan nanti. Ada perlu apa Gusti?"
"Ah., biasalah urusan kantor. Sepertinya seharian ini aku akan banyak loncat tempat."
"Kau selalu dingin begitu," nada Kasandra tampak sebal.
Gusti menyibakkan selimut. Ia bangun lalu bergeser ke tepi ranjang. Kopi dingin itu ia minum sekarang. Gusti merasa seperti dirinya hanya sebuah bayangan. Semua yang dia katakan tak pernah cukup. Kasandra adalah orang yang selalu merasa lebih tahu dan benar. Kembali Gusti fokus ke percakapan teleponnya.
"Bagaimana lagi, ini pekerjaanku. Aku juga tak mengusik kau yang kerja di sana."
"Maksudku apakah kau tak punya waktu luang? Hubungan ini mau bagaimana?"
Gusti menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya. Ya.,ya. Setahun ini sudah ku janjikan kepadamu, bukan? Di samping itu kau kerja di sana juga atas kemauanmu dengan seizinku. Nikmati saja dulu."
Hening sebentar. Dasar perempuan, batin Gusti. Kasandra, perempuan keras kepala dengan tekad berapi-api dalam bekerja. Sudah dapat tempat menjadi apoteker di kota awalnya girang bukan kepalang. Bosan kini mulai datang dan kebiasaan buruknya akan terulang. Kasandra mencari alasan untuk meminta perhatian. Dasar tulang rusuk bengkok, mudahnya membenarkan pendapat sendiri jika telah jenuh di zonanya yang aman. Gusti menyeropot kopinya lagi. Gusti menarik napas, berusaha menenangkan perasaannya. Tapi sekali lagi, sesuatu dalam dirinya mulai menunduk dalam ketiadaan. Cinta itu aneh dan melemahkan. Jika telah terbelit maka susah untuk keluar dari logika. Harusnya jalan permainan ada di tangan Gusti. Faktanya suara dan imaji mata bibir saat Kasandra bicara itu yang jadi penentunya.
"Kau masih di sana, Kasandra? Ayolah..," bujuk Gusti dengan mimik menyerah. "Pastikan malam minggu ini kau kosong."
"Nah gitu" suara Kasandra renyah gembira. "Aku sudah chat ibuku. Pagi jam 9 ini kau bisa bertemu dengannya di pabrik."
"Baguslah kalau begitu. Oke. Pegang saja janjiku. Siapkan pakaian yang manis nanti. Pastikan kau happy dengan itu."
"Oke. Jaga dirimu di sana. Pastikan kau tak mati."
Gusti yang hendak menutup ponselnya jadi tertunda mendengar ucapan Kasandra.
"Heii, maksudmu bagaimana? Kau tak perlu cemas dengan itu. Ngomong-ngomong apa yang kau tahu tentang masalah di sini."
"Ayolah Gusti, kau pikir kita di zaman batu. Memang media maenstream itu akan diam melihat daging empuk ini. Aku cuma berharap, segera selesaikan kasus itu. Jangan sampai namamu dirajam oleh media-media ini. Terpenting seperti kataku tadi, jangan mati."
Kasandra menutup telponnya. “Siapa yang dingin sekarang,” gerutu Gusti.
*
Di ruang kerja itu bahkan deru mesin penggiling tankos sawit masih terdengar masuk ke dalam. Gusti berpikir, bisa-bisanya mereka betah dan kosentrasi dengan bentuk kantor begini.
Bu Sardah merupakan asisten kepala (Askep) PT K.S. Sejahtera. Beliau mengurus bagian panen dan distribusi kelapa sawit yang luasnya mencapai 16.200 hektare. Tapi bukan beliau saja Askep dalam perkebunan itu. Sekitar 10 Askep ada di sana. Perawakan Bu Sardah cukup tegap dan khas wanita karier. Mengenakan safari berwarna cream bercampur pola biru itu membuat dirinya begitu perdu dan berkharisma.
Dari cara menyambut, Bu Sardah sangat cakap dan lembut. Tapi apakah ia orang seperti itu? Setidaknya penilaian Gusti mencabang-cabang. Sikap ramah yang ia saksikan pagi ini bisa saja kamuflase karena berhadapan dengan petugas. Mungkin dalam dunia perintah-memerintah di lapangan, karakter Bu Sardah bisa saja kebalikannya.
"Dia bernama Susan, admintrasi kami dalam distribusi. Dia lebih muda dariku 5 tahun. Ku kira dia seusiamu," terang Bu Sardah sambil melihat foto- foto yang disusun Gusti di atas meja. "Aku sungguh kaget atas kepergiannya."
Gusti meremat-remat jemarinya. Wajah Bu Sardah sebenarnya sedikit lelah dan memancarkan kebersalahan masa lalu yang dalam. Seolah mata itu penuh semangat, nyatanya kini tampak kosong. Mungkin ia terperangkap dalam duka dan rutinitas yang tak berkesudahan.
"Apakah Susan sering terjun ke lapangan?"
"Tidak. Dia hanya fokus di kantor ini. Jika kau akan bertanya apakah dia ada pesaing atau bahkan pembenci?" Bu Sardah melihat sisi lain, "aku jawab tidak. Dia karyawan baik dan murah senyum."
Gusti mendorong punggungnya. Kali ini dia bersandar pada sebuah kursi. Satu penilaian harus ia ungkapkan.
"Raut wajah Anda tampak begitu kehilangan. Saya kenal sekali mimik itu. Apakah ada yang lebih?"
Bu Sardah mengerutkan keningnya, mencoba sekali lagi menyembunyikan apa yang sebenarnya dia rasakan. Tapi tak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan itu. Hatinya sungguh sesak, seakan terisi bergumpal-gumpal jelaga. Mimik wajah Bu Sardah pun seperti tak lagi miliknya sendiri. Apakah hal ini telah terbaca Gusti? Bu Sardah memejamkan matanya sebentar seolah berusaha menahan air mata yang hampir tumpah. Bu Sardah menukas, "Dia temanku bermain tenis lapangan." Bu Sardah mendongakkan kepala melihat plafon kantor. Seolah plafon itu layar lebar yang segera akan memutar film kenangan.
"Menarik sekali. Dia sudah berkeluarga? Di mana alamatnya?"
Percakapan terus bergulir hingga merambat ke jam 11. Dengan detail Bu Sardah bercerita mengenai Susan, pergaulan, kerabat, dan statusnya.
"Kurang lebih apa yang kau mau telah ku turuti. " Bu Sardah berdiri. Dia berkeliling sebentar dan bahkan memutari Gusti. Matanya menatap lurus ke depan. Ketika dia melangkah menuju meja, Gusti mampu melihat sekelebat ekspresi yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Tiba-tiba tak ada keraguan dan rasa bersalah. Pada posisi membelakangi, Bu Sardah berujar:
"Sekarang giliranku lagi menegaskan," lanjut Bu Sardah.
"Kau berhadapan dengan orang sakit. Dua pilihan ada padamu. Berhasil atau gagal. Tapi bagiku," nada Bu Sardah tegas. "Hanya ada satu jawaban, kau berhasil dalam kasus ini."
"Tentu saja itu..."
"Bukan, bukan itu yang ku mau," potong Bu Sardah. "Aku tak peduli kau dapat mendali atau caci maki karena ini. Sungguh, Gusti." Bu Sardah kembali duduk di kursi. "Kau pasti paham. Kau adalah prioritas utama Kasandra. Tapi aku tak mau si gila itu melibatkannya dalam kegembiraanmu ini."
"Bu, berikan saya kesempatan..,"
"Ssst! Ssst! Ssst!" jari telunjuk Bu Sardah menari-nari di depan bibirnya. Jujur saja, gaya itu membuat Gusti menggigit giginya karena gerah .
"Pastikan kami tak ikut permainan. Itu saja oke!"
"Baik, Bu."
*
Ruang kamar ini di desain dengan gaya gotik. Hampir ke semua sudut berwarna hitam khas pria. Di dinding kamar, beberapa foto pesulap seperti Harry Houdini dan David Copperfield terpampang menambah kesan misterius. Yah dua pesulap beraliran escaplogy dan mentalist ilusionis itu membuai Altar dalam kekaguman. Foto band rock seperti Metalica dan Gun and Rose juga ada. Selain itu kata-kata mutiara berbau rasis dan sarkas juga terlihat terpahat pada sebuah papan.
Bagi Altar, ke semua itu menambah kesan horor dan penunjang karakter yang ia dalami sekarang. Semua kreator youtube punya caranya sendiri untuk memikat penonton. Dekorasi ruang, gerak mimik, dan kekuatan dialog merupakan modal utama Altar. Dia bangga dengan pengakuan orang-orang. Dia senang orang percaya kalau dirinya mempunyai aura supranatural.
Bersama Danar siang itu Altar sedang menyiapkan tema konten untuk malam ini. Apa yang diinginkan subscribe-nya sekarang? Kebanyakan dari mereka kini menginginkan sesuatu yang gore. Tapi untuk itu bagaimana caranya? Apakah dengan menyembelih ayam cemani tengah malam mampu menghadirkan nuansa gore? Apakah dengan memancangkan bendera lucifer dan satanic di lubang bekas tambang akan hadir belzeebub melalui perantara jaelangkung?
Altar bahkan punya ide gila lainnya. Sebagai teman, Danar adalah pendengar setianya.
"Ku pikir sudah saatnya kita warnai konten horor ini dengan bumbu itu."
"Maksudmu?"