Sore itu di atas kursi, Gusti menyelonjorkan ke dua kaki lalu menekuk punggung dengan posisi seolah tangannya mau meraih jempol kaki.
Bunyi grepaakkk! Keluar dari dalam punggungnya. Tak ayal keadaan itu membuatnya lunglai berapa detik dengan langsung menyandarkan bahu kanannya ke dinding. Gusti merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa, seolah beban besar yang selama ini menekan pundaknya akhirnya terangkat. Sedikit menggeliat, Gusti melepaskan ketegangan yang selama ini menyelubungi tubuhnya. Sekarang ia mengamati lingkungan itu. Pikiran Gusti menebak dan menilai ke arah para sarjana berbaju putih di hadapannya. Berjalan penuh gaya dengan masker dan stethoscope, tuan-tuan muda inilah yang menjadi garda terdepan untuk urusan medis. Gusti lalu mengedarkan pandangannya ke koridor selatan. Kali ini petugas rumah sakit berlari-lari kecil dengan ranjang dorong berisikan manusia yang dililit tali infus. Petugas yang mulanya satu dua itu lalu berkumpul dengan wajah tegang dan cemas. Astaga, berkoloni mereka. Gusti terkekeh.
"Cukup, kau gibah kami," kata Pak Muhram yang ternyata sejak tadi mengamati Gusti.
Gusti menggerakkan bahu dari sandarannya. Ia duduk tegap sekarang. Pak Muhram berjalan mendekatinya.
"Apa yang saya dapat sore ini?"
"Yah..ku pastikan perjalananmu tak sia-sia."
"Saya harap begitu."
Pak Muhram lalu mengeluarkan banyak lembaran CT Scane dari hasil otopsi jasad Susan. Matanya mulai berbinar, dan bibirnya membentuk senyuman kecil. Sebuah konsep kini mulai terorganisir dengan rapi.
"Setidaknya biarku jelaskan dulu prosedurnya."
Gusti menatap jam dinding yang berjalan begitu lambat. Matanya mulai mengembara, mencoba enggan fokus pada CT scane. Ekspresi wajahnya datar. Bibirnya terlipat dan tak punya kontrol untuk menahan diri. Gusti menguap. Oh Tuhan, pak tua ini mulai unjuk gigi lagi.
Pak Muhram menangkap itu. Ekspresinya sekarang asam.
"Oh maaf. Silakan mulai."
Tidak ada percakapan, tidak ada suara penjelasan. Yang ada hanya dua orang yang saling tenggelam dalam kebisuan. Merasa ini adalah sikap merajuk seorang tua, Gusti mengalah.
"Saya berharap Anda sudi meneruskan."
Pak Muhram yang semula memandang Gusti dengan jengkel lalu abai dan fokus pada uraian.
"Ada 6 tahap dalam pemeriksaan ini. Pertama tahap eksternal. Perempuan ini.."
" Susan."
Sudut lembaran Pak Muhram remat. Gusti tersenyum kecil karena godaannya berhasil.
"Ya. Susan, berusia sekitar 40 tahun. Tinggi 154 cm, rambut asli hitam ikal, warna kulit sawo matang, dan ada tato di kaki sebelah kanan. Dugaan sementara korban pembunuhan.
Kedua tangan Susan diikat menggunakan lakban. Mulut dan kakinya juga. Pada tahap luar ini korban diduga dibunuh. Sekujur tubuhnya penuh luka lubang dengan berdiameter 10 mm. Lubang- lubang itu menembus dua sisi kepala kiri dan kanan, belakang satu, bahu kiri dan kanan, kedua siku, dada kiri satu, hati, bagian sisi perut khususnya kedua ginjal, kedua dengkul, dan kedua mata kaki. Kau tahu? Bagian ini yang ku suka." Menatap Gusti sebentar lalu membasahi bibir dengan liurnya untuk menyambung. Sikapnya kini mirip ular sawit yang mendesis, pikir Gusti yang memperhatikan. Sebelum satu aksara keluar dari mulut keriputnya, Gusti menyela:
"Luka itu bukan dari peluru atau tikaman sajam."
"Tepat analisamu," jawab Pak Muhram mengacungkan pulpen. "Luka itu berasal dari mata bor."
Gusti memundurkan badannya. Bersandar lagi di dinding.
"Asyik sekali. Benar-benar buat saya bersemangat."
Pak Muhram mengangguk saja sambil bibirnya ia tekuk ke bawah. Dia tahu Gusti itu tipikal seperti apa. Kasus ini adalah selera makananya.
"Luka-luka itu selanjutnya diisi oleh humus tankos. Dari dalam tanah ditemukan kaki seribu. Kami juga menemukan hal lain."