Lampu menyala. Sebuah kamar tampak begitu berdebu tanpa ventilasi udara. Bau dari kematian kelelawar, tikus, dan anyir cairan di ember menguar memadatkan ruangan dengan aroma bangkai. Bau-bau itu nyatanya membuat penghuni ruangan bertambah senang. Maha karya akan lahir dari ruang pribadinya. Dinding ruangan dilapisi semacam rak telur dan busa. Penghuni ruangan ini begitu menikmati pekerjaannya. Dia tak mau apabila orang yang berkunjung atau tetangga terganggu dengan aktivitasnya.
Sosok lelaki itu berdiri mematung mengamati dinding yang telah banyak hiasan. Mirip bengkel yang disatukan dengan alat peternakan dan toko bangunan, semua tergantung menghambur. Tapi berhamburannya barang-barang justru membuat lelaki itu bahagia dan fokus. Semua alat nyatanya terkesan bekas karena penuh dengan karat pada bagian besinya.
Oh Tuhan, alat-alat menciptakan bunyi bising semua. Pria keluing ingat saat masih kecil, orang tuanya akan memukul pantatnya jika berbuat gaduh. Dia belajar dari itu. Pria tersebut lalu mengambil solder listrik. Dia duduk pada sebuah kursi plastik. Jari-jemarinya turun untuk membuka laci. Dengan penuh penghayatan dia keluarkan sebuah foto perempuan.
Solder ia letakkan di atas meja. Sosok tersebut kemudian mendekatkan foto ke arah wajah. Tak lama ia pindah lagi foto itu mengarah ke lampu plafon. Bayangan terlihat. Dia tersenyum. Pria itu berdiri sekarang. Kembali foto ia pandang lebih dekat. Sekonyong-konyong mulutnya dengan mesra mencium foto. Pria itu tertawa. Usai cium foto tersebut, sekejap lidahnya menjulur lalu menjilat-jilat foto dengan nikmat. Seoalah birahi telah membludak dalam syahwat, tiba tiba merembes cairan dari celananya.
Pria itu tertawa lagi melihat bagian celana antara selangkangan basah membundar. Foto tersebut mulai ia lumat-lumat romantis.
Pria kaki seribu ini menikmati berapa momen sebelum foto yang bermandikan liur itu telah berpindah menempel ke dahinya. Dia berdiri dan menari. Foto di dahinya itu sekarang beradu dengan lampu. Dia menari kotor sambil mendongak ke atas. Sekitar 5 kran pemadam api di plafon. Sejenak ia berpikir tentang keunikan desain ruangan ini. Apa karena terlalu berharga isi di dalamnya sehingga kran penyembur air saat kebakaran harus dipasang sedemikian banyak? Foto tiba-tiba terjatuh di lantai, pria itu menggeleng kegirangan.
Langkah kaki pria keluing ini kemudian mendekati sebuah kulkas usang. Dia buka kulkas itu dan uhh..Sungguh segar bau yang keluar. Segala daging, sayur, sampai marus berkumpul, dan berdesak-desakan di freezer menciptakan aroma yang ia sebut natural serta terapi. Dari dalamnya ia ambil minuman dingin. Derap kakinya kemudian mendatangi microwafe tua. Oh tampaknya pria itu kelaparan. Tak lama ia keluarkan piring. Lidahnya menjulur dengan semangatnya.
Yeah. Makananku datang. Huuu..nyummy.., girang batin pria itu.
Piring itu membawa menu favoritnya. Bosan dengan stik atau barbeqiu, pria keluing ini lebih senang menyantap marus goreng.
Sambil menikmati dengan sedap pria itu mengingat kejadian saat SD yang harus pingsan karena upacara bendera.
Sejak saat itu dirinya kerap dihidangkan marus oleh orang tuanya sebagai sarana penambah darah. Pendapat orang tuanya bahwa hati itu juga sebenarnya marus dalam bentuk organ. Namun khasiat sejati ada pada marus itu sendiri. Sebagai anak laki -laki yang menurut dan berusaha bersikap baik, tentu ajakan itu berubah menjadi amalan wajib baginya sampai sekarang.
Pria Kaki seribu lalu menarik laci lagi. Dia keluarkan sebuah diary usang. Catatan kenangan yang ia pegang kukuh sampai sekarang. Masih dalam kegiatan mengunyah, pria kaki seribu itu membaca beberapa halaman. Tiba-tiba air matanya tumpah. Dia tersedu sekarang. Marus itu kini bercampur sensasi asin. Ia tak suka rasa itu. Pria itu dengan cepat menyeka kedua matanya. Berusaha melupakan memori, pria maniak itu memilih edarkan pandang ke arah ember cat di samping kulkas. Sebenarnya ada aura penyesalan manakala cukup banyak cairan merah darah itu tak sempat ia jadikan marus. Kulkas tak muat mau di apa? Hanya jadi berapa puluh kantong saja di kulkas itu. Dia berpikir untuk membuang sisanya karena pasti telah basi menggumpal kehitaman.
Berapa minggu lalu tersiar di televisi bahwa marus dilarang. Tapi bagaimana? Pria kaki seribu ini kecanduan. Dia dengan segala rencananya menciptakan kreasi marusnya sendiri.
Merasa kenyang dengan itu si pria beringsut dari kursi. Matanya mencari-cari sesuatu. Yah. Kemana foto yang jatuh tadi. Ketemu. Ternyata di bawah meja. Ia ambil dan taruh di atas piring kosongnya.
Pria kaki seribu lalu mengambil sorder, dia sengat foto itu dengan panas sorder tapi tak hangus. Bagian -bagian hitam dari sengatan sorder itu membuatnya tentram. Sebentar lagi ku temui kau, sayang.
*
Dalam kamar, aneka makanan telah Gusti beli dari perjalanan rumah sakit tadi. Tapi entahlah, malam ini perutnya terasa kenyang. Hingga ujung dari rasa itu adalah terabaikannya semua makanan di atas meja.
Enggan mendekat bahkan terasa mual dia lebih memilih berbaring di kasur dan menonton video itu lagi. Ayolah, kau bisa . Tonton dengan saksama.
Sebuah lagu dengan judul Gloomy Sunday terdengar dalam video diikuti langkah menari sosok pria keluing yang mengenakan topeng night baron. Di depan lelaki bedebah itu terlihat Susan tanpa busana berbaring dengan ikatan di tangan, perut, dan kaki. Jika sudah begini miriplah dia dengan seorang pesakitan. Di sudut meja panjang itu terlihat sebuah lubang pembuangan. Di bawah meja telah pria kaki seribu itu letakkan ember cat.
Dengan berdandan layaknya drakula pria kaki seribu berjongkok lalu membenarkan posisi ember. Pada momen ini Gusti lebih memilih mengamati ruangan itu sebelum jatuh ke aksi.