PUKAT

Heri Haliling
Chapter #6

Sebuah Pengakuan

Berita pembunuhan keji di wilayah Sine Qua Non menjadi trending topik. Videonya pun viral kemana-mana. Hal ini menimbulkan kecemasan dan ketakutan bagi masyarakat sekitar. Bagaimana mungkin daerah yang bukan kota begini malah menyimpan seseorang yang punya sifat sakit mental.

Tak terkecuali Altar yang tampak duduk di sudut kamar, tangannya gemetar memegang ponsel. Altar menggeleng pelan. Hatinya mulai dilanda gusar, seperti ada kabut tebal yang menutupi pikirannya. Dia lalu berdiri dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Sesekali ia pandang jendela yang terbuka dengan cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan. Berharap ada suatu hal yang tak hendak ia tunggu untuk mampir. Sekarang ini biar dunia luar tidak perlu menjangkau dirinya. Pikiran tentang pesan yang tak jelas itu terus mengisi setiap sudut otaknya. Tangan Altar masih menggenggam ponsel. Perasaan gelisah yang mengganggu seperti sesuatu yang tidak bisa dia tangkap lalu mengendap begitu dalam. Jujur saja itu berubah ketakutan sekarang. Di samping pesan yang mengancam itu, berita tentang Gusti yang sedang diwawancari berbagai media nyatanya menambah keruh jiwanya. Inti dari jawaban Gusti adalah pencarian sosok yang mengirim video itu. Duh, bagaimana ini. Cepat atau lambat polisi akan mencurigaiku, gumamnya.

Altar melemparkan tubuhnya lalu berguling-guling tak menentu di atas kasur. Berpikir tentang bagaimana menjelaskan kepada polisi bahwa posisinya pun disudutkan oleh ancaman tentang ibunya yang akan dibunuh apakah cara terbaik? Jika benar, lantas bagaimana nasib ibunya setelah itu? Jaminan? Mungkinkah tangan petugas wilayah ini selalu tenang mengamankan selama 24 jam?

Akh! Sialan., sialan!

Altar bangkit lagi dan mengacak-acak rambutnya. Dia tengok jam dinding mengarah ke angka 10. Bahkan pagi ini dia lupa sarapan. Mungkin lebih tepatnya dia tak lapar. Berapa menit lalu Altar sudah atur janji untuk diskusi dengan Danar. Daripada cemas dengan prilaku tak jelas mending segera bergegas, batin Altar memulai lagi.

Usai meloncat kasur, Altar segera menuju ke lemari untuk ambil handuk dan pakaian.

"Altar..,Altar?? Mama pulang," seru Larasati sambil mengetok pintu.

Altar tinggalkan baju pilihannya di atas kasur. Dia lalu berjalan menemui ibunya.

Pintu dibuka.

"Haiii anak mama?" kata Larasati sambil memeluknya.

Oh Tuhan. Percampuran antara gelisah, malu, dan kikuk menggumpal manakala Altar terkurung dalam situasi demikian.

Parfum Larasati begitu menguap memenuhi ruangan. Sebagai ibu dengan usia anaknya yang telah mencapai 26 tahun, Larasati nyatanya berhasil memempertahankan kharismanya. Wajah Larasati sama sekali tak memperlihatkan kalau kini usianya sudah 45 tahun. Sementara tubuhnya begitu penuh dan padat yang akan membuat lelaki bengal macam Handarbeni dan sekutu-sekutunya terduduk lalu menyembah kepadanya. Di mata Larasati menjadi seorang perempuan dewasa yang dianggap cantik dan diidam-idamkan adalah tujuan yang tidak bisa diganggu gugat. Bila diperhatikan lebih dalam, bukan hanya wajah halus tanpa cela atau tubuh sintal yang menjadi kebanggaannya, tetapi juga sikap Larasati yang selalu tampak gemulai. Ibunya itu tahu betul bagaimana cara berbicara kemayu dan berjalan dengan langkah yang menggoda. Bahkan sikap kemayunya tak segan ia tunjukkan ke putranya.

"Altar. Lihat, ibu belikan apa untukmu" kata Larasati tersenyum dengan lipstik tebal merekah. Tangan lentik Larasati menyerahkan bingkisan kepada Altar. Pemuda canggung itu kemudian membuka bingkisan.

Mata Altar membelalak tak percaya.

"Gimbal stabilizer Zhiyun smoth 53? Yang bener Ma."

"Iya dong?"

Wajah Altar yang sejak tadi kusam menjadi rona bahagia.

"Bagus nggak, Altar?" suara seorang lelaki.

Altar melongokkan kepala keluar kamar.

"Eh..Om. Sejak kapan?" kata Altar menyusut kecut.

"Ya. Sejak kalian bercakap tadi," jawab Handarbeni.

Tak dapat dipungkiri bahwa dari paras, memang lelaki ini mendekati sempurna. Dengan cukuran modis, kumis tipis, dan sikap dewasa Handarbeni merupakan sosok dambaan wanita.

 Keparat, benak Altar mendesis.

Larasati yang menyadari perubahan iklim Altar segera alihkan topik.

"Daripada ngobrol di sini, mending ke meja makan yuk. Altar juga belum sarapan, bukan? Mama belikan Altar kebab juga nih?"

"Tapi Altar nggak lapar, Ma."

Handarbeni beradu pandang dengan Altar. Pria perawakan tegap itu mengetahui jika Altar tak pernah setuju dengan hubungannya.

"Sudah..sudah, jangan bantah Mama."

"Beneran, Ma. Gak lapar. Oh iya, ini," mengembalikan bingkisan.

"Kenapa Altar? Kurang bagus."

Lihat selengkapnya