Suasana pukul 1 dini hari di kebun sawit begitu tenang, hanya terdengar suara serangga yang saling bersahutan di balik hutan kecil yang membatasi perkebunan. Langit malam begitu gelap dengan sedikit cahaya bulan yang menyelinap di sela-sela pohon sawit tinggi. Udara terasa susut ke titik terdingin dengan aroma tanah basah yang tercium lalu menyusup ke dalam paru-paru. Di kejauhan, suara burung hantu terdengar sesekali, memecah kesunyian yang melingkupi. Kebun sawit yang biasanya ramai oleh aktivitas siang hari, kini tampak sepi dan hanya dihiasi oleh deretan pohon sawit yang terlihat siluet di bawah cahaya bulan. Setiap helai daun sawit yang bergoyang perlahan seolah bergerak mengikuti irama angin malam. Pada sebuah petakan sawit yang cukup rimbun, Altar melakukan pengintaian diam-diam. Sebelumnya telah ia buntuti sebuah mobil xenia hitam yang keluar menjauh dari hotel Melati kira-kira 1 jam lalu.
Dengan jarak terkontrol Altar terus mengikuti. Saat dirasa yakin bahwa mobil targetnya berhenti di lahan ini, Altar segera menyembunyikan mobil bekas hasil ngevlog-nya.
Altar berpikir dan mengukur suatu hal sekarang. Beranikah dia keluarkan kamera yang terselempang di badannya? Bukankah ini merupakan konten menarik? Terus ia bergulat dengan itu hingga sosok pria keluar tergopoh-gopoh dari mobil. Napas pria itu tersengal kelelahan. Altar dapat menilai itu dari cara ia berjalan yang sedikit membungkuk. Derap kaki pria itu mengarah ke bargasi belakang. Oh Tuhan, Altar menutup mulutnya sendiri.
Sosok tubuh perempuan telanjang bermandikan cahaya rembulan tampak berpendar dari bargasi.
Altar yang duduk bersembunyi di balik tumpukan kayu, sekejap membeku. Napasnya tercekat, berusaha serapat mungkin menahan embusan tak terkontrol yang mungkin saja terdengar. Tangannya menggenggam erat tas yang berisi kamera dan ponselnya. Kecemasan lalu menjalari jari-jarinya yang dingin mulai kaku. Suara gerakan menyeret pria di sana semakin terdengar manakala tubuh itu bergesekan dengan dedaunan kering pelepah sawit. Setiap gesekan menggema di telinga lalu memantul dengan begitu jelas dan pada akhirnya membuat jantung Altar berpacu lebih cepat. Kecepatan detakan itu bahkan seperti petir yang tak henti-henti menggelegar. Altar tahu, jika salah gerak sedikit saja, pria di sana akan mendengarnya. Altar menempelkan tangan di jantungnya. Kepanikan bisa kacaukan segalanya. Ia reguk liurnya. Oh Tuhan, sungguh terasa kering tak nyaman.
Mata Altar terjaga tetap menatap ke lanskap terbuka samar. Sungguh, dirinya tak berani memalingkan muka sedikit pun. Ayolah Altar kau bisa. Ini bukti menarik. Ya. Bukti. Ini bagus. Kau harus berani Altar. Ayo, hati Altar berkecamuk. Dia coba membuka resleting tas. Mengeluarkan dan mengangkat ponsel dengan posisi kamera ke arah tanah sebelum siap menyorot. Sungguh sial, lampu ponsel mode malam tiba- tiba lupa belum dinonaktifkan. Benarlah kata orang bahwa bilamana indera telah terpengaruhi situasi maka meski berakal dan logika, nyatanya seorang itu terpedaya oleh suatu rasa yang tak bisa dijelaskan. Sekonyong -konyong kilatan cahaya keluar menyinari kelam.
Pria kaki seribu terkejut dengan hal itu. Wajah bertopeng senyum itu menangkapkan pandangan ke arah Altar.
"Celaka! Kacau-kacau!" pekik Altar tanpa ba-bi-bu langsung menghambur menerebas celah jalan tikus di tengah lahan sawit. Pria kaki seribu terlihat di belakangnya seolah dengan jelas tak mau membiarkan buruannya lepas. Altar berlari membabi buta. Dia lalu jatuh meringis manakala duri dari dahan pokok sawit menggores kaki kirinya. Seharusnya ponsel itu ia fungsikan sebagai senter sekarang. Berlari dalam kondisi panik begini ia harus bermain taruhan antara memilih mati kena tikam atau tersambar kobra bahkan macan. Ia pegang kakinya yang tersayat nyeri. Faktanya senter hanya memperburuk keadaan. Altar meremat tangan lalu bangkit. Meski kepayahan, seusahanya ia berlari lebih cepat.
Jalan tikus yang rusak karena ban dum truk ini berlubang basah. Altar mengetahui dari sorot bulan yang sekilas memantul di atas permukaan lubang. Kini setiap langkah di tanah berlumpur membuat tubuhnya terguncang. Paru-paru seolah terisi jelaga. Megap-megap kepayahan itulah yang Altar terima. Namun tetap ia berusaha abaikan. Hanya satu yang ada dalam pikirannya yaitu selamat dari bayangan pria petaka itu. Altar kian masuk dan sekarang berada di tengah perkebunan .
"Halo..halo. Polsek Sine Qua Non. Yah benar. Pembunuh itu mengejarku. Aku tak bohong. Ya. Lokasiku di PKS Sejahtera. Bukan jalan hauling itu. Aku lewat alternatif sebelah barat."
Altar berhenti. Wajahnya menatap rembulan. Basah? Kelabu mega menutup cahaya. Pelan tapi sering kini rinai jatuh memulas wajahnya yang bercampur keringat dingin. Tuhan, apa mungkin malam ini pemberhentianku mengendus dunia? Tangannya gemetar mendekap dada dan perut. Ia tahu; di tengah malam yang mulai pekat ini, siapa pun yang tersesat di kebun sawit akan kesulitan mencari jalan keluar. Lahan ini sangat asing. Banyak ia tengok liku jalan yang seperti labirin tanpa ujung. Berjalan beberapa langkah, Altar lalu mencapai sebuah pohon sawit yang lebih besar dari yang lainnya. Ia merunduk di bawahnya, mencoba menyembunyikan diri dari hujan yang kian deras. Altar mengatur napasnya. Pria pemburunya seolah menghilang. Sialan, perasaan ini sangat mengganggu. Sungguh Altar tak menyukai situasi sekarang. Parno di dadanya muncul. Ia mengkhayal-khayal mungkin sekarang pria maniak itu bisa muncul di belakang atau ke dua sisinya.
"Oh, bedebah! Ayolah ini bukan bagian dari film thriller kebanyakan," gumam Altar muak dengan posisinya. Dia mengelilingkan pandangan. Bagaimana sekarang? Adegan klasik akan memunculkan maniak itu secara kejutan. Ah! Ayolah pria kuat. Hentikan pembodohan ilusi ini, batin Altar.
Altar melanjutkan langkahnya beberapa tapak. Sejurus kemudian benar saja ia lihat sosok pria yang mengenakan topeng night baron melipat kedua tangannya berdiri mengamati. Hujan deras menciptakan halimun. Namun Altar yakin, bayangan hitam di sana seolah berhasil menguncinya. Altar mengumpat untuk kesekian kalinnya.
Altar melangkah memutar untuk siapkan posisi kuda-kuda pelarian. Sekarang secara horizontal pandangan pria maniak itu lurus ke arah Altar. Tiba-tiba dengan kejut, pria kaki seribu lari menyongsongnya. Pemuda itu pun tak tinggal diam. Kuda-kuda yang ia siapkan segera melesak bagai peluru dan kembali keduanya membelah perkebunan.
Lari terus lari, pikir Altar hingga ia tiba di sebuah jalan hauling.
"Bagus. Ini keuntungan buatku."
Tanpa berpikir panjang, Altar mulai berjalan menapaki pinggiran jalan. Setiap langkahnya semakin mantap, meskipun tubuhnya terasa porak poranda. Altar tak bisa menahan rasa leganya.
Namun dengan sekejap cepat tanpa Altar sadari dari samping kanan pria maniak muncul. Altar berkelit sebisanya manakala sebuah mata sangkur warna putih di mana besinya berpendar menyilau kegelapan menyerong incar jantungnya.
Altar gesit mundur dan memutari pria maniak.
Crassss!!!
Mata pisau yang seharusnya menikam jantung kini lepas dan hanya mengiris lengan kiri Altar. Pemuda itu jatuh ke tanah. Ada rasa dingin bercampur nyeri. Jaraknya kini kurang dari dua meter. Seperti seorang gila kebanyakan, pria maniak itu memiringkan wajahnya ke kiri dan ke kanan.
"Setan alas!" umpat Altar.
Senyum menyeringai topeng itu masih tercecap darah korban-korbannya. Pria itu tetap menghunuskan pisau ke arah Altar. Dada Altar naik-turun bermandi hujan. Mungkin hampir meledak sekarang.
Apa? Apa yang bisa dijadikan perlawanan, pikir Altar.
Matanya menyiku mengamati peruntungan. Sial tak ia temukan barang batang kayu atau batuan kuat.
"Persetan!"
Altar bangkit. Dia bersiap melawan dengan hanya bermodalkan selempangan tas. Memang sedikit Konyol. Seberapa hebat benda di dalamnya itu untuk hantaman? Nyatanya psikologi seorang akan patahkan logika. Otak akan menstimulus tubuh sesegera mungkin. Sekali lagi dalam tekanan begini, bahkan ujung kelingking pun mampu seorang anggap benda penusuk.
Pria maniak mengangkat dagu. Kedua tangannya menjulur seolah menyambut. Belati di tangan kanannya sekilas memerah berbalur darah.
Mata Altar menyipit. Ia tahu betul pria di depannya itu memiliki segalanya:pengalaman, kekuatan, dan ketakutan yang mengukung tubuhnya. Altar bangun dengan menopang lutut. Desau angin kini menyeruak bercampur hujan. Wajah kuyup Altar menimbang. Seolah hendak meloncat dalam tahapan penyerangan, dengan gesit Altar memutar badan. Pria bertopeng itu sedikit mundur untuk kuatkan pijakan. Namun dengan licin Altar memilih kabur. Jelas tak ada untungnya duel dengan pria sakit macam dia.
Altar melihat pria maniak di belakangnya itu tak mengejarnya. Dia hanya berdiri mematung dengan kedua tangan melentang. Berpikir mungkin ini permainan yang membosankan, Altar tak peduli. Ia terus berlari dengan mendekap lengan kirinya yang luka. Di depan, sekitar 50 meter dari tempat Altar berlari akhirnya terlihat sorot lampu senter. Altar tersenyum. Semakin dekat, Altar melihat Petugas Lheman dan dua petugas lainnya segera tanggap dan menyambut. Entah bagaimana energi itu berangsur-angsur surut. Panas di pikiran dan dada mulai menurun pada titik kesetabilan. Masa ini normal tubuh mulai memberikan gambaran sesungguhnya. Semua nyeri mulai merajami badan. Altar sekarang tampak terseok-seok. Kemudian pada jarak setengah meter manakala petugas hendak membopohnya, tubuh lemas Altar mendadak tersungkur di tanah. Dia pingsan.
*
Sebuah kamar ber-Ac lengkap dengan pewangi ruangan khas obat terendus masuk di antara lubang hidung Altar yang mengembang dan mengempis. Mulutnya terasa kering dengan mata yang cukup mengantuk dari efek obat bius. Dia pandangi jam dinding, pukul 12 siang. Sungguh perputaran yang cepat saat tubuh bereaksi pada satu tekanan. Matanya lalu beringsut turun menatap tangan kanannya yang sedang terbelit selang infus. Sementara lengan dan kaki kiri telah dibalut dengan perban. Ia terkulai lemah namun berusaha sadarkan diri untuk memastikan keberadaannya di rumah sakit, Altar menghela napas kantuknya.
Di sekitar ruangan tampak Petugas Gusti dan Lheman tengah berbincang. Tapi satu hal yang bikin penasaran, ke mana mamanya? Dengan mata berat Altar memutarkan pandangan untuk mencari-cari di kamar itu. Nihil.
"Jika yang kau maksud itu ibumu, dia sedang dalam perjalanan ke sini," ujar Gusti membenarkan kuncir rambutnya.
Altar memejamkan mata. Mencoba ia pikirkan tentang kemungkinan sang mama menjalankan ritual wajibnya, dugem sampai dini hari di kota, mabuk, menginap, dan mungkin pagi pulang bersama pria bedebah itu. Namun sejurus kemudian Altar mulai membantahnya sendiri. Bukankah pria urakan tersebut sedang berencana party dengan korban di hotel? Lalu di mana mama? Altar merangkum wajahnya untuk mencoba menjernihkan pikiran. Mimpi buruk yang barusan ia alami begitu menguras energi dalam mentalnya.
Tak lama seorang terdengar mengetuk pintu. Apakah itu Mama? Dia sedikit mengangkat kepala.
Lheman berdiri dan membukanya.
"Hai Altar, kau sudah sadar?" tanya Danar.
Altar terkulai lagi. Harusnya ia tak mengharapkannya. Apalah yang mau diharapkan dari mama yang punya hobi begitu. Tuhan, hentikan sudah rasaku ini. Aku tersiksa dengan pondasi keluarga begini, keluhnya dalam hati.