PUKAT

Heri Haliling
Chapter #8

Kutukan

Berkaca di depan cermin sambil mengenakan topeng Night Baron, pria ini seperti kemasukan roh di siang bolong. Ada sensasi kejut. Bergetar dan ia dekap lekat dua lengannya. Beginikah menjadi seorang penentu permainan? Pria itu menggeleng. Berjalan dalam ruangan itu ia menyambangi beberapa titik. Tuhan, sensainya sungguh aneh. Tak tahan dengan itu tangannya segera sibuk mengorak arik meja. Diary? Hmmm....,Ia tatap dalam-dalam buku kecil itu. Dia buka halaman demi halaman. Pria itu menyeringai bahagia. Mungkin isinya lucu. Dia lalu menarik kursi dan duduk. Ia lanjutkan membaca, Night Baron tertawa lepas sekarang. Sambil ia pandang ruang kerja ini. Pada sebuah sudut, teronggok di atas kursi, pria bertopeng itu mengamati beberapa barang Selvia. Sisanya seperti tas dan baju masih tergantung. Di bawah barang Selvia, tepatnya di lantai ada barang Susan. Terlihat ada sesuatu yang menarik, pria Night Baron itu mendekat memastikan. Tiada gerakan. Pria itu berdiri tepat di bawah lampu. Bayangannya yang merayapi lantai serasa begitu senyap tanpa rasa. Pria bertopeng mengangkat sebuah benda kepunyaan Susan. Dia seakan baru sadar tentang ini. Sementara kesadaran itu membawanya pada satu ingatan. Dia genggam benda itu. Aneh, tubuh pria itu ambruk dalam posisi duduk. Tersedu sebentar tapi kemudian berangsur naik. Saat rasa itu telah memuncak, pria Nigt Baron itu menghantamkan tangannya ke lantai. Segenap kekuatan tumbuh. Dia bangkit dengan tampilan mendung dan tekad kuat. Pria itu lalu bergegas untuk sebuah hal. Sebelum dia keluar ruangan, diary itu ia tatap kembali. Dirinya bersumpah akan selesaikan tentang rencana yang sudah berjalan.

*

Hiruk pikuk penonton yang molor bekerja makin menyulitkan mobil polisi melintasi jalanan saja. Pria wanita, muda tua semuanya merubung pada satu lokasi. Bagai cendawan musim hujan, kerumunan ini tumbuh membludak dan berkembang biak setiap jamnya. 

Tiada yang berbeda saat ini. Semua menampilkan mimik ketakutan dan kengerian. 

"Ada pembunuhan lagi!!"

"Ada mayat!!"

"Ya ada mayat!"

"Perempuan!! Korban pria kaki seribu!" suara dari warga dan pekerja yang menonton.

Klakson dan sirine polisi toh nyatanya tak mempan sekadar membuat para pekerja sawit yang gaduh itu bergeser dari ruas jalanan. Suasana siang itu begitu kisruh. Dari jendela mobil ia saksikan pinggiran jalan telah menampilkan antrean panjang. Seolah mereka tengah menunggu giliran menonton pertunjukan. Gusti tak senang dengan itu. Sampai pada lokasi yang dikatakan Lheman, Gusti turun dari mobilnya.

Tuhan, apalagi ini. Gusti mengamati lingkungan itu. Enam orang berbaju putih tampak mengerubungi jenazah. Ah itu biasa, sebenarnya. Tapi kali ini ada yang berbeda. Sekitar sepuluh orang muda-mudi mengenakan rompi dan membawa audio rekam mulai berlagak seperti fotografer dengan mencondongkan badan ke kiri dan ke kanan. Dari sepuluh itu ada juga beberapa terlihat mencatat informasi sambil sesekali mendongak mendengarkan penjelasan lebih lanjut. Mereka banyak yang mengenakan kacamata. Lalu dari mata yang bertembus kaca itu, Gusti membaca sorot mata yang terus memantau keadaan sekitar. Gusti juga melihat beberapa saksi berekspresi bingung. Umumnya pengetahuan mengarahkan pada situasi itu. Jelaslah, bilamana tak sesuai memberikan keterangan, salah-salah dakwaan tersangka tersemat kepada saksi itu. Kalau direnungkan kembali, informasi begitu cepat tersebar dan mereka (wartawan) sungguh gesit mengambil kesempatan. Tiga orang perempuan berompi dengan kerah baju berwarna biru dan juga hitam tiba-tiba menyonsong Gusti.

"Petugas Gusti, sejauh mana perkembangan kasus ini?"

"Petugas Gusti, apakah polisi sudah mengantongi beberapa orang yang dicurigai?"

"Selamat siang petugas Gusti. Bagaimana Anda menyikapi pembunuhan beruntun ini. Tidak sampai satu minggu, dua perempuan tewas mengenaskan."

"Petugas Gusti akankah datang intelejen dari pusat kota untuk ungkap kasus yang di luar kemampuanmu ini?"

Gusti menyilangkan tapak tangannya. Ia bawa tubuhnya tetap fokus ke depan. Seusahanya ia hindari juluran tangan wartawan-wartawan itu. Sejujurnya, Gusti lebih senang menyampaikan pernyataan tertulis ketimbang sebuah pandangan langsung. Pria gondrong itu sadar, menyampaikan kronologi atau perkembangan penyelidikan itu sama saja menghunuskan pisau bermata dua. Satu akan menciptakan rasa tidak tenang atau tekanan psikis yang dialami pelaku. Sementara satunya lagi merupakan janji dari kekonsisten yang bilamana dalam penyelidikan timnya keluar dari pernyataan tersebut sudah jelas akan digoreng habis-habisan oleh media. Berlagak tak peduli tapi telinganya tak mungkin tuli. Pancingan-pancingan itu sungguh menggusarkan karena godaannya yang begitu kental. Misalkan pertanyaan tadi "Petugas Gusti akankah datang intelejen dari pusat kota untuk ungkap kasus yang di luar kemampuanmu ini?"

Gusti meremat mulutnya. Mengakui bahwa pertanyaan beberapa detik lalu sungguh godaan yang bagus. Makna pertanyaan itu jelas berisi keraguan kinerja yang dilakukannya dan tim. Media memang brillian untuk memasang jebak. Jika Gusti ikuti berontak hatinya untuk bersuara, pastinya dengan lantang ia jawab pancingan itu. Gusti akan paparkan ketajaman deduksi dan penyelidikan. Tapi hal tersebut tidak akan selesai cepat. Gusti mengerti manakala pancingan itu berhasil maka wartawan akan menguliti lebih dalam. Jika begitu alamat kebocoran informasi berpeluang besar bakal menjelma sebagai bomerang, begitu kira-kira ia mengkalkulasi.

Pak Muhram yang tau sebab mencoba menyelami mimik petugas itu segera menyapa,

"Selamat menikmati makanan pedasmu, Nak. Sebulan atau dua bulan ini jika tak segera kau ungkap, mereka pasti mengunyahmu."

Gusti tersenyum. Koleganya satu ini memang punya insting tajam.

"Apa yang bisa saya lihat di sini?"

Pak Muhram mengangkat bahu.

"Masih sama. Pola, ciri, dan tekniknya juga sama."

"Ini pasti kutukan. Ya. Kutukan. Perkebunan ini sudah dikutuk!!" seru seorang pekerja perempuan berumur sekitar 52 tahunan. Cara dia menyampaikan merupakan keyakinan dari pengalaman pahit yang telah ia lalui di sini. Tak ayal seruan itu memperoleh dukungan yang lain.

"Benar itu petugas!.., dari pembunuhan sejak 5 tahun lalu. Sekarang mulai sering terjadi," timpal satu pekerja dekat perempuan itu.

"Setuju!"

"Ya!"

"Ya!" timpal sekelilingnya setuju.

Lheman menggeleng geli. Dia mendekati salah satu warga yang menyeru pertama kali. Benar dugaannya, pengalaman dari seorang yang dipatuhi beraura di wajahnya. Tapi sebagai seorang yang lama pula berkecimpung dalam dunia logika, hal itu tentu merupakan seruan omong kosong. Tahayul? Ah tak pernah ada dalam secuil pikir petugas tersebut.

"Ayolah. Kalian kolot sekali. Mana ada seperti itu." Mulut Lheman meremehkan, "kasus dulu tak ada sangkut paut dengan hal ini. Bukankah hasil olah TKP dan semua petunjuk mengarah pada aksi bunuh diri," imbuhnya sambil telunjuknya mengarah ke kepala. Lheman mengejek.

"Kalian petugas perusahaan, bukan pengayom masyarakat!" semprot si pekerja perempuan.

"Hei!! Diam. Jaga ucapanmu!!" hardik Lheman dengan wajah melotot padam. "Membuat laporan palsu dan penggiringan opini yang bisa merusak citra kepolisian itu kriminal. Pidana urusannya, tau!"

Gusti mendekati rekannya yang mulai bersungut-sungut. Ia tapak bahu Lheman dan berusaha mencari tahu.

"Apa yang terjadi 5 tahun yang lalu?"

Lheman menggeser tubuhnya. Merangkul Gusti untuk menjauhi kerumunan. Kini ia ajak rekannya itu agar membelakangi mereka.

"Tak usah kau pikirkan. Mereka yang protes ini sedikit tercemar oleh doktrin liar. Jelas-jelas hasil otopsi bahwa jasad yang tergantung saat itu tak ada luka penganiayaan. Tanya saja si Tua di sana itu," tunjuk Lheman ke arah Pak Muhram. "Aku heran juga, mereka ini buruh perusahaan, tempat cari makan. Tapi malah berpikiran picik seperti itu. Tak tau diuntung!" lanjutnya mengedarkan pandang ke belakang dengan raut kesal.

"Gantung diri? Ayolah kawan. Kau tak menjawab pertanyaanku?"

Lheman menatap tajam kepada Gusti. Sejurus kemudian satu cletukan dari pekerja perempuan itu mendahului keterangan yang hendak ia jelaskan.

"Hei!! Petugas pintar?"

Gusti yang merasa itu untuknya pun menoleh. Lheman menampik badan Gusti dengan kode tinggalkan mereka. Tapi bukan Gusti namanya. Pencegahan hanya akan menggelembungkan rasa penasarannya. Dia membalik badan untuk berikan ruang.

 "Anda tampak jujur dan bisa diandalkan. Buka mata! Dua orang sejak kejadian itu telah jadi bangkai di tanah ini. Anda pikir ini apa jika bukan tanda kesialan! Jangan Anda dengar ular di sebelah itu. Dalam perutnya mengandung sisa hak dari tanah adat kami yang digusur perusahaan ini!"

"Kau..,perempuan sundal!! Tunggu di situ!!" ujar Lheman tersinggung dan mendekatinya. Gusti segera mencegah. Dia berbisik di telinga Lheman.

"Posisi kita tak menguntungkan. Ini hanya akan keruh dan menghilangkan petunjuk. Kita harus kooperatif."

"Bualan mereka yang kau dengar itu yang akan hilangkan petunjuk," timpal Lheman nyaring.

Tiba-tiba hp di kantong celana Gusti bergetar. Dia cek. Sebuah panggilan aktif dari Kasandra.

“Oh Tuhan, tidak sekarang Kasandra,” gumamnya dan mematikan panggilan.

Lihat selengkapnya