PUKAT

Heri Haliling
Chapter #9

Succubus

"Apa kau yakin hendak lakukan ini. Kondisimu saja masih begitu," cakap Danar pada suatu sore.

"Kita tak bisa berhenti. Proyek harus tetap jalan, bukan? Aku tak mau suscriber kita pindah mitra."

Tangan kiri Altar yang masih masa penyembuhan itu ia gerak-gerakkan untuk membantu tangan kanan dalam pemasangan tripod. 

Danar ingat kejadian siang tadi saat masih di rumah sakit. Usai cekcoknya dengan sahabatnya itu dan kepergian sang polisi, gantian dokter rumah sakit yang menjadi tanding debat Altar.

Sahabatnya yang keras kepala itu ingin pulang. Tentu saja hal itu tidak diperbolehkan dokter yang menanganinya. Dia masih harus dirawat dan mendapatkan obat pengering luka baik lewat oral atau suntikan.

Larasati sebagai mama yang melihat kengeyelan putranya juga tak bisa berbuat banyak. 

Altar bersihkukuh dengan dasar bahwa ia tak akan melewatkan pekerjaan yang telah disusun matang-matang. Sebenarnya hal itu sudah masuk dalam perdebatan saat dirinya berhadapan dengan Danar. Proyek konten sampah dengan peluang penonton yang tak maksimal. Tapi begitulah Altar. Jika sudah ada ide baik itu dari setan sekalipun, dia akan kokoh melaksanakannya. 

Danar ingat kejadian di rumah sakit itu sampai buat dokter geleng kepala karena ngotot dan sikap kekeh Altar. 

Dokter pun tak ada pilihan dengan kosekuensi jika terjadi suatu hal terkait lukanya, pihak rumah sakit tidak akan bertanggung jawab dan menerima perwatannya kembali. Tanpa sesal sedikitpun, Altar setuju dan menandatangi surat pernyataan pulang.

Singkat kisah Altar pulang dari rumah sakit. Masih Danar ingat manakala ibunya menasihati di dalam mobil tentang kelakuan putranya yang belakangan hilang kontrol. Altar dianggap kerap melawan dan tak pandang bulu saat berdebat dengan siapa saja, bahkan ibunya. 

Sikap putranya diungkapkan dengan tangis bahwa itu menyakitkan hati. Sekali lagi, cekcok terjadi di dalam mobil. Hal ini tentu membuat Danar menjadi muak. Tapi mau bagaimana? Sahabat tetap sahabat. Dirinya dan tante Larasati juga mungkin punya pikiran yang sama. Altar depresi dan tertekan karena teror maniak kaki seribu itu. Belum lagi menurut pengamatan Danar, pihak berwajib seperti mencurigai sahabatnya itu.

"Kau melamun?" tanya Altar yang melakukan pengamatan.

"Oh. Ya," sedikit kaget. "Aku tak mengerti dengan kondisi kita sekarang."

Altar berdiri dan menatap Danar dengan yakin.

"Tak perlu cemas. Fokus adalah jalan keluarnya." Wajah Altar kemudian beralih ke jendela yang bertutup horden biru. Ia sibakkan sedikit horden.

"Entah mau sampai kapan petugas itu ada di sana, intinya kita fokus. Proyek harus gol dan kita akan netral kembali."

"Ngomong-omong kemana tante? Aku melihatnya pergi tak lama setelah dia antar kita kesini."

Tanpa menatap Danar dan masih fokus melihat petugas dalam mobil yang mengawasinya, Altar menjawab:

"Mungkin cari ketenangan. Kau tak sadar, bukan? Pejantan mama hilang. Jika sudah begitu, utama pikir dalam otaknya pasti akan mengutamakan kebutuhan hedon dan biologisnya."

"Kau terkesan benci dengan tante Larasati. Bukan begitu cara mengomentari seorang ibu, Altar."

Altar tersungging sinis.

"Memang itu faktanya. Lambat laun pasti dia secara terang-terangan akan ungkapkan juga. Ini hanya perkara waktu."

Altar berbalik dan kembali fokus pada persiapan. Dia terlihat mengotak-atik kamera sekarang.

"Apakah perempuan sebagai succubus itu sudah siap?"

"Yah. Aku telah membelinya di sekitar warung jalanan ini. Dia siap kita sewa."

"Bagus. Malam ini kita ke lokasi yang sudah ku tentukan."

"Apa video pembunuhan itu sudah kau terima?"

Hening sebentar.

"Ku rasa tidak. Bedebah itu pasti sudah mencium aroma ketakutan sekarang."

"Apa dengan langkah kita memberitahukan itu pada petugas akan membuat tante Larasati baik-baik saja."

Altar berdiri dan kembali menatap Danar. Kali ini matanya tajam dan melotot.

"Itulah yang ku lindungi selama itu, jenius!! Mengapa kini kau simpati. Bukankan pagi tadi kau sendiri yang mendesak itu. Sekarang kau berpikir jernih. Tapi kejernihan otakmu itu lebih ku nilai dengan kesimpangsiuran prinsipmu. Kau plinplan, Danar."

Danar menunduk menyadari itu.

"Maafkan aku."

Altar berjalan mendekati kursi. Dia duduk sambil mencabuti beludru yang ada di perban lengan kirinya.

"Buatku sekarang tak masalah jika mama menjadi sasaran selanjutnya."

Danar terkejut dengan pernyataan sahabatnya itu.

"Siapa yang plinplan sekarang?"

"Bukan itu, kawanku. Aku lebih memikirkan suatu hal yang lebih jauh."

"Maksudmu??"

"Pria kaki seribu itu hanya menggeretak kita saja. Sasarannya bukan kita atau mama. Kau tahu, kita adalah akomodasi untuknya. Sepertinya dia suka tantangan. Dan polisi yang keteteran berapa langkah serta cecaran media yang bagai ribuan jarum tikam sungguh akan menyiksa para petugas itu."

"Tapi kau tak bisa ambil spekulasi tanpa dasar begitu. Faktanya kau diserang."

"Aku diserang karena kebetulan masuk ke dalam dunianya. Dia hanya melindungi diri."

"Artinya kita termasuk daftarnya sekarang."

Altar tertawa.

"Sudah ku bilang maniak itu mengincar kejatuhan martabat kepolisian. Dia akan bahagia dengan itu dan mengesampingkan kita."

*

Ini adalah barang-barang terakhir yang ia tumpuk dalam sebuah ruangan. Keringat Kasandra begitu membanjiri wajahnya. Ia seka peluh itu dengan tisu. Dalam lembaran tisu itu bekas noda kehitaman muncul. Debu dan kotoran agaknya ikut tumpah ruah di wajahnya.

Kasandra mengamati ruang kontrakannya yang baru. Kontrakan minimalis namun cantik dengan cat merah jambu itu membuat suasana hatinya sedikit tenang. Kasandra kemudian beranjak dari berdirinya untuk duduk di sebuah sofa. Dari tempat duduknya itu dapat ia lihat suasana malam melalui pintu utama yang masih sedikit terbuka. 

Keletihan tak memberinya tenaga untuk menutup pintu itu. Dia pikir-pikir lagi, angin malam yang masuk mungkin mampu menghilangkan debu-debu yang masih mengambang di ruangan.

Sekejap ia ambil ponsel untuk menelpon ibunya.

"Halo Bu, sedang di mana?..Kantor? Bukankah ini hampir jam 9. Lembur? Ayolah Bu. Apakah tak ada staff lain yang bisa mengganti pekerjaan itu?

Kasandra memiringkan badan untuk memperoleh kenyamanan posisi duduknya. 

"Oh begitu. Jadi ibu sementara menggantikan tugas tante Susan."

"Begitulah Kasandra," kata ibunya. Dalam ruangan pabrik itu terlihat Bu Sardah bercakap sambil membolak-balik dokumen.

"Kau jaga diri baik-baik di situ. Sebentar lagi aku akan pulang."

Bu Sardah tersenyum.

"Tenang saja. Ayahmu telah ku pesankan makanan favoritnya. Kau tau warung langganan kita, bukan? Sudahku titipi sejumlah uang dan ku minta antarkan makan malam yang masih hangat. Mungkin sekarang dia telah kenyang."

Bu Sardah mendengarkan lalu melanjutkan.

"Jadi dengan siapa kau pindah? Sendiri? Ke mana petugas gondrong itu?...Oh, begitu. Yah, jika demikian kau tunggu saja. Apa kau sudah makan? Oke bagus."

Kasandra memainkan jari jemarinya. Dia lihat kukunya mulai sedikit terkikis karena menyusun kotak kardus dan segala barang. Dia sedikit cemberut. Tapi tentu tak ia tampakkan reaksi itu ke ibunya.

"Pokoknya jangan khawatirkan Kasandra, Bu. Ya, begitu." Tiba-tiba terdengar suara mobil. 

"Nah itu mungkin dia. Baik. Ku sudahi dulu ya, Bu. Dadaahh," ujar Kasandra sambil menutup ponselnya.

"Pak Muhram, rekam suara Anda dan jelaskan secara detail kasus 5 tahun terakhir dan pembunuhan ke dua ini...Oke, baiklah. Saya tunggu malam ini. Saya tutup dulu," ucap Gusti sambil melangkah masuk.

"Hai?" sapa Gusti. Dia melihat wajah kekasihnya yang berkulit putih cina itu tampak cemong-cemong oleh debu. Pintu yang sedikit terbuka itu kini ia tutup.

"Wow, ruanganmu mirip gudang sekarang?"

Kasandra melipat tangan. Gusti mengamatinya. Apakah kedatanganku akan memicu perang, batinnya menebak.

"Kau tahu?" tanya Kasandra memutari meja depan sofa. "Jarak antara Sine Qua Non ke kota ini hanya 3 jam. Lantas mengapa kau baru sampai?"

"Truk batu bara dan getah karet sumber jawabannya, Kasandra."

"Kau lihat ini semua. Ini aku yang angkut ke sini Gusti. Aku susun sendirian. Kemana peranmu sebagai seorang kekasih. Apa ini sikapmu membiarkan perempuan lemah sepertiku harus angkut-angkut kerdus pakaian yang berat begini," jelasnya. Mata Kasandra melihat Gusti yang tampak tak merasa salah.

"Aku dikejar pekerjaan, Kasandra. Maafkan aku. Sekarang apakah aku boleh duduk?"

Kasandra diam tak menjawab. Semakin ia pandang kukunya yang rusak, semakin bertumbuh kejengkelannya.

"Duduklah sini, bukankah kau ingin mengobrol?" ajak Gusti.

Dengan ekspresi cemberut Kasandra duduk.

"Begini lebih baik. Ngomong-omong apakah kau sudah makan?"

Lihat selengkapnya