Pagi itu, langit cerah menyambut hari dengan semburat cahaya keemasan yang masuk melalui pintu kaca minimarket. Udara sejuk dengan angin dingin bercampur halimun serasa kontras dengan hiruk-pikuk aktivitas kota yang perlahan mulai menggeliat. Di dalam minimarket, suasana masih tenang meskipun tak lama lagi akan dipenuhi pembeli yang datang untuk memulai aktivitas mereka.
Pintu kaca berderit terbuka pelan saat Kasandra memasuki minimarket. Mengenakan jaket hodie ia coba menyesuaikan diri dengan geliat pagi hari. Mata Kasandra langsung menyapu pada rak-rak yang terisi penuh aneka susu, roti, hingga jajanan ringan. Ia menghela napas pelan untuk mencari barang yang dibutuhkan. Dekat ia berdiri adalah keranjang-keranjang yang difasilitasi toko untuk pembeli berbelanja. Kasandra raih satu lalu mulai tekun memasukkan roti dan snack. Sejenak derit pintu berbunyi kembali, Kasandra tertarik. Suara langkah kaki pelan terdengar mengetuki lantai minimarket. Pembeli-pembeli sepertinya mulai berdatangan memilih barang. Sekarang telinga Kasandra menangkap sesuatu. Musik instrumen diputar kasir melalui hp yang terhubung dengan speaker. Hal itu tentunya meningkatkan mood pembeli dalam berbelanja. Tak terkecuali, Kasandra yang hatinya sedang gregetan dengan kelakuan pacarnya. Diam-diam Kasandra tersenyum. Dia bayangkan lelaki yang ia ikat di kamarnya malam tadi.
"Bisa apa bedebah tengil itu sekarang?" gumamnya.
Kaki Kasandra lalu merangkak dan berhenti di rak kumpulan beberapa barang makanan cepat saji. Kornet sapi tujuannya. Untuk kualitas, itu yang utama. Kasandra ambil dua merek, membaca bagian belakang dan bawah dari kaleng itu. Seyogyanya perempuan ia akan menimbang dan menilai kali ini. Satu penilaian pasti bisa memakan waktu sekian menit karena pengalaman bidang kesehatan agak sensitif jika dihadapkan dengan makanan berpengawet. Namun akhirnya pilihannya jatuh lalu masuk ke keranjang.
Selanjutnya matanya mengedar naik turun untuk mencari bumbu praktis di dekat rak kornet itu. Sebelum tangannya meraih satu kemasan, bunyi telepon memancing perhatiannya. Dengan masih menatap satu merek bumbu cepat saji itu dia angkat telponnya.
"Halo, ayah. Ada apa? Ibu. Mengapa dengan ibu? Tak pulang?? Tidak. Dia tak ke sini malam tadi. Coba tanyakan bagian kantor. Mobilnya tak ada?" raut muka Kasandra beralih cemas sekarang. Instrumen itu tak lagi berpengaruh baginya.
"Baik, Kasandra akan ke sana."
Dia memutar badannya. Kasandra berjalan menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran dengan tergesa. Di tengah teror yang sedang melanda desanya, pikiran cemas beruban gelisah dan mulai merambat ke sikap ketidakstabilan. Kasandra ingin pulang ke kontrakan untuk ambil perbekalan dan menyiapkan baju. Lalu pikirannya beralih ke Gusti yang masih terkulai tak sadarkan diri di atas kasurnya. Apakah perlu ia bangunkan dan mengajaknya? Kasandra menimbang lagi.
"Kak..Kak? Kornet rasa sapi oriental ya kak. Kak..Kak?"
"Oh. Yaaa..,maaf."
Oh tidak. Kini ia hilang fokus hingga sempat melamun. Ah, tak ada waktu lagi. Biarlah saja aku berangkat langsung, pikirannya. Semua kemudian melayang kembali pada skesta-sketsa berita yang menampilkan potongan video dengan sensor itu. Kasandra memukul kepalanya. Gelisah itu menjadi kalut sekarang.
*
Suasana di komplek perumahan itu terasa seperti sebuah dunia yang terhenti sejenak sebelum hidup kembali dalam kesibukan yang datang. Setiap rumah yang tertutup rapat seakan menyimpan cerita dan harapan untuk menunggu waktu membangkitkan kehidupan.
Lheman dan beberapa timnya telah siaga pada sebuah lokasi. Ia mengetahui dari intel yang menyamar sebagai penjual bakso bahwa Handarbeni baru saja masuk di dalam satu buah rumah tembok yang terlihat kokoh dan nyaman.
Rumah itu berdiri dengan tegak dengan dikelilingi oleh pagar setinggi dua meter. Bangunan pagar terbuat dari batu bata merah yang dicat putih. Pagar tersebut memberi kesan privasi yang kuat, tapi masih menyisakan celah bagi tetangga untuk melihat sekilas apa yang terjadi di halaman depan.
Bagian depan rumah ini didominasi sebuah teras kecil yang dihiasi oleh kursi kayu dan meja bundar. Pintu utama terbuat dari kayu berwarna cokelat tua dengan desain minimalis tapi tetap elegan. Dua jendela besar dengan kaca bening terletak di sisi kiri dan kanan pintu yang pada akhirnya memberi kesempatan bagi cahaya matahari untuk masuk.
Lheman berjarak 500 meter dari rumah itu. Dia kemudian memberikan kode untuk anggota membuka pagar lalu merapat mengisi titik pintu dan jendela yang memungkinkan menjadi jalan pelarian.
Cukup mendukung. Pintu pagar ternyata tak terkunci. Sedapat mungkin menghindari bunyi, para petugas kompak mengangkat pintu pagar lalu menggesernya. Celah terbuka sekarang. Para petugas segera menghambur menempati lokasi sesuai intruksi Lheman.
Warga tampak berdatangan dan mulai mengerumun penasaran. Telah mereka dapat informasi dari ketua RT untuk tetap kondusif karena sedang ada penggerebakan. Kamera menjulur dari tangan- tangan pemvideo amatiran itu. Warga seperti haus hiburan. Mata mereka nyalang penuh dengan ketegangan. Harus diakui sebagian warga terkhusus laki-laki bahwa aksi pagi ini merupakan suatu kenikmatan.
Lheman mulai ikut merapat dan telah berada menempel di sisi pintu utama.
"Handarbeni! Keluar dengan tangan di atas!!! Jangan ada perlawanan! Kau telah kami kepung!"
Lheman mendengar bunyi gaduh di dalam. Kedua tangannya yang menggenggam pistol itu mulai ia remat dalam-dalam.
"Handarbeni, keluar! Atau kami lakukan pendobrakan!"
Tak ada respon signifikan, Lheman perintahkan beberapa anggota yang bertubuh besar untuk menendang dan menerjang pintu utama. Para anggota yang berperawakan preman itu segera tanggap cepat.
Brakkkk!! Brakkkk! Brakkk!
Tiga kali pintu berdentum dihajar tenaga kuat dari para petugas. Pintu itu langsung terbuka dan terdorong ke dalam. Pasukan lain segera masuk dengan mengacungkan senjata.
"Jangan bergerak! Jangan bergerak!!" teriak satu anggota. Suara gaduh terdengar di dalam sekarang.
Mata warga membelalak mengikuti aroma seru itu. Suasana mencekam tanpa tatapan lekang dari rumah yang diduga tempat persembunyian Handarbeni.
Selang beberapa waktu dari bunyi gaduh pergumulan, Handarbeni keluar rumah dengan mencondongkan badan ke depan. Diseret dan didorong petugas, kedua tanganya terlihat terikat tali. Dia berhasil dibekuk tanpa perlawanan.
*
Di dalam kamar dengan posisi tanpa busana dan kedua tangan kakinya terikat tali yang terhubung pada celah-celah lubang ranjang, Gusti memberontak untuk lepaskan diri
"Perempuan sunda!! Kurang ajar! Maniak betina ini sungguh keterlaluan!" umpat Gusti sambil menggelijang ke kanan dan ke kiri. Tangan-tangannya berusaha ia kendurkan agar ikatan menjadi longgar. Lama ia berjuang dengan tubuh yang masih berat karena obat tidur di kopinya, Gusti akhirnya menemukan cara dengan metode lama. Ia gesekkan satu tali di tangan kanannya dengan besi ranjang. Perlahan tapi pasti akhirnya dia berhasil.
Gusti lalu melepas ikatan tangan kiri dan kedua kakinya. Setelah lepas, ia bangkit lalu meloncat ranjang untuk kemudian mencari pakaiannya.
"Kurang ajar. Apa yang betina itu tonton di sini sehingga berlaku gila demikian," ujar Gusti masih dengan umpatan sambil mengenakan baju dan celananya.
Gusti bergegas keluar kamar untuk mengambil hp dan ranselnya. Dengan masih bergelayutan rasa pusing, Gusti berjalan berat menuju pintu utama. Saking pusing yang berputar di kepalanya, Gusti tak fokus. Badannya acapkali menabrak dinding dan kardus pakaian yang masih berserakan di sisi ruangan. Hingga tubuhnya terjatuh dan harus tertimpa barang-barang pindahan Kasandra.
Sebuah kardus berisi aneka properti mengambur menimpa kepalanya.
"Betina sialan!" serunya jengkel.
Terseok-seok bangkit dan menyibak-sibakkan barang mata Gusti tiba-tiba terarah pada sebuah pigura jadul yang terempas di lantai. Dalam pigura itu terdapat 5 orang tengah tersenyum di sebuah lapangan tenis. Gusti memandang dalam-dalam foto itu. Di foto ada Bu Sardah, Susan, Selvia, dua pria, serta satu wanita. Seketika pikiran Gusti tercekat.
"Mungkinkah!"
Gusti bangun dan berjalan segera menuju meja ruang depan. Dengan cepat ia raih ponsel untuk menelpon seseorang.
"Halo..Lhemannn!! Kau di mana!! Oke. Terserah kali ini tapi aku perlu bantuanmu. Apaaa!? Kau sudah menangkap Handarbeni!! Baik. Aku mohon satu lagi kawan? Tolong amankan Altar!"
Kaki kiri Gusti tiba-tiba mengehentak lantai
"Bukan kuasamu? Petugas baru sudah datang? Aku dialihkan! Tidak ada surat tentang itu, kawan. Apa? Kurang ajar. Kau benar-benar putuskan perang!" Gusti membanting satu barang. Pikirannya kacau. Dia mendapatkan jawaban dari Lheman berupa keengganannya menangkap Altar karena itu bukan perintah dari atasan barunya.
"Ku mohon kawan, ku mohon." Gusti terpaksa mengemis dan mengiba agar Altar diamankan. Dia menjelaskan panjang lebar tentang deduksinya.
"Yah..semua lengkap dalam foto itu. Bu Sardah, Susan, Selvia, Handarbeni, Larasati dan satu orang yang ku duga adalah Pak Johan. Apa! Kau terima laporan dari seseorang yang mengaku putri Bu Sardah? Apa! Bu Sardah menghilang sejak malam tadi." Gusti memutar- mutar badannya. "Sekarang dengarkan aku, kawan. Lupakan perselisihan kita. Oke. Baik! Nilailah kelemahanku. Aku terima. Tapi tolong segera amankan Altar. Brengsekk! Amankan Altar ku bilang. Ah!" Gusti melemparkan ponselnya ke sofa. Keparat sialan itu masih ngeyel dan tak menurut. Gusti murka dan menendang apapun yang menurutnya pantas untuk itu. Dia sungguh menyesal. Mengapa dengan situasi krusial ini dia tak bisa lakukan sesuatu dengan cepat? Ia terduduk sejenak. Mencoba kosentrasi dan berpikir terbuka, Gusti segera raih hp dan tasnya. Dia menghambur ke mobil menuju wilayah Sine Qua Non.
*
Duduk terborgol di meja interogasi, Handarbeni sudah mirip seorang napi sekarang. Pendar cahaya lampu gantung bergoyang ke kiri dan kanan mewakili hatinya yang cemas tanpa ketenangan.
Berlawanan duduk, Lheman terlihat sibuk menata catatan. Rokok ia capit dengan gigi dan mengisyaratkan bahwa dirinya fokus. Asap biru keputihan mengepul menyebrang dan mengerubung lampu gantung. Lheman akan memulai dengan menunggu seorang.
Pintu terbuka, sosok pria tinggi dengan warna kulit kecokelatan masuk.
Lheman berdiri sambil mengulurkan tangan.
"Senang bertemu denganmu."
Jabatan tangan itu terasa hangat dengan bergoyang naik turun.
"Aku pun demikian."
Pria itu dari devisi 9 interpol pusat kota bagian penyidikan. Dia bernama Kesnari. Dialah pengganti Gusti. Posturnya tegak, bahu tidak terangkat, tetapi tidak pula terlalu kaku. Ia berdiri dengan kepercayaan diri yang tenang, tetapi penuh kewaspadaan. Setiap sudut tubuhnya seolah menunjukkan bahwa ia selalu siap menghadapi situasi yang tak terduga, siap membaca tanda-tanda yang mungkin terlewatkan oleh orang lain. Kesnari lalu menarik sebuah kursi di dekat Lheman. Dia duduk sekarang.
"Mari kita mulai dari pernyataanmu. Meski bukan gayaku, aku tetap akan dengarkan."
Handarbeni menunduk karena masih nyeri dan terasa tebal wajahnya. Meskipun tubuhnya atletis, nyatanya gempuran bogem mentah dari para petugas berpayung hukum itu berdampak pada ngilu di sekujur tubuhnya. Handarbeni mengerang.
"Saya tak mau bicara kecuali ada pengacara."
Lheman langsung menyergah. Dia kacak kerah baju Handarbeni yang membuat tubuhnya sedikit terangkat dari kursi.
"Dengar orang kaya! Ini desa. Kau pikir siapa, hah! Akuan lebih baik daripada proses yang melelahkan."
Handarbeni diam tanpa aksara. Tanpa basa-basi satu hantaman Lheman kembali menyarang di pipinya. Handarbeni terjungkal. Kesnari menengahi.
"Cukup, Lheman."
Kesnari mendekati Handarbeni. Memapah tangannya dia mencoba mengajaknya berdiri.
"Kawanku, petugas satu itu memang sangat arogan. Tapi perlu juga kau dengar bahwa ini desa. Pengacara perlu waktu untuk kemari. Alasan sepertimu telah banyak didengar dalam ruangan ini. Kami tak mau harus menunggu dengan untung-untungan. Kooperatiflah, jika memang kau bukan dalang dari teror ini kami akan jadikan kau saksi dan segera bergerak memburu pembunuh itu. Bilamana benar bahwa kau pelakunya, aku pun setuju dengan pendapat petugas itu. Pengakuan memudahkan segala proses."