PUKAT

Heri Haliling
Chapter #11

Alibi

Derap langkah ketiga orang tersebut lalu berjalan pasti memasuki pintu utama kantor kepolisian. Sore itu, cahaya matahari yang mulai meredup menembus jendela kaca besar yang ada di ruang penerima tamu. Di balik meja kayu yang tampak sederhana Gusti melihat Sigit, seorang petugas jaga berseragam rapi duduk dengan sikap tenang. Bawahannya itu terlihat menatap layar komputer yang menyala redup. Suasana di kantor polisi cukup tenang seolah menyembunyikan prahara di dalamnya. Dari itu pula Gusti menyimpulkan bahwa pergantian dirinya di kantor ini mungkin masih bersifat tertutup. 

Mereka bertiga lalu memutuskan duduk di kursi tamu yang berbentuk panjang di sisi ruangan. Kasandra mengamati kunjungan ke dua kalinya di sini. Semua masih dengan situasi sama. Sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri. Jika demikian, tak mungkin baginya akan mendapat pelayanan. 

"Aku akan temui petugas jaga itu," kata Gusti berdiri hendak menghampiri Sigit.

"Hasilnya sama, Gusti. Langsung ke dalam saja," cegah Kasandra sambil menatap beberapa berkas laporan yang seolah belum selesai diproses. Berkas itu tertata rapi di sebuah meja dekat ruang informasi, mungkin berkas pengaduan. 

Gusti tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Di depan ruang pengaduan, bau kopi yang baru diseduh menguar menyatu dengan aroma buku dan kertas yang khas di ruangan itu. Sekali-sekali, suara telepon di meja penerima tamu berbunyi.

Sigit yang merasakan kehadiran atasannya langsung berikan hormat dan cepat mengangkat telepon. Gusti merasakan petugas setengah baya di depannya itu merupakan panutan. Usai menerima itu Sigit langsung menyapa.

"Ada yang Anda perlukan, Pak?"

"Aku perlu kunci di ruangan kerjaku."

Terjadi dialog rendah di sana. Kasandra tak bisa mendengar namun matanya menangkap aura bersungut-sungut di wajah Gusti. Tak lama Gustipun menghampiri mereka berdua.

"Keterlaluan, aku sudah tak punya otoritas ke ruanganku."

Kasandra tak mau memperpanjang untuk itu.

"Lantas kita ke mana?"

Gusti menunjukkan satu anak kunci dan meminta kekasih dan calon mertuanya itu untuk mengikutinya.

Di sinilah ketiganya. Sebuah ruang rapat dengan meja panjang dikelilingi oleh kursi-kursi yang rapi. Di atas meja juga tampak beberapa map yang belum dibuka tanda tak ada yang sempat menyentuhnya. Lampu ruangan yang redup menyinari wajah serius ketiganya. Di dinding, sebuah jam memutarkan jarumnya. Setiap detakannya seumpama peluit tentang kapan dan siapa yang mau bercerita duluan. Gusti paham semua merasakan lelah teramat sangat sekarang. Mengerti itu, Gusti memutuskan memulai pembicaraan.

"Jadi sekitar jam 10 malam hingga saat ini ibumu tak pulang?" 

"Aku baru tahu paginya setelah ayah menelpon."

Ayah Kasandra lalu ikut menerangkan.

"Komunikasi kami aktif pada jam setengah 10 malam. Dia bilang hendak pulang karena berkas telah selesai. Aku juga yang bodoh. Mengapa ku biarkan dia lembur pada situasi demikian."

"Aku telah meminta Sigit kesini untuk detail penjelasan kalian. Aku akan temui Lheman. Ini privasi tapi ku pastikan memperoleh hasil terbaik."

"Ayolah, Gusti," tukas Kasandra meragu.

Tak lama yang dibicarakan mengetuk pintu. Melalui izin Gusti, petugas Sigit masuk ke dalam. Gusti lalu memberikan arahan untuk melayani dua orang istimewa itu. Sigit mengangguk, Gusti kemudian bertanya tentang Lheman.

"Beliau berada di ruang interogasi bersama pengganti Anda."

Gusti menyembunyikan ekspresi kesalnya. Rupanya rumor itu sudah mencuat. Tapi mungkin memang pembawaan pekerjaan, nyatanya sejak awal semua petugas seolah tak terjadi apapun. Dalam hal ini, Gusti terkecoh. Dirinya lalu menyambung lagi.

"Ku serahkan kepadamu. Aku hendak temui rekanku itu."

"Aku ikut denganmu," sergah Kasandra.

Gusti menengok Kasandra. Bengalnya kambuh terus dan itu sungguh menyebalkan di mata Gusti.

"Ku mohon Kasandra, kau tetap di sini dan fokus memberikan informasi. Sisanya serahkan padaku."

Kasandra yang semula duduk lekas berdiri.

"Kami sudah dua kali ke sini Gusti. Kami tak dapat kabar baik. Siapa lagi di sini yang ku kenal jika bukan kau."

" Kasandra?" sang Ayah menengahi. Pria paruh baya itu ikut berdiri sambil tangannya menempel pundak Kasandra. Sang ayah mengisyaratkan kepada putrinya untuk duduk tenang kembali.

"Gusti benar. Jika kita ke sana justru akan jadi penghalang. Kita harus fokus dan percaya kepadanya. Kita tetap di sini" menengok wajah Gusti dan menggangguk, "selesaikan masalah ini, ku mohon."

Gusti melangkahkan kakinya untuk pergi tanpa menoleh ke belakang.

Sepanjang perjalanan Gusti siapkan kekuatan. Dia bisa merasakannya, seperti api yang membara di dada. Panasnya begitu menjalar dari ujung jari hingga ke setiap aliran darah yang terasa cepat, sesak, mencekam, dan begitu kuat. Gusti seakan-akan mau meledak, melepaskan seluruh isi dirinya tanpa terkendali. Bagaimanapun Lheman adalah dalang kotor yang bisa menjadi penyebab teror maut belakangan ini.

Memasuki beberapa kelokan ia langkahkan kakinya begitu laju. Hingga akhirnya Gusti melihat pintu dari kayu ulin dengan tulisan ruang interogasi. Tangannya menggenggam erat. Tubuhnya bergetar dan setiap tarikan napas terasa tak beraturan. 

Kira-kira satu meter jaraknya sebelum kakinya mencium bibir pintu, sekejap ternyata Lheman keluar ruangan dengan membawa bundelan.

Gemuruh meletuskan magma. Ledakan hebat membuncah memuntahkan uap dan bara angkara, Gusti berlari menerejang Lheman tanpa keraguan.

Bukkkk!

"Pembunuh! Penghianat!"

Sebuah pukulan terukur mengenai rahang kiri Lheman. Berkas berhambur ke udara disusul tubuh Lheman yang terjungkal menabrak kursi.

Lheman bangkit segera. Sepasang kuda-kuda kokoh ia gunakan sebagai pasak. Lheman meluncur dengan balasan. Dengan cepat, ia menyerang.

"Kurang ajar" sambil melayangkan kepalannya.

Gusti mengganti posisi demi posisi. Itu berhasil. Serangan Lheman kerap membabi buta namun meleset. Ada angkara yang tak terkontrol dan itu kelemahannya.

Mengetahui itu, Lheman yang berang menyerang lebih agresif. Kali ini, ia berputar dan meluncurkan pitingannya ke leher belakang Gusti.

Gusti tahu muara dari gerakan berputar hendak mencekik lalu menarik ke belakang itu. Menghadapi serangan dengan ritme cepat, Gusti memundurkan satu kaki untuk antisipasi. Lheman memandang hal itu sebagai celah. Dapat! Lheman segera mengunci. Namun sebuah tarikan dua lengan kuat di punggung Lheman melayangkan dia ke udara.

Bukk! Brak!!

Lheman terbanting salto, terempas keras pada lantai keramik. Dia mengerang memegang punggungnya.

"Bangun, bedebah! Hanya itukah?" Gusti merentangkan tangan.

Wajah Lheman merah hitam. Bergumul dan semakin tak terkontrol. Percuma bela diri yang ia pelajari. Pada saat ini emosi kian meluap meneggelamkan semuanya. Merasakan dirinya sebagai banteng murka, Lheman mencondongkan kepala untuk tubrukan dengan dua tangan menerkam sebagai kuncian.

Gusti berkelit ke kiri dengan kedua tangan langsung menarik pinggang Lheman. Tangan Gusti dengan cepat merayap naik lalu mendarat pada area leher. Lheman berusaha menyikut dan mendorong ke tembok. Bunyi gaduh kian tak karuan. Lheman terus menghantamkan punggung Gusti ke tembok.

"Mampus kau keparat!!"

 Sekilas Gusti melayang di udara. Ia tahan semua benturan. Kaki Gusti membelit dua pangkal paha Lheman. Gusti bersiap lakukan kuncian mematikannya. Dalam posisi menggendong, beban dari Gusti merupakan permasalahan besar. Kedua tangan Gusti mulai membelit leher Lheman diikuti pitingan dan menariknya untuk ambruk.

Keduanya saling umpat dan hujat dengan tekanan masing-masing. Lheman terjatuh bersama belitan Gusti. Tangan Lheman mencoba menyelinap di antara ruang untuk merenggangkan belitan.

"Sudah! Sudah! Hentikan," seru Kesnari yang datang dari dalam. Dia dan beberapa petugas berusaha memisahkan. Terjadi pergumulan di sana. Perasaan malu memeloroti Kesnari sebagai salah satu penegak hukum. Tak bisa ia bayangkan jika saat ini ada wartawan. Sekali lagi media itu pasti akan menggoreng mereka hingga gosong.

Pergumulan berhasil dipisahkan. Keduanya tampak tersengal karena emosi yang mengukung dada.

"Kalian ini benar-benar gila!" teriak Kesnari marah.

Nyatanya perkelahian itu pun ditengok Larasati dan Handarbeni. Kesnari sadar itu. Sedikit tengokannya memantau mereka. Benar saja, ekspresi cibir bersemu di antara mata pasangan itu.

Kesnari alihkan pantauannya. Kini ia memandang Gusti.

"Jaga martabatmu, kawan. Jangan kau buat jatuh!" kata Kesnari sambil menjulurkan tangan.

Menyadari untuk bersikap objektif dan fokus ke persoalan, Gusti menyambut permintaan penggantinya tersebut.

Lihat selengkapnya