Sore itu atmosfer di kantor polisi mulai terasa lebih lambat. Langit yang semula cerah berubah rona dibalut kuning emas. Kasandra dan ayahnya yang keluar ruang rapat setengah jam lalu mengetahui itu. Semburat senja menerobos kaca dan menciptakan pelangi kuning keputihan dari jendela berakhir ke lantai keramik. Dulu sang ayah pernah bilang, senja kuning begini merupakan tanda marabahaya, sebuah penyakit darah akan datang. Penyakit yang mengakibatkan seorang melalui kematian dengan pendarahan hebat baik secara wajar atau sebaliknya, orang bilang mati bedarah.
Kasandra terpaku. Ia percaya mitos itu. Dilihat dari ekspresinya, Kasandra yakin sang ayah merasakan seperti apa yang ia rasakan. Kasandra menghela napas. Ia simak suara langkah kaki pegawai yang biasa berlarian juga melambat. Lampu kantor polisi yang sebelumnya mati mulai dinyalakan satu persatu. Petugas kebersihan juga mulai hadir. Pickup mereka terparkir di depan. Beberapa petugas kebersihan berpakaian biru dan orange tampak merokok-rokok. Ada yang mereka tunggu, mungkin kesunyian manakala sebagian petugas kepolisian telah pulang. Sisanya hanya petugas jaga dan mereka para petugas pembersih. Kasandara dan sang ayah mengedarkan mata karena mendengar derak kaki yang cukup cepat.
Aura penuh pengharapan merekah seketika di mega Kasandra.
"Gusti! Gusti!" panggil Kasandra.
Gusti dan Kesnari menghentikan langkah sejenak.
"Kalian mau kemana?" tanya Kasandra.
Gusti menimbang. Perlukah ia beritahu? Bukankah hal begitu makin membuat keluarga ini liar tak tenang?
"Siapa mereka, Gusti?" Kesnari gantian bertanya.
"Keluarga Bu Sardah."
Kesnari paham dan segera memberikan pengertian.
"Dengar, Pak. Kami akan berangkat mengejar pelaku yang diduga menculik Bu Sardah. Dengan segala hormat, tapi lebih menenangkan kami apabila kalian berdua tetap tunggu di sini atau pulang ke rumah. Kami pastikan berikan kabar yang terbaik."
Ayah Kasandra hendak berujar tapi keburu diserobot putrinya yang berubah muka.
"Gusti. Kau tak pandai berbohong, khususnya tentang ini. Aku melihat petugas jaga itu berlari tergopoh-gopoh. Aku yakin dia membawa kabar yang memerlukan putusan langsung. Ada apa?"
"Kasandra, petugas Kesnari telah menjawabnya."
Kasandra merangsek melepaskan genggaman sang ayah yang sejak tadi mengikat lengannya.
"Bohong!! Itu pasti tentang ibuku. Aku sejak kemarin diliputi perasaan tak karuan. Kami ikut, Gusti!"
"Kalian lebih baik tetap tinggal. Serahkan pada petugas" sela Kesnari. Gusti mengangguk setuju.
"Kami ikut dengan kalian! Aku ingin tahu kondisi ibuku!"
"Sudah putriku. Jangan hambat petugas" tangan sang ayah kembali memegang lengan putrinya. "Kita tunggu dan percayakan kepada mereka."
"Tidak kali ini Ayah!" bentak Kasandra dengan segala kebenaran dan keyakinannya.
"Kasandra ku mohon" terang Gusti sambil memegang bahu pacarnya itu. "Terlalu berbahaya sekarang. Kau aman di sini. Kasandra turutilah aku demi kebaikanmu."
"Itu ibuku, Gusti. Ibu kandungku! Sudah hakku untuk tahu kondisinya."
"Kalian tinggal!" hardik Kesnari, "Gusti kita berangkat!"
"Aku akan berteriak dan hamburkan isi kantor ini!" ancam Kasandra.
"Pertugas! Amankan mereka!" perintah Kesnari. Dua orang petugas segera maju hendak menangkap Kasandra. Perempuan itu berkelit liat. Satu tendangan terukur mengenai tempat di antara selangkangan seorang petugas. Sang petugas berjingkat ngilu lalu tersungkur.
Sang ayah juga ikut menangkap Kasandra. Pria itu menangkap perut Kasandra dari belakang. Percuma, satu sikutan menyarang di salah satu lubang hidung sang ayah. Dia terdorong ke belakang dengan hidung mimisan.
Gusti mementalkan kepalanya ke belakang. Benar-benar perempuan keras kepala.
"Tak ada waktu Gusti. Sudah angkut saja! Kita kesana dan jika memungkinkan kita akan ikut dalam pengejaran" tukas Kesnari. Gusti tak ada pilihan dan hanya memegangi kepalanya yang berat.
*
Mobil yang dikendarai Kesnari melaju kencang membelah jalanan di sore hari. Lokasi pembuangan jasad, tepatnya Jalan Braga berjarak 10 km dari kepolisian Sine Qua Non. Jalan itu merupakan lingkungan padat penduduk dan lalu lalang mobil pickup pengangkut barang dagangan. Biasanya jam begini semua pedagang terkhusus yang menggunakan roda empat telah bersiap dan menginap untuk menata dagangan kemudian akan langsung berjualan di pagi harinya. Ini mengingat rata-rata dari mereka adalah pedagang yang tinggal di luar kabupaten.
Jalan Braga dilengkapi dengan dua pos pengamanan polisi. Dalam batin Gusti benar-benar terusik, mengapa si gila itu membuang jasad di area yang rawan ditemukan dan dikenali. Apakah ia tak cerdas jika bentuk mobil dan plat akan mudah terdeteksi? Mengapa tak membuang di sekitar perkebunan sawit seperti hobinya? Apa yang dipikirkan maniak itu?
"Aku tahu yang kau risaukan, Gusti," ujar Kesnari sambil mengemudi. Sebagai sesama petugas yang telah lama berkecimpung dalam dunia penyelidikan, mudah bagi Kesnari membaca roman rekan barunya itu.
"Jelas dia seorang over confidence, Gusti. Dia tidak hanya menyatakan perang dengan pihak kepolisian, tetapi telah mengklaim dan kibarkan bendera kemerdekaan."
Gusti setuju dengan simpulan Kesnari.
"Mungkin demikian pola pikir maniak tersebut. Video yang disebarkannya tak juga ada jawaban menarik dari kepolisian. Sekarang dia terang-terangan menampakkan diri. Tampaknya dia benar-benar ingin menelanjangi bulat-bulat," lirih Gusti agar tak terdengar Kasandra.
Di kursi belakang melalui spion di atas wajah, Gusti dapat melihat Kasandra menangis tersedu-sedu dalam pelukan ayahnya.
"Ayah bagaimana ini? Kasandra takut. Firasat buruk ini tak kunjung menghilang," katanya. Tangan kiri sang ayah hanya membelai-belai rambut lunglai putrinya. Mungkin hal itu bisa menenangkan hatinya.
"Semua akan baik-baik saja putriku."
Tak dapat Gusti pungkiri bahwa hati Kasandra pasti akan hancur jikalau mengetahui kejadian sebenarnya. Gusti kasihan. Tapi selanjutnya dia harus tetap fokus. Ia kesampingkan perasaan tersebut.
"Dengar Kesnari" kata Gusti coba menepis perasaan lemahnya. Kesnari menengok sebentar menandakan dia merespon. "Usai dari ini kau harus segera amankan Lheman."
"Lheman?"
"Petugas itu berlidah ular, Kesnari. Dia telah bersekongkol dengan manager PT PKS untuk pekerjaan yang menjijikkan. Aku pun yakin, semua ini terhubung dengannya."
"Gusti, keyakinan tanpa bukti hanya seperti meludah di atas wajah sendiri. Bagaimanapun aku harus netral menyikapi perselisihan di antara kalian."
Gusti lalu menjelaskan tentang peristiwa 5 tahun lalu. Keterkaitan semuanya. Dia juga meyakinkan tuduhan itu dengan beberapa saksi termasuk bukti yang segera ia akan peroleh dari bagian forensik. Gusti berkeyakinan semua cerita dan kecurigaannya bukan sebagai sentimen.
"Percayalah padaku, ini adalah lingkaran besar. Kau harus bersikap cepat dengan tindakan," kata Gusti sungguh-sungguh.
"Adakah yang kau lewatkan?"
Gusti mengangguk.
"TKP di dekat jasad Pak Johan. Itu kuncinya. Ku duga di sanalah semua dieksekusi" Gusti lalu membisik "tapi ratu di belakang kita itu membuyarkan semuanya."
"Ku lihat kalian sangat dekat" kata Kesnari menatap spion di atasnya. Tak dinyana sepasang mata tajam merah sedikit bengkak telah jauh lebih dulu mengamatinya. Kesnari membuang pandang. Sadar, perempuan itu meski terguncang juga tetap awas pangamatan.
Kesnari nyengir sambil fokus mengemudi.
"Agaknya kau benar. Oh iya, tentang itu.., jadi kau tetap pada prinsipmu?"
"Memang sulit dinalar Kesnari. Yang sedang kita buru ini menghancurkan logikaku. Aku sungguh yakin, Altar di balik ini semua. Motifnya sangat jelas."
"Tapi alibinya begitu sempurna. Ku yakin kejadian ini memeloncoimu kawan."
"Yeah. Entah bagaimana dia merancang ini."
"Sebenarnya Gusti, untuk sekarang aku lebih ke arah Lheman. Tapi untuk sekandalnya, itu beda cerita."
Awan mulai menggelap ditandai matahari yang benar-benar amblas sekarang. Dari samping jendela, semua orang dalam mobil tersebut mampu melihat jenggala kehitaman kebun sawit dan juga aktivitas pertambangan. Cahaya kecil berada di tengah perbukitan menambah kesan kehidupan proyek. Aumannya mungkin kurang terdengar tertutup bunyi mesin mobil atau dum truk yang bersalipan, tapi semua meyakini jika kerlipan lampu itu berasal dari mesin pelubang bumi.
"Ku hargai itu, Kesnari," tukas Gusti dengan wajah yang lelah. Dia berontak dengan alibi yang disuguhkan Altar tepat di hadapannya. Sebuah pukulan telak untuk gugurkan sikap tuduhan.