PUKAT

Heri Haliling
Chapter #13

Kompensasi

Telah sampai pada kenyataan atas sebuah dugaan. Mega malam kelabu yang menggantung itu pada akhirnya siramkan rinai. Makin lama makin cepat rinai yang jatuh. Hingga ujungnya tercipta bising deru hujan. Muntahan awan itu tak pelak mengelabuhi lampu jalanan lalu secara otomatis menciptakan halimun penuh muslihat dan kelicikan. Suasana yang ditimbulkan menjadikan malam yang kian terengah-engah dalam penjagaan. Di dalam mobil, Altar yang mengamati keadaan di hadapannya terus fokus mengemudi. Sepi begitulah yang tergambar di sepanjang lintasan. Memangnya hendak berharap apa dari kondisi ini di wilayah Sine Qua Non yang cenderung diisi oleh hutan sawit dan tambang batu bara. Faktanya manakala mobil usai melewati perkebunan sawit dan kini berada di dataran yang kiri dan kanannya adalah area tambang, tak ada gerakan alat berat di sana. Hujan memecundangi keperkasaan mereka yang pongah mengaumkan cengkraman kukunya ketika kondisi ini mereda.

Di samping Altar, Handarbeni yang cukup kelelahan ikut melongokkan wajah di balik jendela kaca. Tapi diapun membungkam cakapnya. Sorot mata penuh rasa tak percaya itu menjadi lamunan yang bagus. Dia ingin larut sejenak ke dalamnya. Memikirkan tentang semua hal yang bakal melintas kemudian. Semua tentang keburukan, keadaannya nanti dan harga diri di mata Larasati.

Seolah mengerti yang dipikirkan Handarbeni, Altar melihat spion dalam mobilnya. Di kursi belakang Sang mama telah tidur pulas. Di sampingnya terlihat sebotol air mineral pembelian Altar berapa menit lalu yang telah habis setengah.

Ini akan menjadi titik busuk hubungan antar keduanya. Altar tersenyum membayangkan keadaan itu. Pikirnya bermuara pada kebebasan. Pengharapan itulah yang berusaha ia timang-timang. Altar menekan rem kakinya, beberapa kubangan di jalanan ia hindari. 

Tak lama sebuah mobil hitam mengekor di belakang mereka. Altar memasang mata lekat-lekat terhadap mobil yang tak asing itu.

"Mau apa petugas itu mengikuti kita?"

Handarbeni cukup tertarik dengan hal tersebut. Ia juga menengok spion. 

"Urusan nilai belum selesai rupanya. Benar-benar petugas bengal.Apakah tubuh yang kau idam-idamkan itu tak apa-apa?" tanya Altar dengan senyum mengejek.

"Ayolah Altar, apakah kau tetap congkak begitu? Tak bisakah kau gunakan kata yang lebih sopan. Aku lebih tua darimu, kau tahu itu bukan?" ungkap Handarbeni menginginkan validasi.

Mobil yang mereka tumpangi bergoyang ke kanan dan ke kiri.

"Penghormatan hanya untuk seorang yang gentle man. Orang sepertimu tak masuk kriteria itu."

"Bagaimanapun peranku sangat penting dalam keluargamu."

Altar menarik tuas porsneling. 

"Yeah. Kau benar-benar menjadi aktor utama dalam keluargaku. Katakan, setelah ini apa yang mau kau lakukan?"

Handarbeni tak lekas menjawab. Sejujurnya dia tak menyukai ledekan dan sikap receh dari Altar. Ia pilih bungkam dan kembali tenggelam dalam mata yang memandang di balik kaca jendela mobil.

Altar menyunggingkan sudut bibirnya. Provokasi itu berhasil merusak mental Handarbeni. Memang itulah tujuannya. Ada kesenangan tersendiri saat ini dengan bermain kucing-kucingan pertanyaan yang ia cecarkan. Bagaimanapun sikap aktif dalam pembicaraan tapi dibungkus oleh nada dan mimik menjatuhkan merupakan hal yang memuaskan apabila lawan bicara terpancing lalu merasakan.

"Kau diam Tuan utama? Jawab aku dong?"

"Sungguh Altar, makin ke sini ku lihat kau makin kekanak-kanakan."

"Oh, begitu. Berarti kaulah yang dewasa. Semua orang dewasa punya rencana. Izinkan aku tahu dan belajar."

Handarbeni kecut. Dia benarkan duduknya. Semua bergumul menyebalkan. Nyeri sekujur badannya mulai beralih untuk menjalari otaknya. Diam tak akan selesaikan sebuah balasan. Cara terbaik adalah menimpal sekalian. Handarbeni menatap Altar sungguh-sungguh. Pemuda itu tahu dan melayaninya.

"Apa?"

"Dengar bocah. Aku akan menjadi papa yang baik untukmu," jawab Handarbeni menang.

Mobil berhenti. Mereka beradu pandang. Gigi Altar bergemeretak. Tangannya mengepal erat ke kemudi. 

Di luar, hujan berubah menjadi guruh. Kilatan petir mengerjap dan menampilkan landskap gunung batu dan lubang tambang pada perbukitan selama sekian detik. Sementara itu dalam mobil yang Lheman kendarai dia merasakan momen yang tepat. Lheman memandang mobil Altar dengan dada naik turun. Sepucuk revolver ia keluarkan dari sarungnya. Semuanya mengumpul dan siap ia ledakkan. Tak ada yang perlu ia sesalkan. Tak ada yang perlu ia sisakan. Baik masa lalu atau apa yang ada dalam pandangannya sekarang itu menjadi serupa. Dua masa itu adalah perburuan. Lheman mengelap wajah dengan tapak kirinya. Malam ini dia pemburu dan mereka mangsa.

"Begitu?" jawab Altar mengangguk. "Apa mama mau? Bukankah kalian masih dalam keadaan bertengkar?"

Handarbeni mengangkat dagunya. Jelas di sini dia ingin menyiratkan dominasi pengalaman.

"Larasati memang begitu wataknya. Tapi dengan sedikit angka dan kilauan, dia akan jinak kembali." Handarbeni terkekeh. Altar juga ikut tertawa sambil tangan kanannya menyelinap meraih sesuatu di dekat kursi duduknya.

"Benar-benar hebat kau ini," puji Altar tertawa sambil tetap manggut-manggut.

Handarbeni setuju dengan pujian itu.

"Mamamu memang begitu sejak dulu."

"Ya. Ya..Ya.., kau maestronya. Mulut kotor itu benar-benar sampah," ucap Altar sambil masih tersenyum dingin.

Handarbeni tak paham maksud Altar. Dia pun menatap Altar yang diselimuti mendung keanehan.

"Luar biasa..Luar biasa. Kau tau, meskipun kau punya pertalian kepada keluargaku, tak sedikitpun aku risaukan tentang tindakanku."

"Aku tak paham bocah. Sungguh."

Handarbeni masih memandang Altar. Dia pun hendak menanyakan perasaan aneh yang menggelayuti pemuda di sampingnya. Namun pada momentum itu tangan kanan Altar segera keluar dari persembunyian dan seolah terbang dengan kilau sebuah benda membelah udara malam!

 Sebilah obeng panjang melesak ganas dan akurat menuju sasaran. Handarbeni terhenyak ke belakang karena mendapat dorongan. Tubuhnya segera menggelepar dengan suara aneh khas kesengsaraan.

Kurk!! Kurk!! Kurk!

Mulut Handarbeni banjir darah manakala tersumbat sebuah obeng cadas yang menghantam gigi atas lalu tembus memaku anak tekak sampai kursi sandaran. Mata pria itu menengadah ke atas seolah menyaksikan kontraknya dengan malaikat maut akan usai. Aroma anyir segera menyeruak dari mata luka. Kedua tangan Handarbni seolah tak bisa berbuat banyak karena syaraf yang tak bisa ia kendalikan. Hanya menghentak-hentak pertanda roh tertarik dan terulur.

Dalam pengawasan full, Lheman yang masih duduk di kursi pengemudi memandangi mobil di depannya makin bergoyang menandakan aktivitas yang memikatnya untuk datang. Wiper mobil yang bergerak mondar-mandir itu nyatanya tetap membuat matanya awas. Hanya kemelut hujan bercampur deru guntur yang ia rasakan bukan sebagai situasi yang memihaknya. Tak mau terkurung dalam ruang kecil ini dan dilanda penasaran, Lheman pun memutuskan keluar dari mobilnya.

Lihat selengkapnya