PUKAT

Heri Haliling
Chapter #14

Pembiasaan untuk Sebuah Tujuan

Hujan semakin deras dan Gusti memutuskan untuk sedikit menambah kecepatan. Di jalan yang lengang itu hanya suara mesin mobil dan ketukan wiper yang terdengar. Gusti merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Bukan karena ngebutnya, tetapi karena perasaan dongkol dengan sikap para petugas kepolisian beberapa puluh menit lalu.

Gusti ingat untuk langkah pertamanya adalah menuju kantor kepolisian demi menanyakan kemana Petugas Lheman dan keluarga Larasati pergi. Namun para petugas hanya melayani dengan berbicara sebentar. Tidak seperti masa di mana mereka adalah bawahannya. Kepatuhan itu benar-benar hambar. Alhasil percakapan terasa kosong. Mereka seolah tidak pernah membuka diri. Begitupun saat Gusti menurunkan nadanya agar tampak sopan dengan mata yang tak menyembunyikan maksud apapun. Semua sama, bahkan tundukan kepala mereka jelas-jelas merupakan rahasia dan sekali lagi bukan sebagai kepatuhan. Pikiran Gusti menerka pasti para petugas jaga itu terintimidasi. 

Tiba-tiba dering ponselnya menarik perhatian Gusti.

"Halo, Kasandra. Ada apa?" Gusti menempelkan hp di telinganya. "Yah. Aku berusaha masuk ke sarangnya. Bagaimana keadaanmu? Oh syukur jika begitu. Yah..mungkin memerlukan waktu untuk penyembuhan, tapi dengan ketekunan itu akan berlangsung cepat. Bagus, aku senang mendengar semangat itu. Bagaimana Kesnari? Apakah dia masih di sana? Mengikutiku? Yang benar saja. Dia bahkan tak tahu aku di mana? Kapan?" Gusti keheranan. "Tidak ada dia menghubungiku. Oh, ya ampun. Dia pergi menuju mobil pajero pelaku? Untuk apa. Tidak ada petunjuk di sana, Kasandra. Ah, si tua itu tertinggal selangkah jika pemikirannya begitu. Baik. Jaga dirimu, Kasandra. Biar aku hubungi jenius itu."

Jempol gusti memicik tombol merah. Tak lama jemari Gusti bermain menekan beberapa angka. Sambil masih mengemudi dengan kosentrasi tinggi, mobil Gusti menghalau hujan di tengah hatinya yang berkecamuk badai ketidaksetujuan dari proses selidiknya.

"Halo, ya. Kesnari. Ini aku Gusti. Sekarang di mana posisimu? Tuhan, apa yang kau harap dari tumpukan buletin dalam mobil itu. Menyesal? Seharusnya kau baca gerakku Tuan Atasan. Aku akan menuju tempat persembahan, sekarang. Yah. Aku punya kepedean dan keberuntungan tinggi. Aku yakin akan bertemu di sana. Satu jam, ya satu jam mungkin sampai. Segera susul aku ke sana. Okeyy."

Dari kejauhan mata Gusti menangkap sebuah mobil hitam terlihat di pinggir jalan. Apa mungkin kerusakan? Malang betul jika begitu. Di jalan yang jarang dilalui apalagi tengah hujan lebat begini, kendaraan malah mogok, gumam Gusti lepas menerka.

Mobil Gusti merambat pelan sambil mengamatinya. Dia pandang-pandang mobil ini sungguh tak asing. Gusarnya bertambah dan akhirnya dia berhenti. Gusti mengedarkan pandangannya ke area. Di bemper depan, tepatnya tersorot oleh lampu terlihat tubuh Lheman tertelungkup.

Gusti kontan saja kaget. Dia segera menghambur menemui sahabatnya itu. Hujan menyapih tubuhnya dengan deras. Gusti langsung berjongkok memeriksa. Tubuh Lheman telah dingin beku, mati. Merasa mungkin pelaku pembunuhan itu masih di sekitaran, tangan Gusti segera siaga menggenggam senjata. Petugas tersebut kemudian berjalan cepat mengitari lokasi. Beberapa menit berlalu, tak ada tanda kehadiran. Petugas itu segera menghampiri jasad Lheman.

Dia amati tubuh rekannya tersebut. Malang, sungguh kematian dengan cara mengerikan. Darah telah bercampur air memenuhi kubangan di kepala belakang Lheman. Tangan kanan jasad itu pun hancur di bagian siku. Biadap! Benarlah langsung dugan Gusti bahwa Altar atau mungkin Handarbeni sebagai dalang kekejaman ini. Gusti segera membalik tubuh Lheman. Tak ayal sisa jeroan otak langsung melungsur turun ke aspal. Tak ia gubris keadaan itu. Semua hanya bermuara pada kenestapaan yang menggantung di jiwa Gusti. Dia lalu memeluk wajah Lheman yang terasa lembek itu ke pangkuannya. Mengapa dengan cara ini sahabatnya itu mati. Mengapa hukuman ini yang berlaku untuknya. Hujan terus turun dengan lebat. Petugas itu sungguh menyesal atas sikap lambatnya.

Selang beberapa saat, Gusti menepikan jasad Lheman. Bersemayam dendam pembalasan, Gusti tak mau buang waktu. Ia segera beranjak ke mobilnya. Dengan baju yang masih basah ia lap tangannya menggunakan tisu untuk menelpon Kesnari. Gusti mengabarkan temuan mengejutkan itu. Dari nada Kesnari, petugas itu juga tak kalah kaget. Gusti lalu meminta Kesnari panggil bantuan tim. 

"Jangan gegabah, Gusti! Tunggu tim bantuan datang!" cegah Kesnari saat mendengar Gusti akan langsung ke lokasi. Namun bukan Gusti namanya jika akan menggubris nasihat seorang di mana dirinya telah memantapkan tujuan. 

Bedebah yang telah berani membunuh petugas baginya adalah perbuatan kejahatan dengan tingkat berat. Untuk itu tak akan ada pengampunan, begitu prinsip Gusti yang ia utarakan ke Kesnari. Usai dengan itu, Gusti pun segera melakukan pengejaran.

*

Di sebuah meja panjang, Altar menyiapkan alat kerjanya. Satu meter dari tempatnya berdiri untuk menyusun alat, sebuah kamera telah terpancang menunggu diaktifkan.

Altar merasakan malam yang penuh keistimewaan. Tubuhnya entah bagaimana tiba-tiba bergetar manakala ia pandang seorang yang setengah telanjang sedang berbaring terikat di atas meja pesakitan. Dialah Larasati, sang mama. Kesadaran Larasati berangsur pulih. Diapun sangat terkejut dengan apa yang terjadi padanya. Perlakuan macam apa yang hendak anak kandungnya buat kepada dirinya.

Larasati mulai berontak dan meronta. Tapi juga percuma, selain ikatan yang kuat, plaster yang melekat pada mulutnya tak akan bisa buatnya berteriak.

Altar menatapnya lekat dengan wajah masih bau anyir darah. Dari cahaya mata serigala anaknya itu, Larasati tahu bahwa putranya benar-benar dalam kondisi lepas kontrol. Sang mama menangis.

Szinnggggg!! Szhingggg!! Bunyi bor.

"Bukankah ini suprise terhebat Ma? Sekarang waktunya persembahan. Malam ini akan ku biarkan roh mama bertemu dengan bulan. Sebagai anak yang membakti akan ku terangi jiwamu dengan persembahan ini, Pa. Yah...persembahan untuk engkau. Ku harap nanti kalian akan menyatu dan hidup bahagia dalam nirwana, Ma. Aku pastikan, papa menantikan itu," ujar Altar bermonolog.

Raut Larasati sungguh terkejut dan menampilkan roman tak percaya. Merasakan itu Altar kemudian berujar "Hati Altar berani dan mantap sekarang, Ma. Sungguh siap. Tiga kali Altar lakukan pembantaian hanya untuk belajar dan membiasakan. Sungguh, entah mengapa setiap melakukannya, jiwa ini malah merasakan nikmat itu. Roh yang berangsur pupus dengan pelan inci demi inci membuatku senang."

 Altar tertawa bukan main. Baginya pembiasaan akan menciptkan sebuah kekuatan. Target utama memang Larasati. Namun untuk menutup pemberontakan atas segala hubungan dan ikatan nurani itulah diperlukan pembelajaran. 

Bor yang coba ia tes, Altar letakkan lagi di atas meja. Dalam laci ia ambil foto sang mama. Ia jilat lagi foto itu. Terasa ada sesuatu yang kurang, Altar berjalan menuju sebuah speaker dan memutar lagu kelamnya. Alunan musik gloomy sunday membuat tubuhnya yang kuyu kemudian menari sesaat.

Altar merapatkan diri. Masih setengah menari ia buka isolasi yang menempel mulut Larasati.

"Tolongg!..Tolong!!"

Altar mengikik. Setengah tangan melingkar perut dan tangan yang lain mengebrak meja.

"Mengapa melakukan hal percuma, Ma? Di sini ku putar musik. Apa Mama lupa suasana saat berkaraoke?"

"Altar. Mengapa kamu lakukan ini. Apa dosa mama kepadamu?"

Larasati menggeleng tak percaya. Pikirannya kemudian masuk kepada prilaku suaminya. 

"Apakah didikan ayahmu? Katakan Altar. Jika, iya. Sungguh kamu keliru. Orang sinting itu tak patut kamu contoh."

Berdiri di atas kepala Larasati, Altar menjawab:

"Tidak ada yang salah dengan dia, Ma. Sungguh."

"Seseorang tolong keluarkan aku. Tolongggg!!"

"Percuma, Ma. Apakah kecemasan dan ketakutan buatmu kalut? Mungkin sosok om Handarbeni yang Mama nantikan. Jika iya, dia juga di sini kok, Ma" ucap Altar sambil menunjuk satu titik.

Larasati memekik. Sekujur tubuhnya bergidik hebat. Terasa mimpi tapi kenyataan. Larasati memberontak lebih kuat berusaha melarikan diri. Sebuah sajian yang sangat mengerikan. Larasati sadar hal itu sama sekali bukan untuk mata dan pikirannya konsumsi.

"Tidak mungkin!! Kamu apakan dia Altar! Kerasukan apa kamu ini!"

Altar meregangkan tubuhnya. Dia juga melihat titik itu. Tampak terduduk di pinggir dinding dengan mata melotot dan mulut masih menganga memancurkan darah dari hulu obeng, Handarbeni tak bergerak tergeletak setengah badan di meja. Matanya yang melotot itu seolah melihat Larasati dan mengisyaratkan sebuah penjemputan ajal yang sangat pedih.

"Altar, cukup. Mama mohon. Mama sudah terluka karena kepergian ayahmu. Jangan kau tambahkan lagi."

"Bohong!!" sentak Altar. Tiba-tiba tubuhnya menggigil. Altar menjambak ke bawah rambut Larasati . Ia bisa pandangi sedikit jakun ibunya itu naik ke permukaan. Posisi yang sangat tepat untuk penyembelihan.

"Dengar wanita munafik. Jangan pikir aku bodoh! Kau dan semuanya tak lebih kecoak bagiku, sungguh!!"

"Mama tak paham maksudmu, Altar."

Tangan kiri Altar beringsut mengambil palu di dekatnya. Congkelan palu itu kini menyentuh dagu Larasati. Keringat bercampur air mata mengalir di sana. Perasaan itu terjadi lagi. Desir hawa dari rasa ketakutan akan ajal membuat Altar berdenyut beberapa saat. Nikmat dan menyegarkan. Dia kemudian stabil serta membalas tajam ke mata Larasati.

"Kalian persekutuan iblis. Tak paham atau berpura hah!!" desak Altar sambil mengancam hendak mencongkel rahang Larasati.

"Jadi benar itu kau, Altar?"

Altar kaget setengah mati. Tubuhnya langsung berputar mencari arah suara. Ketemu. Seorang di samping pintu berdiri dengan cadar bayang dari lampu. Setengah tubuhnya terlihat dengan satu mata nanar seolah melihat sesuatu yang begitu bengis. Satu mata itu menilai Altar bagai binatang gila yang melolong dan mengigit siapa saja tanpa perantara atau harga.

Merasa mengetahuinya, Altar pun tenang sambil sedikit busungkan dada.

"Ternyata sahabatku sendiri. Apakah ini tentang bisnis konten lagi, Danar?"

Bersamaan dengan selesainya pertanyaan retoris itu dari baju belakang Altar menyusup dan keluar satu pucuk revolver yang segera mengarahkan moncongnya ke Danar.

"Sebab jika iya. Kau salah memilih tempat."

Danar yang terkejut lalu mengangkat kedua tangannya. Matanya membelalak, detak jantungnya terasa seperti terburu-buru. Sekejab keringat mulai menetes di dahi.

"Altar kita bisa musyawarahkan ini. Belum terlambat unn.."

Lihat selengkapnya