Malam, 02 September 1998
Tidak banyak hal yang mau ku tuangkan untuk hari ini selain rasa bahagia karena buah hati pertama kami telah lahir. Berbobot 4 kg, aku dan istriku sungguh merasakan suatu kemegahan. Jujur saja, menunggu masa kelahiran ini terasa sangat menegangkan. Proses 9 bulan entah karena apa ibumu kerap kesurupan. Sebagai suku asli wilayah ini aku tak heran dengan itu. Tapi dalam posisi kehamilannya tak ayal hal-hal yang ia lakukan kerap buatku cemas. Dia seolah mencoba untuk melukaimu, putraku. Beragam kejadian dari terjatuh hingga meminum atau memakan semua yang membahayakan ibumu lakukan dengan mata menyala dan menggelepar. Di satu sisi itu sebuah tindakan yang sungguh membahayakan. Namun sisi lainnya aku juga kasihan kepada ibumu yang harus merundung penyakit itu. Sembilan bulan yang panjang penuh penjagaan. Tapi hari ini akhirnya tiba. Aku tahu belum menjadi suami sempurna untuknya, terlebih dengan pekerjaan yang sekarang. Tapi satu hal yang ku yakini, buah hati yang dititipkan kepada kami adalah jalan masuk untuk rezeki. Aku akan bersemangat dan berjuang. Mulai ku janjikan dalam lembar pertama ini, aku akan melambung dan ku antar kedua malaikat di sampingku sebagai permaisuri dan putra mahkota dalam kejayaanku nanti.
Malam, 11 Desember 1998
Tepat selepas isa tadi acara tasmiah selesai. Tampaknya putraku mewarisi kulit ibunya. Yah, begitu. Kau putra dengan senyum dan rona sempurna. Setidaknya mata itu milikku. Mata tajam dengan sirat ketegasan. Jadilah pria yang punya komitemen dan tangguh. Hidup ini penuh dengan kerikil dan lubang, kau akan menutupnya dan melangkah kaki untuk melenggang. Kelak, kembangkan semua potensimu. Jadilah orang yang tak pernah malu dan terlalu lama larut dalam sesal.
Jangan berjalan menunduk, putraku. Kau harus tegak bagaimanapun keadaannya. Disaksikan ibumu, Tante Sardah, Selvia, Susan, dan Om Handarbeni; malam ini bersematlah namamu Altar Permadani.
Sore, 30 Desember 2000
Jantungku hampir copot hari ini. Apakah semua hal yang ku alami adalah tanda tentang perjalanan yang akan ku lalui. Betapa tidak, di usiamu yang masih balita harus ku alami beberapa situasi yang kembali mengancam jiwamu, putraku. Ya. Ibumu masih kerap kesurupan dan kadang berlaku aneh padamu. Aku juga sering temui musibah yang mengenaimu, mulai sakit mendadak sampai pada hari ini kau hampir saja tenggelam dalam sebuah kolam ikan. Tuhan, berikan panjang umur untuk anakku. Seandainya ini sebuah tanda tentang leluhur atau perintah darinya, izinkan aku tahu semua tentang hal apa.
Sore, 13 Juli 2008
Duhai putraku, bagaimana aku jelaskan semua ini. Ayahmu harus kokoh dan kuat. Tapi hari berat ku lalui sekarang. Ekonomi kita sedang tak baik-baik saja. Di usiamu yang telah beranjak SD, sebenarnya aku tahu tentang kelemahanmu. Aku ingin belikan kau daging setiap hari seperti orang mampu di luar sana. Tetapi pilihan antara daging atau protein dalam susu yang kau minum tak mampu ku penuhi keduanya. Hanya salah satu. Maafkan ayahmu, Altar. Aku akan cari solusi agar daya tahanmu seperti anak kebanyakan. Ayah mengerti tentang kau yang banyak kena buli di sekolah lantaran ketahanan tubuhmu yang cenderung lemah. Mantri di kampung bilang kau kekurangan darah. Tapi daging dan hati cukup mahal. Sungguh, ayah akan berjalan lebih cepat untuk penuhi itu atau paling tidak mencukupi semua perlumu.
Sore, 15 Juli 2008
Ayah akui akhir-akhir ini pertengkaran kerap terjadi. Masalah muncul dari mana saja. Aku yakin kau juga mendengar. Maafkan ayahmu putraku. Telingamu sebenarnya belum patut mendengarkan hal hina demikian. Tapi terlepas dari itu, aku bahagia melihat kau yang sangat lahap menyantap lauk yang ku buatkan. Aku sungguh tak peduli dengan suara ibumu. Terpenting gizimu terpenuhi. Kau sehat dan tumbuh besar. Oh iya, kudapatkan menu itu dari temanku yang suka berburu. Itu murah meriah namun khasiatnya tak akan diragukan lagi. Ada banyak anakku. Tapi untuk kepentingan seleramu, aku rahasiakan dalam tuturan. Hanya di tulisan ini aku sampaikan, namanya marus.
Hueekkkkk! Kesnari memuntahkan sesuatu.
Gusti sedikit tertawa ejek. Tampilan yang sama juga ditunjukkan oleh pria berhodie. Dia tak menyangka petugas gagah di depannya itu memiliki paranoid yang murahan.
"Ayolah Tuan tangguh. Bukankah kau bagian investigasi? Berapa hari sebenarnya riwayatmu bertugas," tukas Gusti.
Kesnari melenguh menekan perut lalu mengusap bagian hidung yang mulai terselip muntahan. Matanya merah dengan berair menandakan benar-benar dalam kondisi tak nyaman.
"Usus terburai, kepala pecah, otak yang berhamburan karena senjata, aku bisa untuk hadapi itu. Tapi marus?" lengan kiri Kesnari menekan mulut. Dia mundur selangkah lalu reflek menyamping.
Hueekkk!
Gusti menggeleng tak percaya.
Kesnari bangkit mendekat lagi dengan raut wajah yang sangat menyedihkan.
"Darah. Oh Tuhan, bisa kau bayangkan cairan merah dengan bulir dan gelembung-gelembung putih itu. Sebentar kau diamkan akan berubah hitam dengan anyir yang sangat kuat. Dan si jenius itu sengaja bekukan untuk disantap?" jelas Kesnari melakukan hal yang sama lagi. "Semua orang punya batasan,Tuan. Yah. Batasan." imbuhnya sambil menahan dorongan memalukan dari dalam perutnya.
Gusti tak hiraukan itu. Dia membuka halaman yang bertanda selanjutnya.
Malam, 23 April 2014
Selamat karena kau lulus SD, putraku. Dalam fase yang lalu saat terpuruk seorang teman membantuku. Ucapkan terima kasih kepada Om Handarbeni. Dia memang sahabat sejak SMA yang sangat setia dan perhatian. Tepat hari ini usai dari mengantarkan engkau saat ambil rapor di sekolah, Om Han datang temui ayah dan berniat memasukkan aku di sebuah perusahaan kelapa sawit. Bukankah ini jalan yang sangat bagus putraku? Meski cukup lama aku menunggu dan bermunajat, Tuhan akhirnya bukakan rezeki titipan untukmu melalui tangan Om Han. Besok ayah sudah mulai bekerja di sana putraku.
Gusti bergeser posisi. Sekarang ia duduk menyamping. Ia hela napas.
"Dari sini kita tahu bahwa Altar seorang manipulatif."
"Maksudmu?" tanya Kesnari.
"Kau ingat keterangannya, bukan? Dia mengaku kedatangan Handarbeni sekitar 6 tahun lalu. Tapi catatan ini ternyata berbeda. Altar dan Handarbeni sudah kenal sejak SD. Tapi untuk apa dia bohong begitu?"
Tanpa mau menunggu jawaban Kesnari. Gusti kembali membalik halaman.
Sore, 30 April 2014
Seminggu aku telah bekerja di PKS Sejahtera. Banyak hal yang ku temui, Tante Sardah dan Susan ternyata bekerja di sini. Ada kebenaran yang ironi sebenarnya. Jika di hadapan kami, Tante Sardah itu mempunyai sifat penyayang. Dia kerap baik sekali dengan Susan. Wanita karier itu seolah menganggap Susan itu adik kandungnya sendiri. Pernah dulu Tantemu itu cerita, saking dekatnya ia dan Susan, keduanya lantas membuat tato lucu di bagian kaki. Katanya untuk mengingatkan betapa ikatan itu terjalin dengan erat. Fakta di dunia kerja berbeda anakku. Hari ini ku saksikan murka tantemu itu menjadi-jadi. Sepertinya ada kesalahan yang dibuat Susan. Namun Tante Sardah tak mau menoleransinya. Ku amati dari bilik pagar ini perlakuannya bukan sebagai atasan bawahan melainkan majikan dan babunya. Kau harus membiasakan tentang ini. Memahami karakter itu penting sehingga kau tak akan jatuhkan sepenuhnya harapanmu ke manusia. Oh iya, sekarang ayah bekerja di bagian mesin membantu ahli-ahli engennering itu dalam perbaikan. Yah tak apa disuruh atau jadi jongos untuk mereka. Demi kau putraku, aku rela. Tapi aku tak berdiam diri dengan itu. Setiap hari dan ada kesempatan aku selalu catat ilmu baru dan penting dalam buku saku. Aku tak mau berlama-lama diperintah mereka. Demi kau, aku akan belajar dan segeranya menduduki posisi yang ku inginkan. Kau di rumah belajarlah yang giat. Jika sesekali Om Han berkunjung, sambutlah dengan baik. Mungkin kau akan banyak terima hadiah dari sahabat ayah yang baik itu.
Malam, 12 Januari 2015
Ayah melihat perubahanmu, putraku. Kau tumbuh besar sekarang. Hampir 5 tahun sejak ayah kerja dan mampu mencukupi perekonomian kita. Yang ayah tak habis pikir adalah hobimu. Ya. Tak mengapa, putraku. Sekarang jalankan daging dan hati, kau sebut apapun ayah yakin bisa turuti. Tapi tetap engkau suka makanan favoritmu itu. Kadang ayah tertawa geli sendiri jika mengingat kau mendadak panas apabila sehari saja tak memakan marus. Tak apalah jika memang itu seleramu. Hari ini juga ayah sampaikan tentang ibumu. Ayah telah mampu mencukupinya. Ibumu tampak bahagia, bukan? Seperti malam minggu tadi saat kita sekeluarga keluar dari desa dan menginap berapa malam di kota. Ayah merasakan sorot cahaya dari dua bola matanya. Telah cukup lama itu tak muncul. Ditambah lagi kau yang sangat lincah dan gemilang. Ayah merengkuh kebahagian dan benar-benar menjadi seorang yang punya segalanya sekarang.
Sore, 08 Mei 2016
Kerjaanku mulai keluar dari jalur manakala ku rasakan sikap kurang ajar dari seorang manager perusahaan. Betulkah rencana itu? Pengoptimalisasian HGU mulai mengincar tanah adat milik kakekmu untuk dijadikan lahan sawit. Meski ikut cari makan di dalam perusahaan, tentu aku tak bisa berdiam diri sekarang. Ayah harus bergerak untuk batalkan program laknat itu. Tanah adat harus tetap menjadi tanah adat. Petinggi-petinggi ini harus berpihak pada masyarakat. Itu harus dan wajib. Mulai sekarang aku akan surati mereka. Aku tak peduli dengan ini, maafkan putraku. Tanah leluhur kita harus dijaga dengan segala pertaruhan.
Sore, 10 Juli 2016
Nihil. Tak ada respon berarti dari petinggi-petinggi itu. Apalagi upayaku agar perusahaan gagal eksekusi. Aku tetap harus satukan desa bagaimanapun caranya. Maafkan ayah Altar, jika dominan tentang ini. Tapi mengertilah bahwa semua tentang perjuangan. Tapak tilas leluhur dan segala ritual maupun budaya harus asri dari sentuhan mesin-mesin penghancur itu.
Altar, aku percayakan ibu pada penjagaanmu. Ayah harus bertahan dan melawan untuk ini. Tunggulah sebentar saja.
Malam, 27 Agustus 2016
Beberapa minggu ini aku bergerak dengan caraku. Jika petinggi tak mampu beri keputusan berarti maka telahku gerungkan semua yang berbau kehancuran. Kau tahu, putraku. Tampak lucu, bukan? Menyaksikan semua peralatan impor itu mangkrak tanpa alasan dan harus perlu teknisi orang luar dengan biaya mahal. Usahaku kelihatan sekali membuat manager perusahaan kerepotan. Apalagi telahku sematkan sebuah gretakan pada dia bahwa ini semua bagian tanda tentang bencana. Mereka merinding dan mulai berpikir untuk mundur. Tapi aku tak lena dengan bualan itu. Kau mengerti bukan, jika kilau nilai bisa menggelincirkan seseorang. Ini tak akan bertahan lama. Sebentar lagi ku yakin mereka bakal kambuh kembali.
*
"Perempuan ini masih juga tak mau diam meski telah ku peringatkan. Tapi bukan cara ini penyelesaiannya."
"Altar hentikan," ujar Danar dalam kecemasan. "Bagaimana bisa kau berlaku demikian. Tidakkah kau melihat itu satu-satunya orang tuamu yang tersisa?"
Altar menatap Danar kebingungan. Sekarang sikap Altar itu kian memperjelas bagi Danar bahwa rekannya itu seorang yang sangat sakit.
"Tentang apa ini semua Altar? Dendam atau apa. Kau telah banyak menebarkan teror dan cipratan darah. Salah apa mereka hingga masuk dalam obsesimu."
Altar mulai bergumam ingin menjelaskan. Namun peluang kecil itu dimanfaatkan Danar dengan gerak cepat. Dia raih sebuah kunci inggris dan melempar untuk mengincar tangan kanan Altar yang mengacungkan pistol.
Altar gesit menghindar.