PUKAT

Heri Haliling
Chapter #16

Jawaban

Sebuah cahaya menyusup masuk di antara kelopak mata. Menghasilkan pendar merah remang. Berat dan sekejap syaraf segera memberikan respon kepada tubuh tentang suatu rasa nyeri luar biasa. Danar mengaduh ketika tersadar dari pingsannya. Kepala bagian kanan tampak empuk dan basah oleh darah merembes mengarsir mata. Terasa sekali luka itu berdenyut-denyut bercampur gatal. Danar coba menggaruknya. Percuma, impiannya patah manakala mengerti tubuh, tangan, dan kakinya terikat pada sebuah meja. 

Dalam keadaan lagu yang masih terdengar mengalun terulang-ulang. Danar mencoba menoleh ke kiri menghindari kilaun lampu. Danar melihat punggung Altar tengah sibuk bekerja. Lemas tanpa daya, ia saksikan tubuh Larasati masih kelojotan saat mata bor beroperasi melubangi tubuhnya. Tangisan, erangan, dan sikap berontak Larasati tunjukkan sebagai bentuk perlawanan.

Dengan mulut kering, Danar menyeru.

"Hentikan Altar. Kasiani dia."

Bunyi mata bor berhenti. Altar membalikkan badan. Kini terlihat sekilas dari balik badannya sebuah toples dalam video yang pernah Danar tonton.

"Mengapa ibumu, Altar? Mengapa dia yang melahirkanmu?"

"Orang di atas meja ini memang yang melahirkanku. Tapi juga orang yang berulang kali hendak mencelakaiku. Bukankah begitu, Ma?" Altar kembali menoleh ke Larasati. Wajah sang mama telah pucat kekuningan dan begitu memunculkan aura traumatik ketakutan yang sangat mengerikan. Jemari Altar lalu bergerak melepaskan isolasi yang baru saja ia lekatkan saat proses pengeboran.

"Maafkan Mama, Altar. Maafkan sikapku kepadamu. Mama akui ini sebagai kekeliruan." Dengan napas kembang kempis Larasati melanjutkan "Percayalah, tidak semua yang dikatakan Johan itu benar. Sebenarnya.."

"Johan, bukan ayahku. Begitukan yang mau kau bilang Ma?" potong Altar. "Jasad yang busuk terduduk di sana itulah ayahku."

Larasati mengernyitkan kening tanda heran. Dengan lemas ia menanyakan "Darimana kau tahu itu?"

Altar menjingkatkan kepala ke belakang.

"Tak penting lagi, Ma" jawabnya sambil memasukkan jari manis ke mata luka bagian paha. Larasati mengerang ngilu berat karena jemari Altar menyentuh urat dan daging. Altar menekan dan darah naik ke mata luka.

"Manusia macam apa kau ini, Altar," seru Danar yang juga lemah. Dia pun sungguh terkejut atas pengakuan Altar barusan. 

"Biarkan ku kirim kalian berdua ke akhirat dulu. Setelah di sana silakan diskusikan."

"Sungguh, Mama minta maaf putraku. Sama sekali tak ku bayangkan semua berakhir seperti ini."

Altar tak menjawab. Ia bergegas menggeser tubuhnya untuk mengambil selongsongan pipa favoritnya. Altar seperti biasa segera isi dengan tanah tankos. Jarinya lalu beralih memutar toples dan meraih seekor kaki seribu. Sekarang ia jumput kaki seribu dan angkat agar lampu plafon jelas menyinarinya.

"Lihatlah kaki seribu yang melingkar antara ringkih dan takut ini, Ma," tiba-tiba Altar berlinang. "Itulah aku dalam buaianmu selama 9 bulan."

"Apa maksudmu Altar?" tanya Larasati lirih.

Altar memejamkan mata. Menghela napas sambil meraih sesuatu di atas meja. Topeng night baron ia kenakan menutup wajahnya yang merah bermandi darah kering. Senyum night baron berbanding terbalik dengan sesegukan tangis Altar di dalamnya.

Altar kemudian menggigil seolah menerima kekuatan. Altar mulai agresif liar. Ia bicara sambil lakukan aksi gilanya kepada Larasati.

"Aku adalah kaki seribu dalam buaian kandunganmu selama 9 bulan!" Altar menghujamkan pipa kecil itu ke mata luka 6 cm di atas pusar Larasati. Kembali perempuan itu kelojotan. "Aku adalah bayi pemalu yang semasa itu berjuang hidup dalam asam racun dan himpitan!" jemarinya menjumput tankos untuk menambahi isi dalam pipa. Kaki seribu yang menjulur kadang melingkar ia paksa untuk masuk ke pipa. "Apa kau paham bagaimana rasanya sesak dan menelan zat kimia setiap waktu?" lanjut Altar menjumput tanah lagi untuk menutup selongsongan pipa. Ia lalu mendorong masuk tertanam ke dalam daging Larasati yang terluka. 

Lihat selengkapnya