PUKAT

Heri Haliling
Chapter #17

Predator

Byurrrr!!

Siraman air dingin menghantam wajah Altar yang hilang kesadaran. Dia terhenyak dan berontak. Tapi langsung ngilu bercampur perih merajam semua anggota badannya. Berdenyut-denyut pada banyak titik, Altar mulai memeriksa. Sekejap dia terkejut. Dua tangannya membentang tersalip kayu. Dua tapak tangannya juga terlihat tertembus paku. Dalam posisi dia duduk, beberapa sabuk membelit leher, perut, dan kakinya. Altar meringis menahan kondisi ini. Kepalanya menoleh melihat sekitar. Dia bukan berada pada satu ruangan. Kiri dan kanan berupa tebing batu yang terbentuk dengan sengaja. Altar menatap ke atas. Ia sadar berada di mana. Bulan terlihat dari dasar sebuah gelas. Altar menggigit bibirnya, sekarang ia ada dalam dasar lubang galian tambang.

Lamat tapi berangsur nyaring sebuah lagu propaganda zaman penculikan 7 jenderal diputar seseorang. Altar berusaha menengok ke arah suara. Sebelah kanan, sosok pria berjaket hitam dengan mengenakan topeng night baron terlihat mendekat. Altar menggigit bibir kesal! Bedebah ini mencuri topengnya.

"Brengsek! Siapa, kau!" desis Altar kepayahan.

Pria itu mengangkat meja dan kursi lalu menyusunnya berhadapan dengan Altar. Pria itu duduk. Dia memajukan wajah dengan topangan tangan kirinya. Keduanya sekarang saling pandang.

Altar berontak dengan menggoyang kursi berharap sesuatu terjadi. Namun, semua percuma. Hanya bertambah rasa nyeri dari satu bahu yang tertembus peluru dan dua tapak tangannya yang terpasak paku. Dia pun mengerti jika kursi ini telah terpancang ke dalam tanah.

"Apakah kau takut?" tanya pria bertopeng.

Altar bertahan dengan sikap angkuhnya.

"Ketakutan hanya milik budak-budak yang ku korbankan!"

"Bagaimana dengan luka di dua telapak tanganmu. Apa itu buat kau sakit?"

"Brengsek! Siapa kau! Lekas selesaikan ini, jahanam! Jangan sampai peluangmu lepas. Sebab jika iya.." wajah Altar menyeringai penuh ancaman. "Kupastikan akan ku kuliti dirimu inci demi inci!!"

Pria bertopeng itu tertawa dengan iringan lagu propagandanya. Tak lama, dia memundurkan badan lalu berjalan beberapa langkah untuk ambil sesuatu. Sebuah koper besar, Altar yang melihat itu makin geram bukan main.

"Kau penggemarku ternyata. Sungguh bedebah dunia ini!"

Pria bertopeng tak merespon. Dia hanya fokus menata beberapa hal. Selanjutnya, telah tersaji di atas meja sebuah tabung dari seng yang pada bagian tepi depannya tampak berlubang-lubang. Selain itu melalui lampu redup yang nyala di pinggir mereka berdua dan temaram sinar rembulan, mengkilatlah sebuah jarum dengan tali dari kawat tipis. Di atas meja terlihat pula dua batang sumpit yang diikat menyilang.

"Mari mulai persiapannya."

*

Gusti dan anggota sampai di ujung lorong rahasia. Ia segera keluar dengan waspada. Pistol telah mengacung siaga dan siap membidik sejak tadi. Gusti dan anggota kemudian menyebar untuk perburuan. Beberapa menit kemudian berlalu saat pencarian. Gusti juga telah mengendus semua jejak yang tertinggal. Bersih tak ada apa-apa. Gusti berdiri menurunkan senjata sambil mengacak pinggangnya. Sial. Dia harus terima kenyataan bahwa sang buruan berhasil lepas dari sergapan.

*

Jeritan memekik dengan dahsyat membelah malam yang kian luruh larut menuju pagi. Desau angin dan debu bercampur ratik membumbung sampai ke permukaan. Percuma saja, dalam lubang yang telah ditinggalkan perusahaan itu bahkan letusan blassting pun tak akan terdengar siapapun.

Altar mengatur napasnya yang tersengal kesengsaraan. Beberapa jahitan dari pria night baron di kulit Altar area dada kiri ditorehkan menempel longgar namun erat.

"Tahan sebentar lagi, Tuan kuat. Bukankah kau ahli dalam menikmati siksa yang berhubungan dengan syaraf?" kata pria bertopeng terus menusukkan jarum menguletkan jahitan. Altar yang sejak tadi berontak sampai kini masih lakukan perlawanan dengan menghentak-hentakan leher ke depan berharap bisa menggigit leher pria sial di depannya.

"Selesai," kata pria bertopeng sambil memundurkan badan.

Altar kembang-kempis menahan sakit karena jahitan. Kini terlihat tabung seng merekat longgar namun kuat bersama kulit Altar. Tabung seng dengan panjang sekitar 15 sentimeter itu terjulur ke depan dan ditopang dengan dua sumpit yang disilangkan.

"Apa yang hendak kau buat, jahanam. Jika jantan, tunjukkan wajahmu biar saat ajalku tiba ku ingat betul-betul wajah itu untuk beradu di neraka nanti!"

Pria tersebut duduk kembali. Sejurus kemudian ia buka topengnya.

Altar tak terkejut dengan pria di depannya. Dia tak kenal pria asing itu. Tapi entah bagaimana wajah pria kisaran tepaut 3 tahun darinya tersebut sedikit familiar. Hanya harus Altar akui, dia tak ingat di mana dan kapan pernah bertemu.

"Aku tak kenal kau. Siapa kau, bedebah!"

Pria dengan rambut tersisir ke pinggir dan roman muka cerah itu tersenyum.

Deg!

Jatung Altar berdegup kejut. Entah di mana ia pernah melihat senyum itu.

"Aku adalah orang yang memandang kegembiraan gilamu saat malam penemuan jasad korban pertama."

"Jadi kau penguntit di tengah sawit dan saat kami bermain succubus?"

Pria itu masih tersenyum sambil mengambil sebungkus rokok dalam saku bajunya. Jemarinya sungguh terampil menjumput satu bilah. Dengan ditudungi tangan kirinya, nyala api dari korek beradu dengan ujung rokok. Tak lama asap putih kebiruan telah mengukung wajahnya yang cerah.

Lihat selengkapnya