PUKAT

Heri Haliling
Chapter #18

Dendam

Kabut tipis menggulung sendu di atas permukaan tanah gambut yang baru saja digali. Hawa, pasi dalam ruam wajahnya. Terhenti di antara campuran debu dan serabut kering pelepah sawit yang diterbangkan udara. Lembapnya udara pagi itu menelusup masuk ke dalam setiap tubuh. Merekat di antara tulang dan daging. Bekunya sungguh membekap. Ah, bukan! Bukan hanya itu. Nyatanya udara kibaskan duka dan ingin setiap dada manusia merasakannya.

Pekuburan yang sunyi dengan hanya desir angin dan gesekan ranting kering membuat langkah kaki Gusti dan Kesnari yang datang terdengar berat. Kaki mereka seolah enggan untuk menginjak bumi yang kini menjadi selimut terakhir seseorang.

Keduanya berhenti beberapa meter melihat Kasandra yang telah duduk bersimpuh. Tanpa suara. Diam yang tak lagi bisa dipecah bahkan oleh angin. Rambut Kasandra terurai ke depan dan sebagian tertutup kerudung hitam. Tubuhnya membungkuk nyaris menyatu dengan tanah. Kedua tangannya tertanam di sisi pusara seperti mencengkram harapan yang tak akan pernah tumbuh.

Ayah Kasandra berdiri lunglai melihat kehadiran kekasih putrinya itu. Namun juga bisa apa? Kenyataan sekarang begitu ia sulit lepaskan. Sang ayahpun bingung ingin menyapa bagaimana.

Dengan masih menyisakan sisa begadang dan luka yang belum sempat dirawat, Gusti mengamati keduanya. Kasandra tentu terpukul oleh beban yang begitu berat. Gusti menarik napas panjang. Dingin udara menyesap sampai ke paru-parunya. Ia melangkah pelan mendekati pusara itu lalu menunduk. Suara sepatunya tenggelam dalam desir angin yang seolah bumi pun memilih diam untuk hari ini.

“Kasandra…”

Perempuan itu tidak menjawab. Hanya bahunya yang naik turun, entah karena isak atau napas yang mulai kehilangan irama. Merasa mungkin Gusti membawa jawaban ketenangan, sang ayah menggeser langkah dan mulai memberikan ruang.

Gusti berjongkok. Tangannya menyentuh tanah di samping tangan Kasandra. Sejenak tak berkata-kata.

"Mungkin ibumu telah menemukan kedamaian di sana."

Lihat selengkapnya