Bagi seorang pria, ketampanan sering kali bukan merupakan sebuah berkah, melainkan sebuah malapetaka yang terbungkus rapi oleh kemasan kosmetik.
Namaku Panji. Orang bilang aku lelaki pujaan, dan garis rahangku—menurut desas-desus ibu-ibu kompleks—cukup tajam untuk mengupas mangga muda.
Namun, di hadapan takdir yang sedang menderita asma akut, ketampanan tidak bisa dipakai untuk mengupas mangga.
Hari itu, hatiku remuk menjadi serpihan yang tidak bisa disatukan kembali, bahkan oleh lem Korea sekalipun.
Kekasih hatiku, gadis yang senyumnya bisa meredakan badai, resmi berangkat kuliah ke kota seberang.
Lima tahun.
Kami sepakat mengunci hati masing-masing selama setengah dekade.
Sebuah durasi yang cukup bagi sebuah negara untuk mengganti presiden, atau seperti kabut tebal yang merayap di atas permukaan air sungai.
Aku berjanji akan menunggunya.
Dengan kesetiaan sekokoh tiang listrik.
Pada saat itu, Tuhan mungkin sedang tertawa.
Sebab, pada hari yang sama ketika kapal yang membawa kekasihku menjauh dari dermaga, selembar surat mutasi mendarat di tanganku.
Aku dipindahkan ke sebuah kampung di pedalaman Kalimantan.
Namanya Riam Gaib.
Sebuah nama yang menurutku tidak dibuat oleh manusia yang memiliki niat baik terhadap pendatang.
"Di sana udaranya segar, Pan. Bebas polusi."
Itulah kalimat atasanku ketika menyerahkan surat tersebut.
Beliau tersenyum.
Aku mengenal senyum itu.
Senyum seorang atasan yang baru saja berhasil memindahkan masalah dari mejanya ke meja orang lain.
Aku tidak punya pilihan.
Tiga hari kemudian, aku tiba di Riam Gaib.
Dan sejak saat itu, aku memahami satu hal penting tentang kehidupan di pedalaman.
Udara memang segar.
Tetapi informasi sangat terbatas.
Sinyal telepon hampir tidak pernah ada.
Internet adalah dongeng.
Google Maps menyerah.
Bahkan aplikasi cuaca di handphone-ku seperti sedang melakukan mogok kerja.
Aku pernah berdiri di atas sebuah bukit selama hampir empat puluh menit sambil mengangkat handphone tinggi-tinggi.
Bukan karena sedang berdoa.
Aku sedang mencari satu batang sinyal.
Satu saja.
Tidak perlu lima.
Tidak perlu 4G.
Hanya satu batang.
Namun, yang muncul tetap tulisan:
Tidak ada layanan.
Aku menatap layar.
"Jangan sombong."
Aku menekan tombol refresh.
"Ini handphone mahal."
Tetap tidak ada sinyal.
Sejak hari itu aku menyadari bahwa di Riam Gaib, manusia bukan penguasa teknologi.
Alam adalah pemilik saham mayoritas.
Listrik desa sendiri tidak berasal dari jaringan besar seperti di kota.
Kami mengandalkan genset.
Dan sebagai petugas PLN yang ditempatkan di sana, tugasku sederhana.
Menjaga agar genset tetap hidup.
Menjaga kabel tidak bermasalah.
Dan menjaga kewarasan sendiri.
Yang terakhir ternyata jauh lebih sulit.
***
Orang pertama yang banyak membantuku di desa adalah Tri. Aku memanggilnya Mas Tri karena dia lebih tua dariku dan karena memanggil orang dengan nama lengkap di desa terpencil terkadang bisa membuat percakapan terasa seperti sidang pengadilan.
Mas Tri sudah bertahun-tahun bekerja di wilayah pedalaman.
Dia tinggi, kurus, kulitnya legam, dan memiliki kebiasaan berbicara seolah-olah semua persoalan hidup sudah pernah dia alami.
Motor mogok?
Dia pernah.
Digigit ular?
Pernah.
Kehilangan arah di hutan?
Pernah.
Bertemu harimau?
"Pernah."
Aku pernah bertanya kepadanya apakah dia benar-benar pernah bertemu harimau.
Dia menjawab dengan santai.
"Pernah lihat."
"Terus?"
"Harimaunya juga lihat aku."
"Lalu?"
"Kami saling lihat."
"Setelah itu?"
"Ya sudah."
Aku menunggu.
"Tidak ada apa-apa?"
"Harimaunya pergi."
"Kenapa?"
Mas Tri menepuk dadanya.
"Karena dia tahu aku bukan mangsa."
Aku kagum.
Sampai kemudian seorang warga memberitahuku bahwa harimau yang dimaksud Mas Tri sebenarnya adalah kucing hutan yang berukuran agak besar.
Sejak saat itu, aku tidak lagi menjadikan pengalaman Mas Tri sebagai sumber informasi utama.
Namun, ada satu hal yang harus kuakui.
Mas Tri memang tahu banyak hal tentang Riam Gaib.
Termasuk hal-hal yang tidak pernah dibicarakan oleh warga secara terbuka.
Pada malam ketiga setelah kedatanganku, kami duduk di warung kopi dekat dermaga.
Mas Tri sedang merokok.
Aku sedang mencoba mengirim pesan kepada kekasihku.
Percobaan ke-17.
Pesannya sederhana.
Aku sudah sampai.
Tetapi pesan itu tidak kunjung terkirim.
Aku menatap layar dengan frustrasi.
"Kalau begini terus," kataku, "lima tahun lagi dia sudah lulus, menikah, punya anak, anaknya masuk TK, baru pesan ini terkirim."
Mas Tri tertawa.
"Makanya jangan terlalu percaya teknologi."
Aku memasukkan handphone ke saku.
"Terus pakai apa?"
"Kalau di sini?"
"Iya."
"Kalau penting, bilang langsung."
Aku menatapnya.
"Masalahnya dia ada di kota."
Mas Tri mengangguk.
"Berarti memang tidak penting."
Aku hampir melempar sandal.
Saat itulah seorang lelaki tua yang duduk tidak jauh dari kami tertawa kecil.
"Kalau soal perempuan, semua lelaki merasa penting."
Aku menoleh.
Itulah pertama kalinya aku melihat Amang Julak.
Usianya sekitar lima puluhan.
Tubuhnya tidak terlalu besar, tetapi tegap.
Rambutnya sudah dipenuhi uban.