PULANG

Raihan Langit
Chapter #3

Bab 2 : Aturan Yang Tidak Pernah Ditulis

Hari-hari pertamaku di Riam Gaib berjalan dengan sangat normal.

Setidaknya, menurut ukuran manusia yang baru saja dipindahkan ke tempat di mana sinyal telepon lebih langka daripada pejabat yang mau mengakui kesalahan.

Pagi-pagi aku bekerja.

Siang bekerja.

Sore bekerja.

Malam biasanya kugunakan untuk mencoba menghubungi kekasihku yang berada ratusan kilometer jauhnya.

Masalahnya, hubungan kami sekarang lebih bergantung pada posisi geografis daripada kesetiaan.

Kalau aku berdiri di tempat yang tepat, kadang-kadang satu pesan bisa terkirim.

Kalau aku berdiri sedikit bergeser, sinyal menghilang.

Aku pernah menghabiskan dua puluh menit hanya untuk mengirim kata:

Kangen.

Setelah berhasil terkirim, aku merasa seperti baru menyelesaikan proyek nasional.

Balasannya datang tiga jam kemudian.

Aku juga.

Aku menatap layar.

Lalu tertawa sendirian.

Dua kata.

Tetapi membutuhkan perjuangan seperti mengirim surat dari bulan.

***

Pekerjaanku di Riam Gaib sebenarnya cukup sederhana.

Memastikan genset desa tetap hidup.

Memeriksa panel.

Memeriksa kabel.

Memeriksa sambungan.

Dan sesekali menerima keluhan warga yang merasa listrik mati karena kesalahan PLN, padahal colokan kulkas mereka sendiri belum terpasang.

Aku sudah terbiasa.

Namun, ada satu hal yang membuatku heran.

Listrik di Riam Gaib selalu dimatikan pada jam tertentu.

Bukan karena bahan bakar habis.

Bukan karena genset bermasalah.

Tetapi memang atas permintaan warga.

Jam sebelas malam.

Tepat.

Setiap malam.

"Kenapa harus jam sebelas?" tanyaku kepada Mas Tri pada suatu sore.

Mas Tri sedang membersihkan sebuah alat.

"Aturan kampung."

"Siapa yang bikin?"

"Orang kampung."

"Kenapa?"

"Karena sudah begitu."

Aku menghela napas.

"Mas, jawabanmu kalau jadi ujian pilihan ganda semuanya salah."

Mas Tri tertawa.

"Yang penting listrik mati."

"Tapi kenapa?"

Mas Tri menatapku.

"Kau mau tahu?"

"Iya."

"Benar-benar mau tahu?"

"Iya."

Mas Tri mendekatkan wajah.

"Karena orang-orang di sini tidur."

Aku menatapnya.

"Ya memang."

"Jadi?"

"Jadi apa?"

"Kalau orang tidur, ya lampu dimatikan."

Aku menghela napas panjang.

Aku mulai memahami bahwa pengalaman Mas Tri tidak selalu sejalan dengan logika.

***

Pada malam keempat, aku melihat sesuatu yang menarik.

Tepat pukul sepuluh lewat lima puluh.

Warga mulai mematikan lampu rumah masing-masing.

Satu per satu.

Bukan karena listrik akan diputus.

Mereka mematikannya sendiri.

Aku melihat dari jendela mess.

Rumah pertama gelap.

Kemudian rumah kedua.

Ketiga.

Keempat.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, sebagian besar kampung sudah gelap.

Aku merasa seperti sedang menyaksikan kota mati listrik massal.

Padahal genset masih menyala.

"Kenapa mereka mematikan lampu?" tanyaku.

Mas Tri yang sedang duduk di teras menjawab,

"Sudah kebiasaan."

"Jam sebelas?"

"Iya."

"Setiap malam?"

"Iya."

"Kalau ada yang belum tidur?"

"Ya tidur."

Aku menatapnya.

"Kalau mau baca buku?"

"Besok."

"Kalau mau menonton televisi?"

"Besok."

"Kalau mau bekerja?"

"Besok."

"Kalau mau..."

Mas Tri memotong.

"Panji."

"Ya?"

"Jangan banyak tanya."

Aku tertawa.

"Kenapa?"

"Kadang-kadang pertanyaan lebih panjang daripada jawabannya."

Aku tidak memahami maksudnya.

Sampai beberapa menit kemudian.

Seorang anak kecil keluar dari rumahnya.

Dia membawa ember.

Aku melihatnya berjalan menuju sumur.

"Mas Tri."

Lihat selengkapnya