Sejak memutuskan untuk tinggal di Riam Gaib, aku mulai memahami bahwa kampung ini memiliki cara sendiri dalam mengatur kehidupan.
Di kota, orang-orang membuat peraturan dengan papan pengumuman.
DILARANG PARKIR DI SINI.
DILARANG MEMBUANG SAMPAH.
DILARANG MEROKOK.
Di Riam Gaib, tidak ada papan.
Orang-orang cukup mengatakan sesuatu sekali.
Dan anehnya, semua orang mematuhinya.
Jangan ke sungai setelah malam.
Jangan melewati pohon besar.
Jangan mengambil air dari sumur setelah jam tertentu.
Jangan menyentuh benda-benda tertentu.
Dan yang paling sering kudengar:
"Kalau sudah sore, pulang."
Aku tidak pernah benar-benar memahami alasan di balik semua itu.
Tetapi aku juga tidak terlalu peduli.
Bagaimanapun, aku datang ke Riam Gaib untuk bekerja.
Bukan untuk melakukan penelitian kebudayaan.
Bukan pula untuk menjadi paranormal.
Aku hanya ingin menyelesaikan masa mutasi, mengumpulkan uang, lalu kembali ke kota dan melanjutkan hidup bersama kekasihku.
Setidaknya itulah rencanaku.
Masalahnya, rencana manusia sering kali hanya menjadi bahan tertawaan bagi takdir.
***
Sore itu aku sedang berada di gardu bersama Mas Tri.
Matahari mulai turun.
Aku sedang memeriksa sambungan kabel ketika Mas Tri tiba-tiba berkata,
"Panji."
"Ya?"
"Kalau nanti sudah gelap, jangan terlalu lama di luar."
Aku menoleh.
"Kenapa?"
"Karena malam."
Aku menatapnya.
"Mas, saya tahu malam itu setelah sore."
Mas Tri tertawa.
"Bagus. Berarti kau masih pintar."
Aku kembali bekerja.
Beberapa menit kemudian, dari arah jalan kampung, seorang gadis datang.
Usianya mungkin tidak jauh dariku.
Rambutnya panjang.
Dia mengenakan pakaian sederhana dan membawa sebuah lampu kecil.
Dia berhenti di depan gardu.
"Mas Panji?"
Aku menoleh.
"Iya?"
"Lampu di rumah kami mati."
Aku turun dari tangga.
"Di rumah mana?"
Dia menunjuk ke arah jalan kecil di sebelah timur.
"Di sana."
Mas Tri yang sedang duduk di atas motor langsung menoleh.
"Rumah siapa?"
Gadis itu menyebutkan sebuah nama.
Aku tidak terlalu mengenalnya.
Mas Tri juga tidak langsung menjawab.
Dia hanya melihat matahari.
Kemudian melihat gadis itu.
Lalu melihatku.
"Besok saja."
Gadis itu menggeleng.
"Kalau malam rumah kami gelap."
Mas Tri berdiri.
"Nanti saja."
"Kenapa?"
Mas Tri tidak menjawab.
Aku justru merasa kasihan.
"Mas, saya cek saja."
Mas Tri menatapku.
"Panji."
"Ya?"
"Jangan lama."
Aku tersenyum.
"Kan cuma periksa lampu."
Mas Tri masih memandangku.
"Kalau sebelum gelap belum selesai, pulang."
Aku mengangguk.
"Siap, Mas!"
Gadis itu kemudian berjalan lebih dahulu.
Aku mengambil tas peralatan.
Sebelum pergi, aku menoleh kepada Mas Tri.
"Kalau saya belum balik, tunggu ya."
Mas Tri hanya mengangguk.
***
Jalan menuju rumah gadis itu tidak terlalu jauh.
Kami melewati beberapa rumah.
Kemudian kebun.
Kemudian jalan tanah yang semakin sempit.
Aku berjalan sambil membawa senter.
Gadis itu berjalan di depanku.
"Rumahnya masih jauh?"
"Tidak."
Aku mempercepat langkah.
"Di sana?"
Dia mengangguk.
Aku melihat beberapa pohon besar di kiri-kanan jalan.
Salah satunya sangat besar.
Batangnya mungkin membutuhkan lima orang dewasa untuk memeluknya.
Aku teringat ucapan warga.
Jangan lewat pohon besar.
Aku berhenti sebentar.
Gadis itu terus berjalan.
Aku mengejarnya.
"Sebentar."
Dia berhenti.
"Ada apa?"
"Itu pohon yang dimaksud orang-orang?"
Dia menatap pohon itu.
Kemudian tersenyum kecil.
"Yang mana?"
"Itu."
Dia melihat ke arah pohon.
"Ah."
"Kenapa?"
"Memang pohon besar."
Aku menunggu penjelasan.
Tidak ada.
"Kita lewat sini?"
"Iya."
Aku menelan ludah.
"Tidak apa-apa?"
Gadis itu mengangguk.
Aku kembali berjalan.
Dalam hati aku mulai merasa bahwa orang-orang di kampung ini mungkin memang terlalu berlebihan.
Pohon ya pohon.
Besarnya memang luar biasa.
Tetapi tetap pohon.
Aku tidak percaya sebuah pohon bisa membedakan orang baik dan orang jahat.
Kalau bisa, mungkin petugas pajak akan langsung habis dimakan akar.
Aku berjalan sambil tersenyum sendiri.
Kemudian gadis itu berkata,
"Mas Panji."