Sejak kejadian gadis yang menghilang itu, aku mulai memiliki kebiasaan baru.
Tidak, aku tidak menjadi lebih religius.
Aku juga tidak tiba-tiba rajin membaca buku tentang dunia gaib.
Aku hanya mulai mengunci pintu kamar dua kali.
Itu saja.
Menurutku, tindakan tersebut cukup masuk akal.
Bagaimanapun juga, tinggal sendirian di sebuah mess yang dikelilingi hutan bukanlah alasan untuk membuka pintu kepada siapa pun yang mengetuk setelah tengah malam.
Apalagi setelah kejadian kemarin.
Aku masih belum bisa menjelaskan ke mana gadis itu menghilang.
Aku juga masih belum tahu siapa dia.
Dan semakin kupikirkan, semakin tidak masuk akal semuanya.
Masalahnya, manusia memiliki kebiasaan buruk.
Kalau tidak mendapatkan jawaban, otak akan membuat jawaban sendiri.
Aku mulai berpikir mungkin aku salah jalan.
Mungkin rumah itu memang ada, tetapi aku lupa letaknya.
Mungkin gadis itu pulang melalui jalan lain.
Mungkin aku terlalu lelah.
Mungkin aku memang mulai pikun.
Kemungkinan terakhir terasa paling mengkhawatirkan.
Aku baru berusia dua puluh sekian tahun.
Kalau sudah mulai pikun sekarang, lima tahun lagi mungkin aku lupa bahwa aku sedang menunggu kekasihku.
Bisa-bisa nanti dia pulang dari kuliah, mengetuk pintu, lalu aku bertanya:
"Maaf, Anda siapa?"
Aku tersenyum sendiri membayangkan hal itu.
Kemudian tidur.
Atau setidaknya mencoba tidur.
***
Malam itu hujan turun cukup deras.
Atap seng mess berbunyi seperti sedang digunakan oleh seratus orang untuk menabuh drum secara bersamaan.
Aku berbaring sambil membaca buku.
Sebuah buku tentang instalasi listrik.
Buku yang menurutku sangat cocok untuk mengusir rasa takut.
Kalau masih takut, setidaknya mati karena bosan.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh.
Aku mematikan lampu.
Kamar menjadi gelap.
Hanya cahaya kecil dari lampu luar yang masuk melalui celah tirai.
Aku menarik selimut.
Memejamkan mata.
Tidak lama kemudian...
Tok.
Aku membuka mata.
Hujan masih turun.
Mungkin ranting.
Aku memejamkan mata lagi.
Tok.
Kali ini lebih jelas.
Aku membuka mata, lalu menatap jendela.
Tidak ada apa-apa.
Aku duduk.
"Mas Tri?"
Tidak ada jawaban.
Aku baru hendak berbaring lagi ketika suara itu terdengar.
Tok... tok... tok...
Aku langsung duduk tegak.
Bukan dari pintu.
Dari jendela.
Aku menatap ke arah kaca.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Aku menyalakan lampu.
Cahaya memenuhi kamar.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku menghela napas.
Mungkin ranting pohon.
Aku kembali berbaring.
Baru beberapa detik...
Tok.
Aku bangun lagi.
"Siapa?"
Kali ini aku mulai kesal.
"Kalau ada orang, bilang!"
Sunyi.
Aku turun dari tempat tidur.
Mengambil senter.
Berjalan perlahan ke jendela.
Tanganku memegang tirai.
Aku berhenti.
Tiba-tiba aku teringat ucapan Mas Tri.
Kalau malam, jangan terlalu lama di luar.
Aku menelan ludah.
Kemudian mengingat ucapan Acil Ratna.
Kalau mendengar sesuatu dari luar, jangan buru-buru membuka.
Aku menarik napas.
"Ini pasti kucing."
Aku berusaha meyakinkan diri sendiri.
"Kucing yang besar."
Aku membuka tirai sedikit.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku tertawa kecil.
"Benar."
Aku menutup tirai.
Baru dua langkah aku mundur...
Tok.
Aku membeku.
Ketukan kali ini terdengar tepat dari belakangku.
Aku perlahan menoleh.
Jendela masih tertutup.
Aku menatap kaca.
Kemudian sesuatu bergerak di balik tirai.
Aku mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tanganku meraba-raba mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata.
Yang kutemukan adalah sandal.
Aku menggenggamnya.
Aku tidak tahu mengapa.
Mungkin karena sandal adalah senjata tradisional rakyat Indonesia.
Aku mendekati jendela lagi.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Ketukan terdengar sekali lagi.
Tok.
Aku menarik tirai.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Sebuah wajah.
Menempel tepat di balik kaca jendela.
Aku hampir berteriak.
Bukan karena wajah itu mengerikan.
Tetapi karena ukurannya.
Wajah itu...