PULANG

Raihan Langit
Chapter #6

Bab 5 : Pesan

Pagi setelah kejadian itu, aku menemukan satu fakta penting tentang diriku sendiri.

Ternyata manusia bisa hidup tanpa tidur.

Yang tidak bisa dilakukan manusia adalah hidup tanpa kopi.

Aku duduk di teras mess sambil memegang secangkir kopi yang rasanya seperti air rebusan ban bekas.

Mas Tri duduk di sebelahku.

Dia terlihat sangat santai.

Aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa minum kopi pagi-pagi sambil berbicara tentang hantu seolah-olah sedang membicarakan harga bensin.

"Mas."

"Hm?"

"Sandah itu siapa?"

Mas Tri meniup kopinya.

"Sudah kubilang, jangan banyak tanya."

"Semalam wajahnya ada di jendela saya."

"Iya."

"Dia mengetuk."

"Iya."

"Dia melihat saya."

"Iya."

"Terus sekarang saya tidak boleh bertanya?"

Mas Tri menyesap kopi.

"Betul."

Aku menatapnya.

"Mas Tri."

"Apa?"

"Kalau saya mati karena penasaran, siapa yang tanggung jawab?"

"PLN."

Aku hampir tersedak.

"Kenapa PLN?"

"Karena kau pegawai PLN."

Aku menggeleng.

Entah bagaimana, orang ini selalu berhasil membuat suasana yang serius menjadi tidak berguna.

Aku kembali memandang jendela kamarku.

Bekas embun semalam sudah menghilang.

Aku hampir menganggap semuanya selesai.

Sampai aku teringat satu hal.

Wajah itu.

Lebar.

Pucat.

Dengan jarak mata yang membuatku curiga bahwa Tuhan mungkin sedang bereksperimen dengan desain manusia.

Aku bergidik.

"Mas."

"Hm?"

"Sandah itu perempuan?"

Mas Tri mengangguk.

"Katanya."

"Katanya?"

"Iya."

"Kalau katanya, berarti Mas belum yakin?"

Mas Tri menggeleng.

"Di Riam Gaib, tidak semua orang yang dipanggil perempuan benar-benar perempuan."

Aku menatapnya.

"Mas..."

"Apa?"

"Kalau kau terus bicara seperti itu, saya mau pindah saja."

Mas Tri tertawa.

***

Pagi itu kami bekerja seperti biasa.

Aku berusaha mengembalikan pikiranku kepada hal-hal yang lebih masuk akal.

Kabel.

Genset.

Panel.

Tegangan.

Arus.

Semua itu jauh lebih mudah dipahami daripada perempuan dengan wajah selebar jendela.

Menjelang siang, kami harus memeriksa sebuah tiang listrik di ujung kampung.

Tiang yang kemarin ditolak Mas Tri untuk diperiksa.

Aku menunjuk ke arah hutan.

"Yang itu?"

Mas Tri mengangguk.

"Iya."

"Kenapa kemarin tidak mau?"

"Karena sudah sore."

"Kalau sekarang?"

"Siang."

Aku menghela napas.

"Jadi masalahnya cuma waktu?"

Mas Tri menatapku.

"Untuk beberapa hal, iya."

Kami berjalan.

Tiang itu berdiri tidak jauh dari sebuah pohon besar.

Aku langsung mengenalinya.

Pohon yang kami lewati saat aku bersama gadis misterius itu.

Aku berhenti.

"Mas."

"Apa?"

"Ini pohon yang kemarin."

Mas Tri melihat pohon tersebut.

"Iya."

Aku merasakan tengkukku dingin.

"Berarti rumah gadis itu dekat sini?"

Mas Tri tidak menjawab.

Aku berjalan mengelilingi pohon.

Tidak ada rumah.

Hanya semak.

Aku melihat ke arah jalan.

Tidak ada.

"Mas."

"Hm?"

"Di sini benar-benar tidak ada rumah?"

"Sudah kubilang."

Aku menggaruk kepala.

"Tapi saya datang ke sini bersama seseorang."

Mas Tri menghela napas.

"Panji."

"Ya?"

"Jangan cari rumah yang tidak ada."

Aku menatapnya.

"Kenapa?"

"Karena nanti kau bisa menemukan sesuatu yang tidak ingin kau temukan."

Aku diam.

Mas Tri mengambil tang.

"Ayo kerja."

Aku mengikutinya.

Tetapi pikiranku tidak lagi berada di kabel.

Ada sesuatu yang menggangguku.

Lihat selengkapnya