Ada dua jenis manusia ketika mendengar suara hantu di malam hari.
Jenis pertama adalah manusia yang langsung berteriak, berlari, dan mencari orang lain.
Jenis kedua adalah manusia yang tetap diam, mencoba berpikir rasional, lalu beberapa detik kemudian melakukan hal yang sama dengan jenis pertama.
Aku termasuk jenis kedua.
Setidaknya selama tiga detik.
Setelah itu aku juga ingin berteriak.
Masalahnya, tenggorokanku seperti sedang mogok kerja.
Aku duduk di atas tempat tidur.
Mataku tertuju pada jendela.
Tirai tertutup.
Suara hujan sudah berhenti.
Kampung benar-benar sunyi.
Lalu suara itu terdengar lagi.
"Panji..."
Aku menggigit bibir.
Aku tidak menjawab.
"Panji..."
Aku tetap diam.
Kemudian terdengar suara kecil dari luar.
"Jangan takut."
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Tetapi karena kalau ada sesuatu di luar jendela yang berkata jangan takut, biasanya justru itulah saat paling tepat untuk takut.
Aku memeluk bantal.
Aku tidak tahu kenapa.
Mungkin bantal bisa menjadi pelindung.
Atau setidaknya teman seperjuangan.
Aku menatap jam.
00.17.
Empat menit terasa seperti empat tahun.
Suara itu tidak terdengar lagi.
Aku menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tidak ada apa-apa.
Aku mulai berpikir mungkin suara itu sudah pergi.
Aku menarik napas lega.
Kemudian...
Tok.
Aku menutup mata.
Tok.
Aku menutup telinga.
Tok.
Aku menarik selimut sampai menutupi kepala.
Aku tidak peduli jika mati kepanasan.
Lebih baik mati karena kekurangan oksigen daripada mati karena melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat manusia.
Beberapa menit berlalu.
Tidak ada lagi suara.
Akhirnya aku memberanikan diri mengintip dari balik selimut.
Jendela tetap tertutup.
Tidak ada apa-apa.
Aku mengambil handphone.
Pesan tadi masih ada.
Jangan buka jendelamu.
Aku memandangi nomor pengirim.
Tidak dikenal.
Aku mencoba membalas.
Siapa?
Pesan gagal terkirim.
Tentu saja.
Sinyal.
Aku hampir tertawa.
Di saat paling penting dalam hidupku, teknologi kembali mengkhianati.
Aku menulis lagi.
Kamu siapa?
Gagal.
Kenapa tahu nama saya?
Gagal.
Aku menatap layar.
"Bagus." Gumamku.
Aku meletakkan handphone.
"Terima kasih, teknologi."
Kemudian aku sadar ada sesuatu yang lebih mengganggu.
Kalau orang di luar tahu namaku...
berarti dia pasti seseorang yang mengenalku.
Atau sesuatu yang sudah memperhatikanku.
Aku tidak tidur sampai pagi.
***
Begitu matahari terbit, aku langsung keluar.
Mas Tri sedang menyapu halaman mess.
Dia melihat wajahku.
Kemudian berhenti.
"Kau kenapa?"
Aku menunjuk kamar.
"Semalam ada yang datang."
Mas Tri langsung berhenti menyapu.
"Sandah?"
Aku menggeleng.
"Bukan."
Mas Tri menatapku.
"Apa maksudmu?"
Aku menceritakan semuanya.
Tentang suara.
Tentang ketukan.
Tentang pesan.
Dan kalimat terakhir:
Aku bukan Sandah.
Mas Tri tidak tertawa.
Tidak bercanda.
Tidak sok tahu.
Dia hanya diam.