Pagi itu aku bangun dengan satu kesimpulan yang sangat tidak menyenangkan.
Aku tidak percaya lagi pada handphone-ku.
Bukan karena rusak.
Bukan karena baterainya boros.
Tetapi karena benda itu sekarang bisa menerima pesan dari sesuatu yang tidak kukenal.
Dan itu jauh lebih mengkhawatirkan daripada baterai cepat habis.
Aku duduk di tepi tempat tidur sambil membaca pesan terakhir.
Jangan datang ke rumah Sandah.
Aku sudah membacanya berkali-kali.
Pesan itu masih ada.
Tidak hilang.
Tidak berubah.
Tidak pula memberikan penjelasan siapa pengirimnya.
Aku mencoba mencari nomor tersebut.
Tidak tersimpan.
Tidak memiliki foto profil.
Tidak ada nama.
Aku mencoba mengirim pesan.
Gagal.
Tidak ada sinyal.
Aku menatap layar.
"Kalau mau meneror orang, setidaknya jangan pakai provider yang susah sinyal."
Aku menghela napas.
Kemudian bangun.
Hari ini aku seharusnya pergi bersama Mas Tri ke rumah Sandah.
Tetapi setelah membaca pesan tadi malam, aku mulai ragu.
Bukan karena takut.
Aku hanya ingin memastikan bahwa kalau nanti aku mati, penyebabnya bukan karena keputusan yang bodoh.
***
Mas Tri sudah menungguku di halaman.
Dia mengenakan pakaian kerja dan membawa tas peralatan.
"Sudah siap?"
Aku mengangguk.
"Siap."
"Berangkat?"
Aku diam.
Mas Tri menatapku.
"Kenapa?"
"Tidak jadi."
Dia mengerutkan dahi.
"Kenapa?"
"Saya berubah pikiran."
"Takut?"
Aku langsung menggeleng.
"Bukan."
"Terus?"
Aku berpikir sebentar.
"Saya sedang mempertimbangkan masa depan."
Mas Tri tertawa.
"Takut."
"Bukan."
"Takut."
"Saya bilang bukan."
"Kalau bukan takut, ayo."
Aku menatapnya.
Kemudian teringat pesan tadi malam.
Dia bukan orang yang seharusnya kau percaya.
Aku merasa bodoh.
Bagaimana mungkin aku percaya pesan dari nomor misterius?
Tetapi bagaimana juga aku bisa mengabaikannya?
Akhirnya aku berkata,
"Mas."
"Hm?"
"Kalau saya tidak ikut, bagaimana?"
Mas Tri menatapku lama.
"Ya sudah."
Aku terkejut.
"Mas tidak marah?"
"Kenapa marah?"
"Biasanya Mas suka memaksa."
Mas Tri mengangkat bahu.
"Kalau kau tidak mau, ya tidak usah."
Aku semakin curiga.
"Mas."
"Apa?"
"Mas memang mau ke rumah Sandah?"
Dia diam.
Kemudian menjawab,
"Aku cuma mau melihat sesuatu."
"Apa?"
"Bekas rumahnya."
Aku menelan ludah.
"Untuk apa?"
"Karena ada sesuatu yang tidak beres."
Aku menatapnya.
"Sejak kapan Mas tahu?"
Mas Tri tidak menjawab.
Aku semakin yakin bahwa lelaki ini menyimpan sesuatu.
Namun sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, seseorang datang dari arah jalan.
Acil Ratna.
Dia membawa keranjang kecil.
"Mas Tri."
"Hm?"
"Amang mencari."
Mas Tri mengangguk.
"Aku ke sana."
Dia pergi.
Aku berdiri sendirian bersama Acil Ratna.
Dia menatapku.
"Kau tidak ikut?"
Aku menggeleng.
"Tidak."
"Kenapa?"
Aku menjawab jujur.
"Takut."
Acil Ratna tersenyum.
Aku terkejut.
"Kenapa tertawa?"
"Karena baru sekarang kau mengaku."
Aku ikut tersenyum.
"Memangnya saya harus malu?"
"Takut itu biasa."
Aku mengangguk.
"Tapi saya tidak mau mati."
Acil Ratna tertawa kecil.
"Bagus."
Dia berjalan menuju rumah.
Aku mengikutinya.