Setelah mendengar ucapan Acil Ratna bahwa Riam Gaib sedang mengenaliku, aku mengambil sebuah keputusan penting.
Aku akan hidup sesederhana mungkin.
Tidak mencari tahu tentang Sandah.
Tidak bertanya tentang gadis misterius.
Tidak membuka pesan aneh.
Tidak pergi ke rumah kosong.
Dan, yang paling penting...
aku tidak akan membuat masalah dengan siapa pun.
Menurutku, itu adalah strategi hidup yang sangat masuk akal.
Kalau kita tinggal di tempat yang kemungkinan dihuni makhluk gaib, jangan mencari perhatian.
Aku bahkan mulai mengurangi kebiasaan menyisir rambut terlalu lama di depan cermin.
Bukan karena takut hantu.
Aku hanya berpikir, mungkin wajah tampanku memang menjadi salah satu penyebab semua ini.
Kalau Sandah tertarik, itu masih bisa dimengerti.
Kalau hantu lain ikut tertarik, aku tidak tahu lagi harus menyalahkan siapa.
Mungkin orang tuaku.
Mungkin genetika.
Mungkin Tuhan memang sedang menguji kesabaran makhluk gaib.
***
Malam itu aku tidur lebih awal.
Pintu sudah dikunci.
Jendela sudah diperiksa.
Kursi sudah kupasang di depan gagang.
Aku bahkan menaruh sapu di samping tempat tidur.
Bukan untuk menyapu.
Untuk berjaga-jaga.
Aku tahu itu tidak masuk akal.
Tetapi setelah melihat wajah selebar jendela, standar masuk akalku sudah mengalami penurunan drastis.
Aku berbaring.
Memejamkan mata.
Tidak ada ketukan.
Tidak ada suara.
Tidak ada pesan.
Tidak ada Sandah.
Aku mulai tersenyum.
"Mungkin malam ini aman."
Kalimat itu baru selesai keluar dari mulutku ketika—
DUAAAAARRRRR!!!
Jendela kamarku meledak.
Aku terlempar dari tempat tidur.
Seketika seluruh kamar dipenuhi suara kaca pecah.
PRANG!
Aku jatuh ke lantai.
Aku tidak tahu apa yang terjadi.
Yang kutahu hanya satu:
Aku masih hidup.
Itu sudah cukup.
Aku merangkak ke bawah meja.
"Ya Allah!"
Debu memenuhi kamar.
Potongan kaca berjatuhan.
Aku memeluk kepala.
"Mas Tri!"
Tidak ada jawaban.
Aku berteriak lagi.
"MAS TRI!"
Dari luar terdengar suara pintu dibuka.
"PANJI!"
"SAYA DI SINI!"
"DI MANA?"
"DI BAWAH MEJA!"
Mas Tri muncul di pintu.
Dia menatapku.
Kemudian menatap jendela.
Kemudian kembali menatapku.
"Kenapa kau di bawah meja?"
Aku menjawab jujur.
"Karena saya belum siap mati."
Mas Tri menggeleng.
"Keluar."
Aku merangkak.
"Pelan-pelan."
"Kenapa?"
"Masih ada kaca."
Aku melihat lantai.
Benar.
Kaca berserakan di mana-mana.
Aku keluar dari bawah meja.
Mas Tri mendekati jendela.
Aku ikut berdiri di belakangnya.
Jendela yang pernah menjadi tempat Sandah menatapku kini sudah tidak berbentuk.
Kacanya pecah.
Kayunya retak.
Tirai robek.
Namun yang paling aneh...
tidak ada apa pun di luar.
Tidak ada batu.
Tidak ada dahan.
Tidak ada benda yang mungkin menjadi penyebab ledakan.
Mas Tri menyenter halaman.
Kosong.
Aku menelan ludah.
"Mas."
"Hm?"
"Ini korsleting?"
Mas Tri menoleh.
"Korsleting tidak membuat kaca meledak seperti itu."
Aku mengangguk.
"Benar juga."
Aku berpikir sebentar.
"Berarti..."
Mas Tri menatapku.
"Santet."
Aku langsung menoleh.
"Apa?"
Mas Tri mengucapkannya pelan.
"Santet."
Aku menatapnya.
Kemudian jendela.
Kemudian Mas Tri lagi.
"Mas..."
"Hm?"
"Santet itu yang bagaimana?"
Mas Tri mengangkat bahu.
"Ya santet."
"Saya tahu namanya santet."
"Terus?"
"Saya kira ada bentuknya."
Mas Tri mengerutkan dahi.
"Memangnya santet punya katalog?"
Aku mengangguk pelan.
"Saya cuma belum pernah lihat."
Mas Tri menatapku sejenak.
"Kalau kau mau melihat, nanti kau mati."