Setelah kejadian jendela meledak, aku mulai memiliki kebiasaan baru.
Setiap kali berjalan, aku melihat ke belakang.
Setiap kali masuk kamar, aku memeriksa jendela.
Setiap kali mendengar suara perempuan, aku pura-pura tidak mendengar.
Dan setiap kali ada sesuatu bergerak di semak-semak, aku langsung menganggapnya sebagai urusan alam.
Kalau ternyata hantu, biarlah hantu itu merasa tidak dihargai.
Aku sudah terlalu banyak masalah.
Aku tidak ingin menambah masalah dengan mengakui keberadaan mereka.
Sayangnya, Riam Gaib tidak pernah bertanya apakah aku sedang ingin menambah masalah atau tidak.
Ia hanya memberikannya.
***
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku melihat seorang gadis.
Pertama kali aku melihatnya di dekat sungai.
Aku sedang membantu Mas Tri memperbaiki kabel yang menuju rumah-rumah warga.
Saat sedang mengencangkan baut, mataku menangkap sosok perempuan di seberang sungai.
Dia berdiri di bawah pohon.
Sendirian.
Rambutnya panjang.
Pakaiannya sederhana.
Dan wajahnya...
cantik.
Sangat cantik.
Aku berhenti bekerja.
Mas Tri langsung menegur.
"Panji."
"Hm?"
"Baut."
Aku melihat tanganku.
Aku ternyata sedang memegang tang.
"Bautnya mana?"
Mas Tri menunjuk ke bawah.
Aku tertawa.
"Oh."
Kemudian aku kembali melihat ke seberang sungai.
Gadis itu masih berdiri di sana.
Dia sedang memandangku.
Aku mengangkat tangan.
Dia tidak membalas.
Aku tersenyum.
Dia tetap diam.
Aku menunjuk diriku sendiri.
Dia mengangguk pelan.
Aku menunjuk ke arahnya.
Dia juga mengangguk.
Aku mulai berpikir bahwa mungkin kali ini aku berurusan dengan manusia.
Aku berkata kepada Mas Tri,
"Mas."
"Apa?"
"Kenal gadis itu?"
Mas Tri mengikuti arah pandanganku.
Begitu melihatnya, wajahnya langsung berubah.
"Ayo."
"Ke mana?"
"Kerja."
"Tapi..."
"Panji."
"Hm?"
"Jangan dekati."
Aku mengerutkan dahi.
"Kenapa?"
Mas Tri kembali bekerja.
"Jangan."
Aku menatapnya.
"Mas mengenalnya?"
"Kenal."
"Siapa?"
Mas Tri diam.
Aku menunggu.
Akhirnya dia berkata,
"Nyi Sari."
Nama itu terdengar aneh di telingaku.
"Nyi?"
"Iya."
"Namanya Sari?"
"Iya."
Aku kembali melihat ke seberang sungai.
Gadis itu masih di sana.
Namun sekarang dia tidak lagi melihatku.
Dia melihat ke arah sungai.
"Dia warga sini?"
Mas Tri mengangguk.
"Katanya."
Aku menoleh.
"Katanya?"
Mas Tri menghela napas.
"Kau jangan terlalu banyak bertanya."
Aku mulai kesal.
"Mas, semua orang di sini kalau ditanya selalu jawabnya 'katanya'."
Mas Tri tertawa.
"Karena kalau kita benar-benar tahu, biasanya kita jadi takut."
Aku kembali melihat seberang sungai.
Nyi Sari sudah tidak ada.
Aku terdiam.
"Mas."
"Hm?"
"Dia hilang."
Mas Tri tidak melihat.