PULANG

Raihan Langit
Chapter #11

Bab 10 : Sesuatu yang Menjagaku

Sejak kemunculan Nyi Sari, aku mulai mengalami masalah baru.

Aku menjadi sering melihat ke belakang.

Bukan karena takut.

Aku hanya ingin memastikan apakah ada perempuan cantik yang sedang memandangiku dari kejauhan.

Sebagai lelaki tampan, tentu saja aku harus menjaga hubungan baik dengan para pengagum.

Masalahnya, di Riam Gaib, definisi pengagum ternyata belum tentu sama dengan definisi pengagum di kota.

Di kota, perempuan cantik yang memandangimu dari jauh biasanya membuatmu percaya diri.

Di Riam Gaib, perempuan cantik yang memandangimu dari jauh justru membuatmu bertanya:

Dia manusia atau bukan?

Dan itu adalah pertanyaan yang sangat tidak romantis.

***

Beberapa hari berlalu tanpa kejadian.

Tidak ada Sandah.

Tidak ada pesan.

Tidak ada jendela pecah.

Tidak ada gadis misterius.

Aku mulai merasa kehidupan kembali normal.

Aku bahkan mulai percaya bahwa semua kejadian sebelumnya mungkin hanya kebetulan.

Sampai suatu malam...

aku sedang makan mi instan.

Sendirian.

Di dalam kamar.

Hujan tidak turun.

Angin hampir tidak ada.

Suasana sangat tenang.

Aku baru saja hendak mengambil telur ketika—

BRUUUAAAKKKKK!!!

Atap mess bergetar.

Aku langsung terlonjak.

Mangkuk mi terlempar.

Telur jatuh ke lantai.

Dan sesuatu menghantam atap tepat di atas kamarku.

DUAAARRR!

Aku berdiri.

"Apa itu?!"

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara benda berguling di atas atap.

Grrr... grrr...

Aku menatap langit-langit.

Suaranya berhenti tepat di atas kepalaku.

Aku tidak bergerak.

Kemudian—

DUAAARRR!

Atap kembali bergetar.

Aku langsung berlari keluar.

"MAS TRI!"

Pintu kamar sebelah terbuka.

Mas Tri keluar sambil membawa senter.

"Apa?!"

"Atap!"

Dia melihat ke atas.

Kemudian terdengar suara lagi.

DUK!

Sesuatu menghantam atap.

Mas Tri mundur.

"Mas..."

"Hm?"

"Itu apa?"

Dia menatapku.

"Aku tidak tahu."

Aku hampir lega.

Setidaknya kali ini dia jujur.

***

Amang Julak dan beberapa warga datang.

Mereka memeriksa sekitar mess.

Di atas tanah, tepat di bawah bagian atap yang rusak, ditemukan sebuah benda.

Sebuah bungkusan kecil yang terbuat dari kain hitam.

Amang Julak mengambilnya menggunakan sebatang kayu.

Wajahnya langsung berubah.

"Jangan sentuh."

Aku mengangguk cepat.

"Apa itu?"

Dia tidak menjawab.

Mas Tri menatapnya.

"Sama seperti yang kemarin?"

Amang Julak mengangguk.

Aku menatap mereka.

"Jadi benar santet?"

Amang Julak diam.

Aku menunjuk atap.

"Ini yang kedua."

"Iya."

"Kenapa?"

Dia menatapku.

"Kau tidak merasa ada yang aneh?"

Aku berpikir.

"Atap saya bocor?"

Mas Tri tertawa.

Amang Julak tidak.

Dia justru melihat ke arah atap.

Kemudian ke arahku.

"Seharusnya kau sudah terkena."

Aku mengerutkan dahi.

Lihat selengkapnya