Sejak malam ketika atap mess dihantam sesuatu, aku mulai memiliki keyakinan baru.
Aku mungkin memang memiliki pelindung.
Entah siapa.
Entah apa.
Dan entah kenapa dia melindungiku.
Aku tidak tahu.
Tetapi setelah dua kali serangan gagal mengenai tubuhku, ditambah pesan misterius yang selalu muncul setelah kejadian aneh, aku mulai merasa ada sesuatu yang bekerja di belakang layar.
Masalahnya, aku tidak tahu siapa sutradaranya.
Dan aku jelas tidak pernah mendaftar menjadi pemeran utama.
***
Malam itu aku kembali tidur di kamarku sendiri.
Mas Tri sebenarnya menyuruhku tidur di kamarnya lagi.
Namun aku menolak.
Bukan karena berani.
Aku hanya merasa tidak enak terus-menerus menumpang.
Lagipula, aku sudah mulai merasa malu.
Seorang lelaki dewasa tidur di kamar orang lain setiap malam karena takut hantu bukanlah sesuatu yang bagus untuk dimasukkan ke dalam riwayat hidup.
Aku sudah memeriksa jendela tiga kali.
Pintu dua kali.
Bawah tempat tidur sekali.
Atas lemari dua kali.
Kemudian aku duduk di tempat tidur.
"Sudah."
Aku menarik napas.
"Malam ini saya tidur."
Aku mematikan lampu.
Kamar menjadi gelap.
Aku berbaring.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tidak ada apa-apa.
Aku tersenyum.
"Mungkin sudah selesai."
Kemudian terdengar suara dari luar.
Tok.
Aku membuka mata.
Aku tidak bergerak.
Tok.
Aku menarik selimut.
Aku sudah tahu pola ini.
Ketukan ketiga biasanya menjadi masalah.
Aku menunggu.
Tidak ada ketukan.
Aku menghela napas lega.
Mungkin hanya ranting.
Kemudian terdengar suara perempuan.
"Panji..."
Aku langsung duduk.
Suara itu.
Aku mengenalnya.
Sandah.
Aku menatap jendela.
"Sandah?"
Tidak ada jawaban.
Aku turun dari tempat tidur.
Pelan-pelan.
Aku mendekati jendela.
Aku tidak membukanya.
Aku hanya berdiri beberapa langkah dari sana.
Kemudian suara itu terdengar lagi.
"Panji..."
Aku menelan ludah.
"Apa?"
Hening.
Lalu...
"Keluar."
Aku menggeleng.
"Tidak."
Suara itu berubah.
Lebih berat.
Lebih dalam.
"Keluar."
Aku tetap diam.
Kemudian terdengar suara kuku menggores kaca.
Krrrreeeekkk...
Aku mundur.
Dan perlahan...
sebuah wajah muncul di balik jendela.
Wajah Sandah.
Wajah yang sudah kukenal.
Wajah yang terlalu besar untuk jendela.
Matanya menatap lurus kepadaku.
Aku tidak berteriak.
Entah kenapa.
Aku hanya berdiri.
Kami saling memandang.
Beberapa detik.
Kemudian sesuatu yang aneh terjadi.
Sandah mundur.
Bukan menghilang, bukan menyerang.
Dia benar-benar mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Aku mengerutkan dahi.
"Sandah?"
Dia tetap menatapku.
Namun wajahnya berubah.