PULANG

Raihan Langit
Chapter #13

Bab 12 : Nama dari Mulut yang Salah

Pagi itu sebenarnya dimulai dengan sangat normal.

Aku bangun.

Mandi.

Minum kopi.

Menyisir rambut, lalu berangkat kerja bersama Mas Tri.

Hari ini tidak ada suara ketukan.

Tidak ada jendela meledak.

Tidak ada pesan misterius.

Dan yang paling penting...

tidak ada wajah selebar jendela.

Aku mulai berpikir mungkin kehidupan di Riam Gaib akhirnya sedang berdamai denganku.

Ternyata aku terlalu cepat berharap.

Menjelang siang, suara orang berteriak terdengar dari arah ujung kampung.

"Panji!"

Aku yang sedang memperbaiki kabel langsung menoleh.

Mas Tri juga.

"Kau kenal?"

Aku menggeleng.

Suara itu terdengar lagi.

Bukan memanggil.

Lebih seperti orang panik.

"PANJI!"

Mas Tri langsung berdiri.

"Ayo."

Aku mengikutinya.

Kami berlari menuju kerumunan warga.

Semakin dekat, semakin banyak orang berkumpul.

Beberapa perempuan berdiri di depan sebuah rumah.

Ada yang menangis.

Ada yang membaca doa.

Ada yang hanya berdiri sambil berbisik.

Aku melihat seorang gadis muda duduk di tengah ruangan.

Usianya mungkin sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun.

Rambutnya berantakan.

Wajahnya pucat.

Dua orang perempuan memegangi bahunya.

Seorang lelaki tua sedang membaca doa di dekatnya.

Aku berhenti di pintu.

Mas Tri menatapku.

"Jangan masuk dulu."

"Kenapa?"

"Diam."

Aku mengangguk.

Gadis itu tiba-tiba berhenti bergerak.

Semua orang diam.

Kemudian dia mengangkat kepala.

Matanya terbuka.

Tatapannya kosong.

Sangat kosong.

Aku merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tengkuk.

Gadis itu melihat ke arah pintu.

Tepat kepadaku.

Aku menunjuk diriku sendiri.

Dia mengangguk.

Kemudian bibirnya bergerak.

"Panji..."

Aku membeku.

Mas Tri menoleh kepadaku.

Aku menelan ludah.

Gadis itu mengulanginya.

"Panji..."

Suaranya berbeda.

Lebih berat.

Lebih dalam.

Bukan suara seorang gadis remaja.

Aku mundur satu langkah.

"Mas..."

"Hm?"

"Dia kenal saya?"

Mas Tri tidak menjawab.

Gadis itu tiba-tiba tersenyum.

Bukan senyum biasa.

Senyumnya terlalu tenang.

Kemudian dia berkata,

"Panji..."

Aku merinding.

"Jangan."

Aku tidak tahu kenapa aku berkata begitu.

Lihat selengkapnya