Sejak kejadian gadis yang kesurupan itu, ada satu hal yang berubah dalam diriku.
Aku mulai takut mendengar namaku sendiri.
Dulu, mendengar seseorang memanggil "Panji" adalah hal biasa.
Sekarang, setiap kali namaku terdengar di malam hari, aku akan berhenti bergerak dan bertanya kepada diri sendiri:
Siapa yang memanggil?
Dan yang lebih penting...
apakah orang lain juga mendengarnya?
***
Malam itu aku duduk di teras mess bersama Mas Tri.
Lampu teras menyala redup.
Serangga malam berputar-putar mengelilinginya.
Mas Tri sedang memperbaiki sesuatu di tas peralatan.
Aku hanya duduk sambil minum kopi.
Suasana cukup tenang.
Sampai tiba-tiba aku mendengarnya.
"Panji..."
Aku langsung menoleh.
Hutan di depan kami gelap.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku menatap Mas Tri.
Dia masih sibuk dengan peralatannya.
"Mas."
"Hm?"
"Kau dengar?"
"Dengar apa?"
Aku terdiam.
"Suara."
Mas Tri mengangkat wajah.
"Suara apa?"
Aku menunjuk hutan.
"Ada yang memanggil."
Mas Tri melihat ke sana.
Kemudian kembali kepadaku.
"Siapa?"
Aku menggeleng.
"Tidak tahu."
Dia berdiri.
Aku ikut berdiri.
Kami sama-sama melihat ke arah hutan.
Tidak ada apa-apa.
Aku mulai merasa bodoh.
Mungkin aku hanya berhalusinasi.
Mas Tri duduk kembali.
"Kau terlalu banyak mikir."
Aku mengangguk.
"Iya."
Aku duduk.
Kemudian suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih dekat.
"Panji..."
Aku langsung berdiri.
Mas Tri menatapku.
"Kenapa?"
Aku menunjuk hutan.
"Itu."
"Apa?"
"Suara itu."
Mas Tri diam.
Dia mendengarkan.
Beberapa detik.
Tidak ada apa-apa.
"Aku tidak dengar."
Aku menatapnya.
"Serius?"
"Iya."
Aku mulai merasakan sesuatu yang dingin di tengkuk.
Suara itu terdengar lagi.
"Panji..."
Kali ini tepat di belakangku.
Aku langsung berbalik.
Kosong.
Mas Tri ikut menoleh.
"Ada apa?"
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menatap halaman.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku perlahan duduk kembali.
Mas Tri memperhatikanku.
"Pan..."
"Iya?"
"Kau yakin?"
Aku mengangguk.
"Yakin."
"Suara siapa?"
Aku menggeleng.
"Tidak tahu."
Mas Tri diam sebentar.
Kemudian berkata,
"Kalau kau dengar lagi, jangan jawab."
Aku menatapnya.
"Kenapa?"