PULANG

Raihan Langit
Chapter #15

Bab 14 : Jangan Keluar

Aku mulai memiliki aturan baru di Riam Gaib.

Kalau mendengar namaku dipanggil dari arah hutan, jangan menjawab.

Kalau mendengar ketukan di jendela, jangan membuka.

Kalau melihat seseorang berdiri sendirian di tempat yang seharusnya tidak ada orang, jangan langsung mendekat.

Dan kalau Mas Tri berkata, "Tenang saja," justru aku harus mulai panik.

Karena berdasarkan pengalamanku selama tinggal di kampung ini, kalimat tersebut biasanya muncul beberapa menit sebelum sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi.

***

Pagi itu aku pergi ke warung.

Warung kecil di ujung kampung menjadi salah satu tempat favoritku. Bukan karena makanannya luar biasa, justru sebaliknya.

Menu sarapan di sana sangat sederhana.

Nasi.

Telur.

Kopi.

Sesekali ikan sungai.

Tetapi setidaknya di warung itu aku bisa melihat banyak manusia, untuk sementara, aku membutuhkan sebanyak mungkin manusia di sekitarku.

Aku sedang minum kopi ketika seorang ibu bertanya,

"Panji."

Aku menoleh.

"Iya, Bu?"

"Katanya semalam kau dengar suara lagi?"

Tanganku berhenti.

"Siapa yang cerita?"

Ibu itu menunjuk ke arah Mas Tri.

Aku menoleh.

Mas Tri sedang makan nasi dengan wajah tidak berdosa.

"Mas!"

Dia menatapku.

"Hm?"

"Kenapa cerita?"

"Aku tidak cerita."

"Terus?"

Dia menunjuk seorang bapak di sebelahnya.

"Bapak itu yang dengar."

Bapak tersebut langsung mengangkat tangan.

"Saya cuma dengar dari orang lain."

Aku menghela napas.

Dalam waktu lima menit, informasi tentang satu suara misterius sudah berkeliling kampung.

Hebat.

Sinyal telepon tidak ada.

Tetapi gosip mampu mencapai seluruh desa tanpa hambatan.

Aku mulai curiga jaringan komunikasi Riam Gaib memang menggunakan tenaga gaib.

***

Seorang anak kecil yang duduk di pojok warung tiba-tiba berkata,

"Bang Panji."

Aku menoleh.

"Iya?"

"Semalam ada perempuan di depan rumah Abang."

Aku berhenti minum.

"Perempuan?"

Anak itu mengangguk.

"Rambut panjang."

Mas Tri langsung menatapku.

Aku bertanya,

"Siapa?"

Anak itu menjawab,

"Nyi Sari."

Aku menghela napas.

"Dia bilang apa?"

Anak itu menggeleng.

"Diam saja."

"Terus?"

"Dia cuma melihat rumah Abang."

Aku terdiam.

Mas Tri menyentuh lenganku.

"Sudahlah."

Aku menoleh.

"Kenapa?"

"Jangan dipikirkan."

Aku mengangguk.

Tetapi pikiranku justru semakin penuh.

***

Sore hari aku melihat Nyi Sari lagi.

Kali ini dia berdiri di seberang lapangan.

Jarak kami cukup jauh.

Dia mengenakan pakaian sederhana.

Rambut panjangnya tertiup angin.

Dan seperti biasa...

dia memandangiku.

Aku berhenti berjalan.

"Nyi Sari!"

Dia tidak menjawab.

Aku melangkah mendekat.

Dia tetap diam.

"Nyi!"

Aku berjalan lagi.

Lima meter.

Tiga meter.

Dua meter.

Lihat selengkapnya