Ada satu pekerjaan yang paling tidak kusukai sebagai petugas PLN.
Bukan memanjat tiang. Bukan menghadapi hujan.
Bukan pula menghadapi warga yang menganggap listrik mati adalah kesalahan pribadi petugas PLN.
Yang paling tidak kusukai adalah menebang pohon yang terlalu dekat dengan jaringan listrik.
Karena pohon tidak pernah mengerti prosedur keselamatan kerja.
Dan lebih buruk lagi, pohon tidak pernah bisa diajak bernegosiasi.
Pagi itu aku dan Mas Tri bertugas merintis beberapa pohon di dekat jaringan listrik.
Lokasinya agak masuk ke dalam hutan.
Aku membawa parang.
Mas Tri membawa gergaji mesin.
Sejak berangkat, Mas Tri sudah memberikan ceramah keselamatan kerja.
"Jangan berdiri di bawah pohon."
"Iya."
"Jangan menebang sebelum memastikan arah jatuh."
"Iya."
"Jangan main-main."
"Iya."
"Dan kalau aku bilang lari..."
Aku mengangguk.
"...lari."
Aku menatapnya.
"Mas."
"Hm?"
"Mas pernah ikut pelatihan jadi instruktur keselamatan?"
"Belum."
"Terus kenapa hafal sekali?"
Mas Tri tersenyum.
"Karena aku pernah hampir mati."
Aku langsung diam.
"Serius?"
"Serius."
"Karena pohon?"
"Karena istri."
Aku menatapnya.
"Hubungannya?"
"Jangan tanya."
Aku tertawa.
Kemudian kami mulai bekerja.
***
Pohon pertama berhasil kami tumbangkan.
Pohon kedua juga.
Pohon ketiga ternyata jauh lebih besar.
Batangnya cukup tebal dan sebagian dahannya sudah mendekati jaringan listrik.
Mas Tri memeriksa keadaan sekitar.
"Panji."
"Iya?"
"Kau bersihkan bagian bawah."
Aku mengangguk.
Aku mulai menebas semak-semak.
Parangku mengenai ranting keras.
Tak!
Pantulannya membuat tanganku sedikit bergetar kesemutan.
Aku mencoba lagi.
Tak!
Kali ini ujung ranting patah.
Tetapi serpihan kayu mengenai punggung tanganku.
Aku melihat luka kecil, tidak dalam.
Hanya goresan.
Namun darah mulai keluar.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Mas Tri menoleh.
"Kenapa?"
"Kena ranting."
"Parah?"
Aku melihat tanganku.
"Enggak."
Aku mengusap darah dengan jari.
“Hati-hati.” Mas Tri kembali bekerja, "jangan sampai masuk ke jaringan."
Aku tertawa.
"Yang luka tangan saya, Mas."
"Maksudku jangan sampai kau mengotori peralatan."
Aku menggeleng.
Dasar.
Aku membiarkan tanganku menggantung.
Agak nyeri, darah perlahan mengalir.
Setetes, kemudian setetes lagi.
Sampai akhirnya...
jatuh ke tanah.
Tik.
Aku tidak tahu kenapa.
Tetapi saat tetesan darah itu menyentuh tanah...
aku tiba-tiba merasakan hawa dingin.
Bukan angin, tapi sesuatu yang lain.