PULANG

Raihan Langit
Chapter #17

Bab 16 : Tanah yang Tidak Pernah Lupa

Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak banyak bicara.

Mas Tri juga demikian. Hanya suara langkah kaki kami yang terdengar di antara pepohonan.

Sesekali suara burung, sesekali ranting patah karena diinjak.

Dan sesekali...

aku merasa ada sesuatu yang berjalan di belakang kami.

Aku tidak menoleh.

Bukan karena berani.

Aku hanya teringat pesan dari suara misterius itu:

Jangan takut.

Dan satu lagi:

Jangan percaya siapa pun.

Masalahnya, aku mulai bingung.

Kalau aku tidak boleh percaya siapa pun...

bagaimana caranya aku tahu kepada siapa aku harus percaya?

***

Ketika sampai di mess, Amang Julak ternyata sudah menunggu bersama Acil Ratna.

Begitu melihat tanganku yang dibalut kain, Acil Ratna langsung berdiri.

"Panji."

"Ya, Cil?"

"Kenapa?"

"Cuma luka kecil."

Amang Julak mendekat.

"Bagaimana bisa terluka?"

"Tergores ranting."

Acil Ratna melihat Mas Tri.

"Benar?"

Mas Tri mengangguk.

Amang Julak kemudian bertanya,

"Di mana?"

"Di hutan sebelah timur."

Wajahnya berubah.

"Pohon yang dekat jaringan?"

Aku mengangguk.

"Kenapa, Mang?"

Amang Julak tidak menjawab, dia justru menatap tanganku.

"Buka."

Aku membuka balutan.

Lukanya memang kecil.

Hanya goresan.

Tetapi Amang Julak memegang pergelangan tanganku dan melihatnya lama.

Kemudian dia berkata,

"Masih keluar darah?"

"Sudah berhenti."

"Ketika jatuh ke tanah?"

Aku mengerutkan dahi.

"Maksud Amang?"

"Ketika darahmu menyentuh tanah."

Aku terdiam.

Mas Tri langsung menoleh kepadaku.

Aku menghela napas.

"Amang tahu?"

"Justru aku yang bertanya."

Aku mengangguk. "Iya."

"Dan?"

Aku ragu.

"Ada suara."

Acil Ratna langsung berhenti bergerak, Amang Julak menatapku tajam.

"Suara apa?"

Aku menjawab pelan,

"Macam-macam."

"Jelaskan."

"Desisan."

Aku menghitung dengan jari.

"Tawa."

"Juga tangisan."

Amang Julak diam.

Aku melanjutkan,

"Dan ada yang memanggil nama saya."

"Siapa?"

Aku menggeleng.

"Saya tidak tahu."

"Mas Tri mendengar?"

Amang Julak menoleh kepadanya.

Mas Tri menggeleng.

"Enggak ada."

Amang Julak kemudian memandang Acil Ratna.

Mereka saling bertatapan.

Tatapan yang membuatku merasa mereka sedang membicarakan sesuatu tanpa suara.

Aku akhirnya berkata,

"Amang."

"Hm?"

"Ada apa sebenarnya?"

Amang Julak duduk.

Acil Ratna ikut duduk.

Mas Tri berdiri di belakangku.

Lihat selengkapnya