Pagi-pagi sekali aku sudah berada di rumah Amang Julak. Bukan karena ingin sarapan. Bukan pula karena ingin minum kopi. Aku datang karena semalam aku menemukan tanah hitam di telapak tanganku.
Dan aku tidak bisa menghilangkannya.
Sudah kucuci, kugosok dengan sabun, kusiram air panas.
Bahkan sempat terpikir untuk mengamplas telapak tanganku.
Untung saja aku masih waras.
Sedikit waras.
Aku duduk di teras rumahnya sambil memperhatikan telapak tanganku.
Amang Julak keluar membawa kopi.
Begitu melihat tanganku, langkahnya berhenti.
"Kau dapat dari mana?"
Aku mengangkat tangan.
"Tidak tahu."
Dia mendekat.
Kemudian wajahnya berubah.
"Kenapa, Mang?"
Dia tidak menjawab.
"Mang?"
"Ini tanah."
"Saya juga tahu."
"Maksudku..."
Dia berhenti.
"...tanah ini bukan dari sekitar mess."
Aku mengerutkan dahi.
"Terus dari mana?"
Amang Julak menatapku.
"Dari sungai."
Aku langsung diam.
"Sungai?"
Dia mengangguk.
"Tanah dari sungai yang mana?"
Dia tidak menjawab.
Aku mulai curiga.
"Amang."
"Hm?"
"Amang tahu sesuatu."
Dia menyeruput kopi.
"Aku tahu banyak hal."
"Termasuk soal saya?"
Tangannya berhenti.
Aku langsung tahu.
Kena.
Aku mendekat.
"Amang."
Dia diam.
"Amang tahu sesuatu tentang saya."
"Belum tentu."
Aku menghela napas.
"Jangan mulai, Mang."
Amang Julak tertawa kecil.
Namun matanya tetap serius.
***
Tidak lama kemudian Mas Tri datang.
Dia melihatku.
"Kau sudah di sini?"
"Iya."
"Ngapain?"
Aku menunjukkan telapak tangan.
"Ini."
Mas Tri melihat kemudian tertawa.
"Belum hilang?"
"Belum."
"Jangan-jangan kau tidak mandi."
Aku menatapnya.
"Saya mandi."
"Sabun?"
"Iya."
"Shampo?"
"Ini telapak tangan, Mas."
Amang Julak tertawa.
Acil Ratna yang sedang menyapu ikut tersenyum, untuk beberapa saat suasana menjadi ringan.
Namun kemudian Amang Julak berkata,
"Panji."
"Iya, Mang?"
"Duduklah."
Aku langsung duduk tegak.
Mas Tri ikut diam.
Acil Ratna berhenti menyapu.
Amang Julak menatapku.
"Aku akan menceritakan sesuatu."
Aku menunggu.
"Ketika kau pertama kali datang ke Riam Gaib..."
Dia berhenti.
"...aku sudah merasa ada yang berbeda."
Aku mengangkat alis.
"Karena saya tampan?"
Mas Tri langsung tertawa.
Acil Ratna menutup wajah, bahkan Amang Julak tersenyum.
"Masih sempat bercanda."
"Maaf, Mang."
Amang Julak melanjutkan.
"Bukan itu."
Aku diam.
"Ketika kau pertama kali berjabat tangan denganku..."
Dia melihat telapak tanganku.
"...aku merasakan sesuatu."
"Apa, Mang?"
"Hangat."
Aku mengerutkan dahi.
"Semua tangan manusia hangat, Mang."
"Bukan hangat biasa."
Aku terdiam.
"Seperti apa, Mang?"
Amang Julak menggeleng.
"Aku tidak bisa menjelaskannya."
Mas Tri bertanya,
"Terus apa hubungannya dengan darah?"
Amang Julak memandangnya.
"Belum tahu."
Aku langsung menyela.
"Jadi Amang sebenarnya tidak tahu?"
Dia tersenyum.
"Belum."
Aku menghela napas.
"Syukurlah."
"Kenapa?"
"Saya takut Amang mulai bilang 'entahlah' lagi."
Semua tertawa.
Namun tawa itu berhenti ketika Acil Ratna berkata,
"Amang..."
Dia menunjuk telapak tanganku.
"Noda itu."
Kami semua melihat.
Noda tanah hitam yang sejak tadi melekat di telapak tanganku... perlahan berubah.
Warna hitamnya memudar.
Kemudian muncul garis tipis seperti guratan.
Aku menatapnya.
"Ini apa?"
Tidak ada yang menjawab.
Guratan itu membentuk pola.
Seperti...
sebuah lingkaran.
Di dalamnya terdapat tiga garis menyerupai akar pohon.
Amang Julak langsung berdiri.
"Kau pernah melihat ini?"
Aku menggeleng.
"Tidak."
Dia menatap Acil Ratna.
Acil Ratna juga tampak pucat.
"Amang?"
Dia tidak menjawab.
Aku mulai tidak sabar.
"Amang!"
Akhirnya dia berkata,
"Panji..."
"Iya, Mang?"